Lompat ke isi

Manusia

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Manusia adalah salah satu jenis makhluk hidup yang memiliki akal dan kehendak bebas.

Tentang asal mula[sunting]

Tentang keberadaan[sunting]

  • "Kita adalah tamu tetap di dunia ini. Setelah mendapat pelajaran, kita dipanggil ke tempat berbeda, dan kita pun meninggal. Namun, pelajaran umum umat manusia terus berlanjut, sangat lambat tapi tanpa ada gangguan."
  • "Dalam skema dunia, orang tak lebih dari biji pinus, atau tanaman lemah, atau sejumlah kecil rumput rawa, tapi ia adalah rumput yang memiliki kecerdasan."
    • Dikemukakan oleh Blaise Pascal.
    • Dikutip dari Tolstoy, Leo (2010) Kalender Kata-Kata Bijak: Sumber Inspirasi Harian yang Tak Lekang Zaman [A Calendar of Wisdom] Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Halaman 178. ISBN 978-979-22-6545-3.

Tentang manusia yang kasihan[sunting]

  • "Kasihan manusia itu. Andai manusia memiliki rasa takut dengan neraka sebagaimana rasa takutnya dengan kemiskinan niscaya dia akan masuk surga."
  • "Manusia, yang adalah murid alam, seharusnya tidak menjadi sepotong lilin yang dipahat menjadi mitra sejumlah profesor yang ditinggikan."
  • "Salomo dan Ayub tahu serta bicara dengan bijak mengenai tak bergunanya kehidupan manusia. Yang pertama adalah orang paling bahagia, dan yang kedua adalah orang paling sengsara dunia. Yang satu mengetahui kenikmatan luar biasa, yang lain realitas kemalangan."
    • Dikemukakan oleh Blaise Pascal.
    • Dikutip dari Tolstoy, Leo (2010) Kalender Kata-Kata Bijak: Sumber Inspirasi Harian yang Tak Lekang Zaman [A Calendar of Wisdom] Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Halaman 187. ISBN 978-979-22-6545-3.

Tentang kesempurnaan[sunting]

  • "Menjadi manusia adalah suatu seni."
    • Dikemukakan oleh Novalis.
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 128.

Tentang sifat[sunting]

  • "Manusia itu rendah hati. Ia hampir tidak bisa berkata: Aku ada, maka aku berpikir."
  • "Setiap kebenaran memiliki asal muasal dalam Tuhan. Saat terwujud dalam manusia, itu bukan karena berasal dari diri manusia, tapi karena manusia itu memiliki kuantitas transparansi sehingga bisa mengungkapkannya."
    • Dikemukakan oleh Blaise Pascal.
    • Dikutip dari Tolstoy, Leo (2010) Kalender Kata-Kata Bijak: Sumber Inspirasi Harian yang Tak Lekang Zaman [A Calendar of Wisdom] Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Halaman 183. ISBN 978-979-22-6545-3.
  • "Manusia adalah makhluk sosial, sehingga ia ingin bersama."
    • Dikemukakan oleh Aristoteles.
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. DIsunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 22.
  • "Setiap orang memiliki individualitas."
    • Dikemukakan oleh Martinus Jan Langeveld.
    • Dikutip dari Tirtarahardja, U., dan Sulo. S. L. L. (2010) Pengantar Pendidikan Edisi Revisi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hlm. 18.
  • "Manusia adalah hewan yang sakit."
    • Dikemukakan oleh Max Scheler.
    • Dikutip dari Tirtarahardja, U., dan Sulo. S. L. L. (2010) Pengantar Pendidikan Edisi Revisi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hlm. 310.

Tentang pemikiran[sunting]

  • "Kembalilah ke hakikat kita."
  • "Lihatlah ke sekelilingmu. Apa yang orang-orang di dunia pikirkan mengenainya? Mereka memikirkan segala sesuatu kecuali yang penting. Mereka memikirkan dansa, musik, dan bernyanyi. Mereka memikirkan rumah, kekayaan, dan kekuasaan. Mereka iri dengan kekayaan orang kaya dan raja, tapi mereka sama sekali tidak memikirkan apa arti menjadi manusia."
    • Dikemukakan oleh Blaise Pascal.
    • Dikutip dari Tolstoy, Leo (2010) Kalender Kata-Kata Bijak: Sumber Inspirasi Harian yang Tak Lekang Zaman [A Calendar of Wisdom] Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Halaman 74. ISBN 978-979-22-6545-3.
  • "Manusia memang tidak dapat mengetahui semua hal, tapi setiap orang tahu apa yang patut dimengertinya."
    • Dikemukakan oleh Gustav Freytag.
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 129.
  • "Manusia cenderung tidak mempercayai segala kebenaran baru sampai mereka benar-benar mengalami sendiri."
    • Dikemukakan oleh Niccolò Machiavelli.
    • Dikutip dari Kasali, Rhenald (2007) Re-Code Your Change DNA: Membebaskan Belenggu-Belenggu untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan dalam Pembaharuan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 212. ISBN 978-979-22-2589-1
  • "Ketika manusia lahir, pikiran manusia seperti kertas kosong yang menunggu untuk ditulisi oleh pengalaman di dunia selama hidupnya."
    • Dikemukakan oleh John Locke.
    • Sumber kutipan: Yuana, Kumara Ari (2010). The Greatest Philosophers: 100 Tokoh FIisuf Barat dari Abad 6 SM - Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Hlm. 168
  • "Manusia adalah penerima dan pelanjut informasi."
    • Dikemukakan oleh John Locke.
    • Dikutip dari Tirtarahardja, U., dan Sulo. S. L. L. (2010) Pengantar Pendidikan Edisi Revisi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hlm. 105.

Tentang penghormatan[sunting]

  • "Saat ini, orang lupa bahwa pertama-tama mereka harus menghormati manusia dalam diri mereka."
  • "Nilai manusia itu ditetapkan dari keberaniannya memikul tanggung jawab, mencintai hidup dengan kerja, membawanya kepada kegairahan hidup yang paling tersembunyi."
    • Dikemukakan oleh Kahlil Gibran.
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 35.

Tentang sudut pandang[sunting]

  • "Seorang dokter melihat manusia dari semua sudut kelemahannya, seorang pengacara melihat manusia dari sudut keburukannnya, dan seorang pendeta melihat manusia dari sudut kebodohannya."
    • Dikemukakan oleh Arthur Schopenhauer.
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. DIsunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 155.

Tentang hubungan[sunting]

  • "Pengalaman tinggal-bersama di Bumi sebagai sesama manusia mendahului proses pembentukan paguyuban, perkampungan, apalagi bangsa."
    • Dikutip dari Supelli, Karlina (2011) Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme. Jakarta Selatan: Penerbit Mizan Publika. Hlm. 205. ISBN 978-602-97633-5-5