Kartini

Dari Wikiquote bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kartini

Raden Adjeng Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia, seorang pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Habis Gelap Terbitlah Terang[sunting]

Di sini adalah seorang perempuan tua tempat saya meminta sedekah bunga, yakni bunga-bungaan yang kembang dalam hatinya, yang harum baunya. Telah banyak saya diberinya, tetapi masih banyak lagi ada padanya, sangat banyaknya; dan saya inipun hendak meminta lebih banyak pula. Ia mau menambahnya, tetapi saya harus berusaha akan memperoléhnya; bunganya itu harus saya beli............Dibeli dengan apa! Dengan apa mesti saya beli?

Dan keluarlah suara yang penting dari mulutnya: "Puasalah engkau sehari semalam, dan berjaga-jagalah engkau seorang diri, terpisah dari yang lain."

"Habis malam datanglah siang
Habis topan datanglah reda,
Habis perang datanglah menang,
Habis duka datanglah suka,"

Terdengar dengan merdunya sebagai doa di telingaku.

Itulah buah pikiran yang dikatakan oléh orang tua perempuan itu. Puasa dan berjaga-jaga itu hakikinya: "Menanggung kekurangan, kesengsaraan, insaf akan diri sampai cahaya datang." Mustahil cahaya akan datang saja kalau tidak didahului oléh gelap gulita; bagus, bukan?

Pandai menahan lapar, itulah suatu kemenangan pikiran yang suci dari pada kelobaan lidah; dan tempat yang sunyi itulah sekolah tempat berpikir.

- Habis Gelap Terbitlah Terang - surat bertanggal 15 Augustus 1902 kepada Tuan E. C. Abendanon.


Er is hier een oudje aan wie ik bloemen bedelde, die geuren in het hart. Veel gaf zij mij reeds en zij heeft nog meer, veel meer, en ik wil meer, immer meer. Zij zal mij dan meer willen geven, maar ik moet het verdienen, haar bloemen moet ik koopen.... Waarmee?... Waarmee moet ik betalen?....

En hoog ernstig klonk het uit haar mond: "Vast één dag en één nacht en breng dien tijd wakend en in eenzaamheid door."

"Door nacht tot licht,
Door storm tot rust,
Door strijd tot eer.
Door leed tot lust",

ruischte als een requiem mij in het oor.

Dat is de zin, de gedachte in de woorden dier oude vrouw. Dat vasten en waken is het symboliek van: "door ontberen, lijden, nadenken tot het licht!" Geen licht, waar niet duisternis vooraf ging; mooi vindt je niet?

Onthouding is overwinning van den geest over de stof; eenzaamheid is de school van het nadenken.

- Door Duisternis Tot Licht - Brieven van 1902


There is an old woman here from whom I have gathered many ​flowers that spring from the heart. She has already given me much, and has still more to give, and I wish for more; always more. She is willing, but first I must earn her treasures, I must buy her flowers—why? Why must I pay?

Solemnly the words sounded from her lips; "Fast a day and a night, and pass that time awake and in solitude."

"Through night to light,
Through storm to rest
Through strife to peace
Through sorrow into joy."

sounds like a requiem in my ears.

The meaning behind the words of the old woman is: Fasting and waking are symbolical; "Through abstinence and meditation, we go toward the light." No light, where darkness has not gone before. Do you not think that a beautiful thought?

Fasting is the overcoming of the material by the spirit; solitude is the school of meditation.

- Letters of a Javanese princess - Chapter 44


Ada seorang wanita tua di sini yang saya minta bunga, bau di hati. Dia sudah memberi saya banyak dan dia memiliki lebih banyak, lebih banyak lagi, dan saya menginginkan lebih, lebih banyak lagi. Dia ingin memberi saya lebih banyak, tetapi saya harus mendapatkannya, saya harus membeli bunganya .... Dengan apa? ... Dengan apa yang harus saya bayar? ....

Dan itu terdengar sangat serius dari mulutnya: "Puasa satu hari dan satu malam dan habiskan waktu itu dengan terbangun dan dalam kesendirian."

"Dari gelap menjadi cahaya.
Tenang menjadi badai.
Berjuang untuk menghormati.
Kesedihan menjadi ambisi.",

bergumam di telingaku seperti requiem.

Itulah kalimatnya, pemikiran dalam kata-kata wanita tua itu. Puasa dan bangun itu adalah simbolisme dari: "dengan kurang, menderita, memikirkan cahaya!" Tidak ada cahaya, di mana tidak ada kegelapan sebelumnya; bukankah kamu berpikir cantik?

Pantang adalah kemenangan roh atas materi; kesepian adalah sekolah pemikiran.

-- (terjemahan dari bahasa Belanda), Door Duisternis Tot Licht

Kutipan[sunting]

  • Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata "Emansipasi" belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. (Suratnya kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)
  • Bagi saja ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Suratnya kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)
  • Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)
  • "Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi." (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902)
  • Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
  • Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tt). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
  • Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)
  • Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)
  • Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)
  • Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” (Surat kepada Ny. Abendanon dari Kartini, 14 Desember 1902)
  • Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peparangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. (Kartini, 6 Nopember 1899)
  • Bagaimanapun jalannya, sekali-kali jangan lelah untuk berusaha gigih membela semua yang baik.
  • Untuk menjadi beradab, pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan. (1900)

Kutipan tentang Kartini[sunting]

  • "Perjuangan Raden Ajeng Kartini 'berperang' melawan ketidakadilan dan diskriminasi patut menjadi suritauladan kaum perempuan Indonesia 'zaman now'. Kartini merupakan inspirasi kebangkitan kaum perempuan. Meskipun hidup terkungkung adat, namun beliau masih mampu hidup mandiri dan berjuang dari balik dinding. Bukannya teredam, hasrat Kartini akan pengetahuan dan menyuarakan pikiran justru semakin lantang." Siti Jamaliah Lubis. Sumber: Kongres Advokat Indonesia

Pranala luar[sunting]

Wikipedia-logo-v2-id.png
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Commons
Wikimedia Commons memiliki media terkait mengenai:
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z