Kartini

Raden Adjeng Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia dan pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Habis Gelap Terbitlah Terang
[sunting | sunting sumber]Di sini adalah seorang perempuan tua tempat saya meminta sedekah bunga, yakni bunga-bungaan yang kembang dalam hatinya, yang harum baunya. Telah banyak saya diberinya, tetapi masih banyak lagi ada padanya, sangat banyaknya; dan saya inipun hendak meminta lebih banyak pula. Ia mau menambahnya, tetapi saya harus berusaha akan memperoléhnya; bunganya itu harus saya beli............Dibeli dengan apa! Dengan apa mesti saya beli?
Dan keluarlah suara yang penting dari mulutnya: "Puasalah engkau sehari semalam, dan berjaga-jagalah engkau seorang diri, terpisah dari yang lain."
"Habis malam datanglah siang
Habis topan datanglah reda,
Habis perang datanglah menang,
Habis duka datanglah suka,"
Terdengar dengan merdunya sebagai doa di telingaku.
Itulah buah pikiran yang dikatakan oléh orang tua perempuan itu. Puasa dan berjaga-jaga itu hakikinya: "Menanggung kekurangan, kesengsaraan, insaf akan diri sampai cahaya datang." Mustahil cahaya akan datang saja kalau tidak didahului oléh gelap gulita; bagus, bukan?
Pandai menahan lapar, itulah suatu kemenangan pikiran yang suci dari pada kelobaan lidah; dan tempat yang sunyi itulah sekolah tempat berpikir.
- Habis Gelap Terbitlah Terang - surat bertanggal 15 Augustus 1902 kepada Tuan E. C. Abendanon.
Er is hier een oudje aan wie ik bloemen bedelde, die geuren in het hart. Veel gaf zij mij reeds en zij heeft nog meer, veel meer, en ik wil meer, immer meer. Zij zal mij dan meer willen geven, maar ik moet het verdienen, haar bloemen moet ik koopen.... Waarmee?... Waarmee moet ik betalen?....
En hoog ernstig klonk het uit haar mond: "Vast één dag en één nacht en breng dien tijd wakend en in eenzaamheid door."
"Door nacht tot licht,
Door storm tot rust,
Door strijd tot eer.
Door leed tot lust",
ruischte als een requiem mij in het oor.
Dat is de zin, de gedachte in de woorden dier oude vrouw. Dat vasten en waken is het symboliek van: "door ontberen, lijden, nadenken tot het licht!" Geen licht, waar niet duisternis vooraf ging; mooi vindt je niet?
Onthouding is overwinning van den geest over de stof; eenzaamheid is de school van het nadenken.
- Door Duisternis Tot Licht - Brieven van 1902
There is an old woman here from whom I have gathered many flowers that spring from the heart. She has already given me much, and has still more to give, and I wish for more; always more. She is willing, but first I must earn her treasures, I must buy her flowers—why? Why must I pay?
Solemnly the words sounded from her lips; "Fast a day and a night, and pass that time awake and in solitude."
"Through night to light,
Through storm to rest
Through strife to peace
Through sorrow into joy."
sounds like a requiem in my ears.
The meaning behind the words of the old woman is: Fasting and waking are symbolical; "Through abstinence and meditation, we go toward the light." No light, where darkness has not gone before. Do you not think that a beautiful thought?
Fasting is the overcoming of the material by the spirit; solitude is the school of meditation.
- Letters of a Javanese princess - Chapter 44
Ada seorang wanita tua di sini yang saya minta bunga, bau di hati. Dia sudah memberi saya banyak dan dia memiliki lebih banyak, lebih banyak lagi, dan saya menginginkan lebih, lebih banyak lagi. Dia ingin memberi saya lebih banyak, tetapi saya harus mendapatkannya, saya harus membeli bunganya .... Dengan apa? ... Dengan apa yang harus saya bayar? ....
Dan itu terdengar sangat serius dari mulutnya: "Puasa satu hari dan satu malam dan habiskan waktu itu dengan terbangun dan dalam kesendirian."
"Dari gelap menjadi cahaya.
Tenang menjadi badai.
Berjuang untuk menghormati.
Kesedihan menjadi ambisi.",
bergumam di telingaku seperti requiem.
Itulah kalimatnya, pemikiran dalam kata-kata wanita tua itu. Puasa dan bangun itu adalah simbolisme dari: "dengan kurang, menderita, memikirkan cahaya!" Tidak ada cahaya, di mana tidak ada kegelapan sebelumnya; bukankah kamu berpikir cantik?
Pantang adalah kemenangan roh atas materi; kesepian adalah sekolah pemikiran.
-- (terjemahan dari bahasa Belanda), Door Duisternis Tot Licht
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata "Emansipasi" belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. (Suratnya kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)
- Bagi saja ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Suratnya kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)
- Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tt). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
- Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
- Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
- Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peparangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. (Kartini, 6 Nopember 1899)
- Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya. (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
- Kami sekali-kali tidak ingin menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan. Dengan pendidikan kami bertujuan menjadikan orang Jawa sebagai orang Jawa sejati, orang Jawa yang dijiwai dengan cinta dan semangat untuk tanah air dan bangsanya. Dijiwai dengan mata dan hati terbuka untuk keindahannya dan kesukarannya! Kepadanya kami ingin memberikan sesuatu yang bagus dari peradaban Eropa. Bukan untuk mendesak atau mengganti sifat-sifat bangsa sendiri yang bagus, melainkan untuk memuliakannya.(Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 19020)
- Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi. (Suratnya kepada Nyonya Van Kol, 21 Juli 1902)
- Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. (Suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
- Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi. (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902)
- Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)
- Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899)
- Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)
- Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. (Surat kepada Ny. Abendanon dari Kartini, 14 Desember 1902)
- Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang: jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendal, licin ... belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati bahagia. Sebab jalan itu sudah terbuka dan saya turut membantu meneratas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputra."
- Sumber: Floriberta Aning S. (2005) 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Yogyakarta: Penerbit Narasi. Hlm. 166. ISBN 979-7564-75-4
- Hidup ini patut kita hayati! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dulu? Dan dengan bergulat kita memperoleh kekuatan. Dan dengan tersesat-sesat kita menemukan jejak.
- Sumber: Floriberta Aning S. (2005) 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Yogyakarta: Penerbit Narasi. Hlm. 167. ISBN 979-7564-75-4
- Dan siapakah yang lebih banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu. siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia? -- ialah perempuan, ibu, karena pada haribaan si ibu itulah manusia itu mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali, oleh karena di sanalah pangkal anak itu belajar merasa, berpikir, berkata. Dan didikan yang pertama-tama sekali, pastilah amat berpengaruh bagi penghidupan seseorang.
- Sumber: Pane, Armijn. (2008). Habis Gelap Ternitlah Terang. Balai Pustaka: Jakarta.
- Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpi-lah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apa jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.
- Gadis yang di pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.
- Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi, satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.
- Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya, dengan segala bakti, yang dapat diamalkannya, itu-lah perempuan yang patut disebut sebagai 'ibu' dalam arti sebenarnya.
- Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.
- Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.
- Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.
- Saat membicarakan orang lain, Anda boleh saja menambahkan bumbu. Tapi, pastikan bumbu yang baik.
- Sampai kapan pun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa.
- Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya.
- Karena ada bunga mati, maka banyak-lah buah yang tumbuh, demikian-lah pula dalam hidup manusia, bukan? Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbul-lah angan-angan lain yang lebih sempurna, yang boleh menjadikan buah.
- Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.
- Adakah yang lebih hina daripada bergantung kepada orang lain?
- Jangan kau katakan 'saya tidak dapat', tetapi katakan 'saya mau'.
- Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.
- Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamu-lah yang membiarkannya datang.
- Pendidikan adalah kunci untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan.
- Hidup adalah menuntut perubahan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.
- Tak ada batasan bagi perempuan, kecuali batasan yang dibuat oleh dirinya sendiri.
- Kalau kita tak pandai memeras waktu, tak mencari waktu, maka waktu juga tak akan memberikan kita peluang.
- Mimpikan-lah sesuatu yang besar, sesuatu yang kami sendiri sesungguhnya tidak menyadari kami bisa melakukannya.
- Maka mengapa kita selalu takut, padahal segala sesuatu dalam dunia ini ada jika kita mau berani?
- Hidup penuh warna jika kita bersedia memahami dan menerima perbedaan.
- Menghargai diri sendiri adalah langkah pertama untuk mencapai kebahagiaan sejati.
- Sumber:CNN Indonesia "25 Quotes RA Kartini, Inspiratif dan Bisa Jadi Penyemangat Hidup" https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20240418193237-284-1087825/25-quotes-ra-kartini-inspiratif-dan-bisa-jadi-penyemangat-hidup.
- Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.
- Bahwa kebahagiaan perempuan yang paling tinggi, sejak berabad-abad yang lalu bahkan juga sampai saat ini adalah hidup selaras bersama laki-laki.
- Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.
- Adalah suatu pertolongan dan bantuan besar sekali bagi orang laki-laki jika perempuan berbudi tinggi dan terpelajar.
- Ketidaksetaraan perempuan ini akibat dari dibatasinya akses perempuan untuk memperoleh pengetahuan sehingga perempuan menjadi bodoh. Sehingga cara satu-satunya adalah perempuan harus sekolah.
- Dan gadis-gadis terutama sangat susah hidupnya, karena mereka telah berada di tempat di mana alam setiap hari diperkosa. Bukankah itu memerkosa kodrat alam namanya, apabila perempuan harus tinggal dengan damai serumah dengan madunya?
- Untuk sementara didiklah, berilah pelajaran kepada anak-anak perempuan kaum bangsawan: dari sinilah peradaban bangsa harus dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas, dan baik. Maka mereka akan menyebarluaskan peradaban di antara bangsanya.
- Sungguh, anak bangsa itu sendiri, orang perempuan harus memperdengarkan suaranya! Masih akan dapatkah dengan tenang orang mengatakan 'keadaan mereka baik' kalau orang melihat dan mengetahui semuanya, yang telah kami lihat dan kami ketahui itu?
- Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.
- Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang seimbang antara raga yang tangguh, namun hati senantiasa patuh. Emansipasi ada penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap tempat ada empu yang dikodratkan dan dipantaskan.
- Marilah wahai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kita berjabatan tangan dan bersama-sama bekerja mengubah keadaan yang tak terderita ini.
- Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.
- Ketidaksetaraan inilah yang menyebabkan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi.
- Pendidikan untuk wanita sangat penting dalam konteks mendukung perannya sebagai istri dan ibu yang bermimpi besar. Tapi kalau salah kaprah dan menelantarkan anak-anaknya, berarti sama saja dengan membodoh lagi.
- Tidak perlu penjelasan kenapa kemajuan kepandaian masyarakat Bumiputra tidak dapat pesat, apabila dalam hal itu perempuan terbelakang. Setiap waktu kemajuan perempuan itu ternyata merupakan faktor penting dalam peradaban bangsa.
- Angkatan muda, tiada pandang laki-laki atau perempuan wajiblah berhubungan. Masing-masing secara sendiri-sendiri dapat berbuat sesuatu untuk memajukan, meningkatkan derajat bangsa kami. Tetapi apabila kami bersatu, mempersatukan kekuatan kami, bekerja bersama-sama, maka hasil usaha kami akan lebih besar. Bersatu kita kukuh dan berkuasa.
- Kita harus hidup bersama-sama dan untuk semua manusia. Tujuan hidup kita ialah membuat hidup lebih indah.
- Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing, Lagi pula, saya bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya.
- Seorang guru bukan hanya sebagai pengasah pikiran saja, melainkan juga sebagai pendidik budi pekerti.
- Dengan menolong diri sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna.
- "Jangan tanyakan kepadaku aku mau atau tidak, tanyalah boleh atau tidak!"
- Dalam tangan anaklah terletak masa depan dan dalam tangan ibulah tergenggam anak yang merupakan masa depan itu[1].
Kutipan tentang Kartini
[sunting | sunting sumber]- "Perjuangan Raden Ajeng Kartini 'berperang' melawan ketidakadilan dan diskriminasi patut menjadi suritauladan kaum perempuan Indonesia 'zaman now'. Kartini merupakan inspirasi kebangkitan kaum perempuan. Meskipun hidup terkungkung adat, namun beliau masih mampu hidup mandiri dan berjuang dari balik dinding. Bukannya teredam, hasrat Kartini akan pengetahuan dan menyuarakan pikiran justru semakin lantang." Siti Jamaliah LubisSumber: Kongres Advokat Indonesia
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Purba, Albert Benjamin Febrian. "Kumpulan Kutipan RA Kartini tentang Perempuan, Cinta dan Pendidikan". detikjatim. Diakses tanggal 2025-11-15.
Sumber: Albert Benjamin Febrian Purba, detikjatim, "Kumpulan Kutipan RA Kartini tentang Perempuan, Cinta dan Pendidikan" https://www.detik.com/jatim/berita/d-7302028/kumpulan-kutipan-ra-kartini-tentang-perempuan-cinta-dan-pendidikan.
3.
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |

