Rasuna Said

Rasuna Said adalah salah satu tokoh wanita pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia lahir di Minanjau, Sumatera Barat pada 14 September 1910. Meskipun sejak Rasuna Said tumbuh di tengah keluarga bangsawan, namun keluarganya hidup sederhana dan religius.
Sering dijuluki “Singa Betina” atau “Srikandi”, gelar kehormatan yang konon diberikan langsung oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, Rasuna dipandang sebagai perwujudan semangat juang perempuan. Ia dikenal kuat dengan identitas Minangkabau — suku asalnya yang juga melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional — sebuah masyarakat yang terkenal karena wataknya yang tangguh serta kedalaman religiusitas Islamnya.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Bahwa seorang pelajar setidaknya perlu dilengkapi dengan berbagai macam kepandaian untuk mereka yang akan berkecimpung dalam pergerakan."
Sumber kutipan: Putra, Purwanto (2019). Tujuh Tokoh Nasional Sumatera Barat Di Bidang Pendidikan dan Pers. Depok: Yayasan Petualang Literasi. Hlm. 39.
- "Menurut keyakinan saya, satu bangsa yang belum merdeka itu lama-kelamaan akan mendapat kemerdekaannya. Keyakinan yang saya katakan itu ialah akan membangkitkan semangat bangsa saya. Satu bangsa berhak akan kemerdekaan. Maksud saya mengataken ‘Gouvernment Belanda akan hilang’ ialah karena di sini, di Indonesia ini, orang Belanda yang memerintah."
- "Pergaulan hidup di Indonesia tidak akan sempurna kalau Indonesia belum merdeka dan agama pun tidak pula akan sampurna kalau Indonesia tidak merdeka.”
- "Imprealisme ada di seluruh dunia karena imprealisme itu bukanlah manusianya, nafsu yang hendak mempengaruhi ekonomi bangsa lain. Seperti negeri Belanda, boleh jadi juga ada imprealisme Jepang, yaitu yang hendak mempengaruhi ekonomi bangsa Belanda.
- "Sifat Permi ‘menuju Indonesia Merdeka asal dengan non-cooperation’ dimaksudkan percaya kepada kekuatan sendiri. Tidak mau duduk dan bekerja dengan raad-raad yang diadakan oleh pemerintah. Politik itu dibagi dua, yaitu ada yang berhaluan dan ada pula yang tidak berhaluan non-cooperation."
- "Menurut keyakinan Permi, Volksraad tidak perlu, karena kami tidak akan bekerja bersama-sama dengen pemerentah. Di Volksraad cuma dibicarakan yang bagus-bagus saja, sedangkan soal kampung-kampung yang busuk-busuk tidak dibicarakan."
Sumber kutipan: Sadim, Purwadi. (2020, 22 April). Rasuna Said: Islam Tak Sempurna Bila Indonesia Tak Merdeka!. Diakses pada 9 November 2025, dari https://khazanah.republika.co.id/berita/q96ck9385/rasuna-said-islam-tak-sempurna-bila-indonesia-tak-merdeka.
- "Perempuan-perempuan dalam pertemuan ini, termasuk orang-orang yang belum merdeka, tetapi suatu saat nanti yang pasti akan merdeka." (De Sumatra Post, 1932).
- "Perwakilan pemerintah hanya mencatat apa yang dikatakan saja. Kembali saya tegaskan! Cukup lama, orang Indonesia telah bersabar. Sekarang sedang bergolak untuk kemajuannya dan memperoleh kemerdekaannya dan akan bekerja untuk itu dengan semua kekuatan yang ada."
- “Menurut keyakinan saya, satu bangsa yang belum merdeka itu lama-kelamaan akan mendapat kemerdekaannya. Keyakinan yang saya katakan itu ialah akan membangkitkan semangat bangsa saya. Satu bangsa berhak akan kemerdekaan. Maksud saya mengataken ‘Gouvernment Belanda akan hilang’ ialah karena di sini, di Indonesia ini, orang Belanda yang memerintah.”
Sumber kutipan: Sufyan, F. H. (2022). Melumpuhkan Rasuna Said: Menuntut Indonesia Merdeka Tahun 1932. Danadyaksa Historica, 2(1), 71-79.
- "Manusia terlahir bebas; justru masyarakatlah yang menjadikannya budak, melawan kehendak agama dan bangsa. Lebih baik kita memohon kepada Allah agar dicabut nyawa kita, daripada hidup tanpa mengabdi kepada bangsa."
- "Kita wajib memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan kemerdekaan itu pasti akan lahir."
- "Sapaan hangat untuk putra-putri yang belum merdeka, namun kelak pasti akan merdeka dan pemerintahan Belanda akan lenyap."
- "Lebih cepat atau lambat akan mencapai kemerdekaan. Saya tahu, dan seluruh dunia tahu, bahwa setiap bangsa berhak atas kemerdekaan. Jelas pula bahwa ketika saatnya tiba Indonesia merdeka, pemerintahan Belanda yang berkuasa sekarang itu akan sirna, runtuh dengan sendirinya."
- "Untuk menyalakan harapan akan masa depan yang lebih baik, dan mengobarkan semangat bangsaku."
- "Jika saudara-saudaraku para lelaki merasa takut untuk ikut berjuang, tidakkah kalian akan merasa malu bila kelak kemerdekaan Indonesia justru diraih oleh kaum perempuan?"
Sumber kutipan: White, S. (2013). Rasuna Said: Lioness of the Indonesian independence movement. Women in Southeast Asian Nationalist Movements, 98-123.
- "Kita harus mampu memanfaatkan situasi politik yang saat ini berpihak pada kita. Masalah Irian bukan semata-mata persoalan antara Indonesia dan Belanda, tetapi persoalan antara Indonesia dan masyarakat dunia.Belanda hanyalah pihak yang kebetulan menjadi sorotan dalam konteks ini. Sesuai dengan prinsip kita yang menolak perang dan menjunjung tinggi perdamaian, kita menentang penjajahan Belanda di Irian, karena penjajahan itulah sumber dari pertikaian dan ketidakstabilan."
Sumber kutipan: Het nieuwsblad voor Sumatra, halaman 2, terbit 25-05-1954
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]Putra, Purwanto (2019). Tujuh Tokoh Nasional Sumatera Barat Di Bidang Pendidikan dan Pers. Depok: Yayasan Petualang Literasi. Hlm. 39.
Sadim, Purwadi. (2020, 22 April). Rasuna Said: Islam Tak Sempurna Bila Indonesia Tak Merdeka!. Diakses pada 9 November 2025, dari https://khazanah.republika.co.id/berita/q96ck9385/rasuna-said-islam-tak-sempurna-bila-indonesia-tak-merdeka
Sufyan, F. H. (2022). Melumpuhkan Rasuna Said: Menuntut Indonesia Merdeka Tahun 1932. Danadyaksa Historica, 2(1), 71-79.
White, S. (2013). Rasuna Said: Lioness of the Indonesian independence movement. Women in Southeast Asian Nationalist Movements, 98-123.
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |

