Lompat ke isi

Francis Bacon

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Pengetahuan adalah kekuatan.

Francis Bacon (lahir 22 Januari 1561, wafat 9 April 1626) adalah seorang filsuf, negarawan dan penulis Inggris. Ia juga dikenal sebagai pendukung Revolusi Sains. Bahkan, menurut John Aubrey, dedikasinya menggabungkannya ke dalam sebuah kelompok ilmuwan yang bersejarah yang meninggal dunia akibat eksperimen mereka sendiri.

Tentang pengetahuan[sunting]

  • "Pengetahuan adalah kekuatan."
    • Teks asli: "Nam et ipsa scientia potestas est."
    • Dari Meditationes Sacræ (Meditasi Suci) (1597) "De Hæresibus"
  • "Kita dapat melakukan sesuatu sebatas yang kita tahu!"
    • Teks asli: "Tantum possumus, quantum seimus!"
    • Sumber: Suriasumantri, Jujun S. (1996) Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 142.

Tentang harapan[sunting]

  • "Harapan adalah sarapan yang enak, tetapi harapan adalah makan malam yang tidak enak."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 218.
  • "Harapan baik untuk makan pagi, tetapi tidak baik untuk makan siang."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 229.

Tentang kejadian[sunting]

  • "Kejadian yang berulang dari sebuah peristiwa tidak dapat menjadi jaminan bahwa kejadian itu akan terjadi lagi."
    • Sumber kutipan: Yuana, Kumara Ari (2010). The Greatest Philosophers: 100 Tokoh FIlsuf Barat dari Abad 6 SM - Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Hlm. 126

Tentang ketidakadilan[sunting]

  • "Penilaian yang tidak adil bisa 10 kali lebih buruk daripada kejahatan."

Tentang keangkuhan[sunting]

  • "Dan, tentang keangkuhan lainnya bahwa pengetahuan akan merusak kehormatan kepada hukum dan negara, ini hanyalah kebejatan dan fitnah, tanpa kebenaran sedikitpun. Jika dikatakan bahwa kepatuhan yang didasari kebiasaan buta haruslah menjadi kewajiban yang lebih pasti daripada tugas yang diajarkan dan dimengerti, ini menegaskan bahwa seorang buta dapat berjalan lebih pasti dibantu penuntun dibandingkan seseorang yang dapat melihat dibawah cahaya. Dan adalah tanpa perdebatan bahwa pendidikan membuat jiwa manusia menjadi halus, dermawan, teratur dan dapat diperintah oleh negara; sedangkan kedunguan membuat manusia menjadi kasar, keras kepala, dan pemberontak: dan bukti dari sejarah jelas menegaskannya, mengingat masa yang paling biadab, kasar, dan tanpa pendidikan adalah penyebab keguncangan, pemberontakan dan perubahan."
    • Dikemukakan dalam The Advancement of Learning (Kemajuan dalam Pembelajaran) pada tahun 1605.

Tentang kebenaran[sunting]

  • "Apakah kebenaran itu? tanya pelawak Pilatus yang kemudian berlalu tanpa mendengar jawabnya.
    • Disebutkan dalam esai berjudul Of Truth (Mengenai Kebenaran) pada tahun 1625.

Tentang kematian[sunting]

  • "Manusia takut akan kematian layaknya anak kecil takut kegelapan, dan sama halnya seperti ketakutan anak kecil yang dibumbui dengan dongeng-dongeng, begitupun juga hal yang satunya.
    • Disebutkan dalam esai berjudul Of Death (Mengenai Kematian) pada tahun 1625.

Tentang kebendaan[sunting]

Tentang buku[sunting]

  • "Sebagian buku ditulis untuk dicicipi, yang lainnya untuk ditelan, dan sebagian kecil untuk dikunyah dan dicerna; maknanya, sebagian buku ditulis untuk dibaca segelintir saja, yang lainnya untuk dibaca, tetapi tidak dengan penuh rasa ingin tahu; dan sebagian kecil untuk dibaca seluruhnya, dengan ketekunan dan penuh perhatian."
    • Disebutkan dalam esai berjudul Of Studies (Mengenai Pembelajaran) pada tahun 1625.

Tentang rumah[sunting]

  • "Rumah dibangun untuk ditempati, bukan untuk dipandang."
    • Dikutip dari Kasali, Rhenald (2007) Re-Code Your Change DNA: Membebaskan Belenggu-Belenggu untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan dalam Pembaharuan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 238. ISBN 978-979-22-2589-1

Tentang balas dendam[sunting]

Tentang keluarga[sunting]

Tentang istri[sunting]

  • "Istri adalah kekasih bagi pria muda, teman bagi pria setengah baya dan perawat bagi pria tua."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. DIsunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 21.

Tentang anak[sunting]

  • "Anak-anak membuat kerja keras menjadi manis, tetapi mereka membuat nasib buruk terasa lebih pahit."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 147.

Tentang waktu[sunting]

  • "Memilih waktu ialah menghemat waktu."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. DIsunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 95.

Tentang belajar[sunting]

  • "Belajar bisa untuk kesenangan, bisa untuk hiasan, bisa untuk memperoleh kemampuan."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. Disunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 181.

Tentang kesalahan[sunting]

  • "Ketololan seseorang keuntungan bagi yang lain, karena tidak ada seorang pun sedemikian mendadak menjadi makmur tanpa melalui kesalahan-kesalahan orang lain."
    • Dikutip dari: Yudowidoko, Didik Wahadi. (2004)  Primakata Mutiara Cerdik Cendikia. DIsunting oleh Din Muhyidin. Jakarta: Penerbit Abdi Pertiwi. Halaman 159.

Pranala luar[sunting]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Commons
Commons
Wikimedia Commons memiliki media terkait mengenai: