Fiersa Besari
Tampilan

Fiersa Besari (lahir 3 Maret 1984), yang akrab disapa Bung, adalah seorang penulis, musisi, pencipta lagu, dan pegiat alam asal Indonesia. Ia dikenal melalui karya-karyanya yang puitis dan sering mengangkat tema tentang cinta, perjalanan, alam, dan refleksi diri, yang membuatnya populer di kalangan generasi muda.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]Dari buku Garis Waktu (2016)
[sunting | sunting sumber]- Bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika tidak senang, ungkapkan. Jika cemburu, tekankan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya yang sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap "Aku membutuhkanmu".[1]
- Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.[1]
- Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.[1]
- Aku tidak tahu di mana ujung perjalanan ini, aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi, selama aku mampu, mimpi-mimpi kita adalah prioritas.[1]
- Pada waktunya, dunia hanya perlu tahu kalau kita hebat. Kebahagiaan tidak membutuhkan penilaian orang lain.[1]
- Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur… kau juga.[1]
- Tangannya menjadi pengganti tanganku untuk menuntunmu. Pundaknya menjadi pengganti pundakku untukmu bersandar. Biarlah gemercik gerimis, carik senja, secangkir teh, dan bait lagu menjadi penggantimu.[1]
- Dulu kita selalu mengucap kata sayang di penghujung malam. Kini, kita tidak lebih dari dua orang asing yang merindukan masa lalu secara diam-diam.[1]
- Aku diam, bukan berarti tak memperhatikan.[1]
- Aku tidak tahu cara membencimu dengan baik dan benar, seperti kau tidak tahu cara menyayangiku dengan baik dan benar.[1]
- Cinta bukan melepas tapi merelakan. Bukan memaksa tapi memperjuangkan. Bukan menyerah tapi mengikhlaskan. Bukan merantai tapi memberi sayap.[1]
- Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam semesta bekerja seperti itu.[1]
- Jika mereka bertanya padaku apakah aku menyesal, jawabanku adalah tidak. Berhasil ataupun gagal, aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.[1]
- Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama.[1]
- Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu. Kadang ia datang setelah kau lelah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu.[1]
- Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangannya.[1]
- Dalam realitas kita berdua hanyalah dua orang yang berlari. Aku sibuk mengejarmu, kau sibuk menghindariku. Oh, tenang. Aku tidak lelah. Justru, aku menikmati prosesnya.[1]
- Tidak ada yang abadi, baik bahagia maupun luka. Suatu saat kita akan tiba di titik menertawakan rasa yang dulu sakit, atau menangisi rasa yang dulu indah.[1]
- Ketika kesetiaan menjadi barang mahal. Ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucap. Ego siapa yang sedang kita beri makan?[1]
- Aku mengalah. Aku mengalah karena aku percaya, kalau kau memang untukku, sejauh apa pun kakimu membawamu lari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku.[1]
Dari buku Catatan Juang (2017)
[sunting | sunting sumber]- Hidup ini keras, buktikan dirimu kuat. Yang membedakan pemenang dan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh.[2]
- Cinta memang tak butuh alasan, tapi sebuah komitmen butuh alasan.[2]
- Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri.[2]
- Orang pandai takkan memaksakan keyakinannya pada orang lain; orang yang pandai akan menerima perbedaan dan mampu berjalan beriringan dengan mereka yang tidak berprinsip sama.[2]
- Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. [...] Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah.[2]
- Pembenci adalah pengagum yang sedang menyamar.[2]
- Seiring bertambahnya usia, makin aku menyadari bahwa fisik yang rupawan akan selalu kalah dengan perbincangan yang menyenangkan.[2]
- Cinta adalah harapan yang membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cinta adalah pemutus keputusasaan. Cinta adalah apa yang semestinya membuat bumi ini berputar.[2]
- Dan bukankah harta yang paling tak ternilai adalah persahabatan? Ketika seseorang yang tak kukenal membaca tulisanku, lalu merasakan apa yang ku sampaikan, aku telah bersahabat dengannya.[2]
- Ah, Ibu. Tiap ulang tahunmu datang, aku membenci hari tersebut, sungguh. Mengetahui uban dan keriputmu semakin banyak, sementara waktu kita semakin sedikit. Dan aku hanya bisa menjadi pendosa, sementara engkau terus menjadi pendoa.[2]
- Biarlah yang terluka menikmati waktunya. Biarlah yang bahagia lupa bahwa kelak mereka akan kembali terluka. Dan di sela-sela itu semua, bersyukurlah.[2]
- Kalau hidup kamu dipenuhi dengan makan engga teratur, asap rokok, serta bergadang, kamu cuma punya dua pilihan: bikin asuransi jiwa, atau mulai berolahraga.[2]
- Kebaikan pada alam bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan, misalnya, terlepas ada yang melihat atau pun tidak.[2]
- Jangan sembarangan menyerahkan hati ketika patah, karena hanya di tangan mekanik yang tepat hati kita akan sembuh. Jadi, tidak perlu terburu-buru.[2]
- Gunung bukanlah tempat untuk pamer, tempat untuk berhitung ketinggian, apalagi tempat untuk menambah jumlah puncak yang sudah kita daki.[2]
- Sebab kopi mengingatkanku pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Pahit, namun kita tak bisa berhenti menikmatinya.[2]
- Setahuku, bercanda itu seharusnya lucu, bukan menyakitkan.[2]
- Kita adalah apa yang kita pikirkan, bukan apa yang mereka pikirkan. Kita adalah apa yang kita inginkan, bukan apa yang mereka inginkan. Tak usah berhenti melangkah. Jatuh dan terluka itu hal yang biasa. Semua akan menang pada waktunya.[2]
- Aku tertawa sendiri. Kadang sesuatu yang terbaik datang tidak tepat waktu, setelah kita puas bercengkerama dengan rasa kesal dan rasa sesal terlebih dahulu.[2]
- Karena yang paling menyebalkan dari sebuah janji adalah: membuat seseorang menanti dan berekspektasi.[2]
- Apa artinya pergi, jika engkau tak menjadi tempatku pulang?[2]
- Dulu, pada suatu ketika, senja pernah indah, seindah janji-janji yang berujung menjadi sumpah serapah.[2]
- Jangan terlalu dipikirkan. Bagian tersulit dari mengerjakan sesuatu adalah memikirkannya terlalu lama.[2]
Dari buku Arah Langkah (2018)
[sunting | sunting sumber]- Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia untuk menjadikannya mengeja.[3]
- Kesalahan besar yang ditanyakan para orang tua ketika anaknya lulus kuliah adalah, ‘Mau bekerja di mana?’ bukan ‘Mau membuat apa?'[3]
- Ketika tinta pengkhianatan tumpah di atas aksara kisah, tulisan kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Takkan pernah lagi bisa.[3]
- Berkelana itu engga gila. Yang gila itu kalau kamu di rumah padahal hati memanggil kita untuk berkelana.[3]
- Di ketinggian, aku merasa kecil. Aku merasa tidak menaklukan gunung, justru gununglah yang menaklukan kesombonganku.[3]
- Darinya, aku belajar bahwa hidup ini menyenangkan kalau kita melihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap.[3]
- Yang paling aku senangi dari petualangan adalah: sejauh apa pun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.[3]
- Bukanlah kenangan buruk yang akan membuat kita bersedih, tapi kenangan terindah yang takkan bisa terulang lagi.[3]
- Saya suka dua karakter itu, Bung. Mereka bersahabat dengan tulus tanpa ada motif tertentu. Jatuh bersama, tanpa saling menjatuhkan. Bodoh bersama, tanpa saling membodohi. Jarang sekali ada persahabatan macam itu di dunia nyata.[3]
- Kita enggak akan pernah tahu kapan napas terakhir kita berhembus dan kapan kita meregang nyawa. Sudah saatnya kita belajar bersyukur. Tidak perlu dengan melakukan hal hebat. Cukup dimulai dengan menyayangi diri sendiri.[3]
- Satu-satunya penghalang langkah kita adalah rasa takut kita sendiri.[3]
- Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai.[3]
- Karena perpisahan, semanis apa pun, seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan.[3]
- Senja selalu menggiring keceriaan menuju kegelapan. Mungkin hanya mereka yang bersyukur yang mampu menyeka air mata untuk melihat bintang.[3]
- Aneh ya, kita enggak akan pernah tahu ke mana hidup membawa kita. Hidup ini seperti petualangan panjang, dengan hiasan suka dan duka, bahan cerita untuk anak-cucu kita kelak.[3]
- Indonesia adalah sepercik surga yang Tuhan turunkan di muka bumi.[3]
- Tidak ada impian yang terlalu besar jika dibarengi dengan usaha yang sama besarnya. Dan usaha besar pun dimulai dari langkah kecil yang dilakukan terus menerus.[3]
Dari buku Tapak Jejak (2019)
[sunting | sunting sumber]- Namun, satu hal yang tidak akan pernah berubah bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati kita akan selalu menemukan arah pulang menuju satu tempat yang paling tepat: rumah.[4]
- Ikuti hati kamu, dia tidak akan pernah salah.[4]
- Sejauh apapun perjalanan yang kita tempuh, selama kita mengingat seseorang di dalam hati kita, takkan pernah ada yang namanya perpisahan. Syahdan, perjalanan pun takkan pernah menghapus luka, ia hanya akan menguatkan diri kita dalam menghapus luka.[4]
- Enggak akan ada yang sia-sia, kecuali diri kamu bilang itu sia-sia. Semua tergantung dari apa yang kamu pikirkan.[4]
- Untuk menjadi anak bangsa terbaik tidak perlu rupawan, tidak perlu terkenal, tidak perlu meniru, dan tidak perlu sok jagoan. Kita hanya perlu menginspirasi orang-orang di sekitar kita untuk menjadi lebih baik.[4]
- Ah, kenangan. Terkadang, kita lebih senang mengenang, karena kenangan adalah satu-satunya hal yang tidak akan berubah. Dan terhadap kenangan, seseorang mampu merasakan kerinduan yang mendalam.[4]
- Salahkah jika aku kehilangan motivasi? Untuk apa semua ini? Bukankah luka akibat patah hati sudah berangsur pulih? Kebahagiaan apalagi yang kucari?[4]
- Aku pernah kehilangan makna 'rumah'. Sekarang aku tahu bahwa rumah adalah tempat kita menaruh hati. Untuk pulang, ikuti hati. Ia takkan membawa kita ke tempat yang salah. Dan dalam setiap kepergianku, hatiku selalu kutinggalkan di sebelah ibu. Agar beliau tahu, bibir anaknya pergi untuk pulang pada punggung tangannya.[4]
Dari buku Konspirasi Alam Semesta (edisi revisi 2022)
[sunting | sunting sumber]- Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.[5]
- Namun "rasa" memang punya jalannya sendiri. Ia tak serta-merta hadir untuk diutarakan. Kadang "rasa" hanya untuk dinikmati dalam kesendirian, dengan setumpuk harapan.[5]
- Senja memang membawa kita menuju kegelapan. Tapi, kalau kita tahu cara bersyukur, banyak bintang dalam gelap yang menunggu untuk kita nikmati.[5]
- Dan impian bukan sesuatu hal yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.[5]
- Hidup itu sederhana, manusianya saja yang rumit.[5]
- Aku ingin memelukmu sekali lagi, membalas kecemburuanku pada angin yang bisa sewaktu-waktu memelukmu.[5]
- Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah. Bentangan kilometer, untukmu, akan kutempuh. Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah. Di pelukanmu, Sayang, aku akan pulang.[5]
- Masa lalu sepahit apa pun itu, bukanlah untuk dilupakan, melainkan untuk diingat dengan persepsi yang tidak menyakitkan.[5]
- Kamu melengkapi aku. Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba.[5]
- Mencintaimu, merupakan kejutan terindah yang pernah kehidupan berikan padaku. Dicintaimu, merupakan bingkisan yang lebih indah.[5]
- Dan suatu wajah itu muncul di malamku, diam di sela-sela berlian yang bertaburan di lautan angkasa. [...] cintanya yang seluas samudera telah menuntunku pada ujung pengasingan.[5]
- Kita berdua jauh dari sempurna. Bukankah ketidaksempurnaan kitalah yang bikin kita berdua saling menyempurnakan?[5]
- "Jauh" adalah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. [...] Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.[5]
- Rasa ini tak kenal kadaluwarsa. Tak perlu selamanya, cukup sampai ujung usia.[5]
- Sekuat apa pun kamu menyingkirkan aku, sekuat itu pula aku akan kembali padamu.[5]
- Aku rindu hujan seperti aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak memandang rintiknya memeluk bumi.[5]
- Ternyata, batas antara hidup dengan mati itu tipis.[5]
- Aku adalah seorang pesimis yang cukup optimis. Pesimis bahwa negeri ini sudah tiba pada masa yang lebih baik, sekaligus optimis bahwa negeri ini akan tiba pada masa yang lebih baik.[5]
- Kami hanyalah anak manusia yang meskipun punya paham, prinsip, sejarah, latar belakang, dan warna kulit yang berbeda, namun darah kami tetaplah merah, dan yang kami hirup adalah udara yang sama.[5]
- Hidup adalah sebuah pilihan. Aku memilih untuk berani membuatmu bahagia karena terlalu takut melihatmu menangis.[5]
- Aku memang penakut kalau soal kehilangan kamu. Tapi, aku bukan pengecut yang enggak mau berjuang bareng kamu.[5]
- Kasihmu samudra tanpa batas. Aku membalas dengan keangkuhan. Tiada kusadar waktu tak akan terulang untuk menebus dosa. Surga tak cuma ada di telapak kakimu. Surga ada di segala tentangmu.[5]
- Kita mesti melepaskan apa yang sudah enggak bisa kita ubah dan belajar melanjutkan hidup.[5]
- Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, itulah yang menjadikan kita manusia.[5]
Dari buku 11:11 (edisi revisi 2022)
[sunting | sunting sumber]- Orang bilang, jodoh takkan ke mana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan ke mana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi.[6]
- Setidaknya kau sudah mendengarkanku, dan mengizinkanku mendengarkanmu. Memiliki pendengar yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam itu menyenangkan.[6]
- Ada hal yang lebih berharga dibandingkan uang, dan ia bernama “waktu”. Uang yang hilang bisa diganti, namun waktu yang hilang takkan pernah bisa kembali.[6]
- Waktu enggak akan menunggu. Lepaskan yang sudah hilang, hargai yang masih ada.[6]
- Aku malah mensyukuri senja yang membawa kita pada kegelapan. Karena, jika kita mau mengarungi gelapnya malam, mentari yang sama juga akan membawa kita pada indahnya pagi.[6]
- Orang-orang yang sering melihat bintang akan lebih merasa dirinya hanya setitik debu di alam semesta, orang-orang yang sering melihat bintang tahu caranya mensyukuri kesederhanaan.[6]
- Bahkan saat hidup sedang gelap seperti ini, akan selalu ada cahaya yang membantumu menemukan jalan keluar. Yang perlu kamu lakukan adalah berdoa dan belajar ikhlas.[6]
- Bukan seberapa lama hidup ini yang dihitung, tapi seberapa berarti kita menghabiskannya.[6]
- Beri aku kesempatan untuk membuatmu bangkit lagi, bukan karena iba, tapi karena peduli. Membuatmu tersenyum lagi, bukan karena kasihan, tapi karena rasa sayang. Menemani hari-harimu, bukan karena aku takut kau kenapa-kenapa, tapi karena takut aku yang kenapa-kenapa.[6]
- Waktu enggak pernah jadi tokoh utama dalam tumbuh kembang sebuah perasaan. 'Proses' yang berperan penting.[6]
- Tuhan tidak pernah mengambil apa yang sudah Dia beri, Tuhan cuma menukarnya dengan sesuatu yang lebih indah. Kitanya saja yang belum sadar.[6]
- Tidak ada jarak yang terlalu jauh atau waktu yang terlalu lama untuk dua orang yang saling memperjuangkan rasa.[6]
- Melihatmu tersenyum, walau tak pernah berbalas. Bahagiamu, juga bahagiaku.[6]
- Lupakah kau cara tersenyum? Apa sayapmu patah? Jika begitu tak mengapa. Izinkan ku memapah.[6]
- Kau yang terbaik, kau yang terindah. Kau yang mengajari arti jatuh hati. Kau beri harap lalu kau pergi. Garis waktu takkan mampu menghapusmu.[6]
- Tak ada jarak yang bisa membunuh rasa ini. Tak ada sedih yang tak mampu untuk kau sembuhkan. Aku tak takut melewati semua ini, asal kau jadi tempat aku pulang.[6]
- Kau membuatku yakin, malaikat tak selalu bersayap. Biar saja menanti tanpa batas, tanpa balas.[6]
- Aku sadar siapa diriku, yang tidak mungkin menggapaimu. Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan.[6]
- Hidup ini indah, bila kau mengikhlaskan yang harus dilepas.[6]
- Pernahkah kau terjatuh secara sukarela? Sebab kau yakin seseorang akan menangkapmu [...] karena kau tahu, kau menyerah pada orang yang tepat.[6]
- When you smile, the whole world stops, so please don’t cry, not because of me. Because it’s you, it’s always you, it’s always been you.[6]
- Kisah kita sangat indah, hingga perlahan berubah. Kau yang terlalu mengalah, hadapiku yang pemarah.[6]
- Aku yang bodoh melepasmu, hal terbaik yang pernah ada di hidupku. Kini aku tak tahu bagaimana cara melangkah tanpamu.[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,00 1,01 1,02 1,03 1,04 1,05 1,06 1,07 1,08 1,09 1,10 1,11 1,12 1,13 1,14 1,15 1,16 1,17 1,18 1,19 Fiersa Besari, Garis Waktu (2016), Mediakita. ISBN 978-979-794-633-3. Dikutip juga dalam: "Sinopsis Novel Garis Waktu, Kisah Perjalanan Menghapus Luka". Katadata.co.id. 23 September 2022. Diakses tanggal 2024-10-26.
- ↑ 2,00 2,01 2,02 2,03 2,04 2,05 2,06 2,07 2,08 2,09 2,10 2,11 2,12 2,13 2,14 2,15 2,16 2,17 2,18 2,19 2,20 2,21 2,22 Fiersa Besari, Catatan Juang (2017), Mediakita. ISBN 978-979-794-549-7. Mediakita.
- ↑ 3,00 3,01 3,02 3,03 3,04 3,05 3,06 3,07 3,08 3,09 3,10 3,11 3,12 3,13 3,14 3,15 3,16 Fiersa Besari, Arah Langkah (2018), Mediakita. ISBN 978-979-794-561-9. di Mediakita.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 4,7 Fiersa Besari, Tapak Jejak (2019), Mediakita. ISBN 978-979-794-586-2. di Google Books.
- ↑ 5,00 5,01 5,02 5,03 5,04 5,05 5,06 5,07 5,08 5,09 5,10 5,11 5,12 5,13 5,14 5,15 5,16 5,17 5,18 5,19 5,20 5,21 5,22 5,23 Fiersa Besari, Konspirasi Alam Semesta (edisi revisi 2022), Mediakita. ISBN 978-979-794-656-2. Mediakita.
- ↑ 6,00 6,01 6,02 6,03 6,04 6,05 6,06 6,07 6,08 6,09 6,10 6,11 6,12 6,13 6,14 6,15 6,16 6,17 6,18 6,19 6,20 6,21 6,22 Fiersa Besari, 11:11 (edisi revisi 2022), Mediakita. ISBN 978-979-794-657-9. Mediakita.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: