Emha Ainun Nadjib
Tampilan

Muhammad Ainun Nadjib (lahir 27 Mei 1953), lebih dikenal sebagai Emha Ainun Nadjib, Cak Nun, atau Mbah Nun, adalah seorang intelektual Muslim, budayawan, dan penulis asal Indonesia.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Orang Jawa itu jika diganggu akan ngalah, kedua kalinya akan ngalih, dan kalaupun masih tetap diganggu maka akan ngamuk."
- "Mereka adalah 'millennial heroes'. Orang-orang gagah perkasa itu berani melakukan sangat banyak hal yang merusak kehidupan, yang kita sedikit pun tidak berani melakukannya meskipun hanya satu dua hal yang tampak kecil dan remeh."[1]
- "Hidup di era digital milenial ini seperti menyeberangi medan perang yang berseliweran ribuan peluru-peluru nyasar. Dan saya tertembus oleh sudah berapa ribu peluru. Peluru fitnah. Peluru manipulasi. Peluru eksploitasi. Peluru adu domba. Peluru kecurangan. Peluru kedengkian. Peluru subjektivisme. Peluru-peluru yang seharusnya ditembakkan oleh senapan-senapan Iblis atau Dajjal. Tetapi ini bedil medsos dan hulu ledak maya yang menembakkannya."[2]
- "Tidak ada bangsa yang merendahkan pencapaian sejarahnya sendiri melebihi bangsa Indonesia. Tidak ada bangsa yang merendahkan dan meremehkan karya-karyanya sendiri melebihi bangsa Indonesia. Bahkan anak-anaknya sendiri sekarang mengenal pun tidak."[3]
- "Rakyat itu lebih besar daripada segala desa. Rakyat lebih perkasa dibanding semua peran sejarah yang lain. Rakyat lebih agung dan arif dibanding segala tingkat peroleh ilmu kaum cendekia. Rakyat sanggup hidup tanpa penguasa, tetapi tak sebiji penguasa pun yang pernah sanggup hidup tanpa rakyat."[4]
- "Murah sekali harga tertawa, katanya dalam hati. Kenapa orang-orang setengah mati mengumpulkan lembaran uang untuk membiayai tertawa?"[5]
- “Karena cintaNya kepada Cahaya (Nur Muhammad) maka diciptakanlah oleh-Nya alam semesta ini”
- “Cahayalah yang akhirnya melahirkan ruang. Sebab, dengan adanya cahaya maka ada kegelapan. Cahaya adalah tata ruang,” Cara hidup di dalam ruang adalah cinta (rahmat). Karena adanya ruang, maka lahirlah waktu.
- “Jadikanlah semua kenyataan diluar kita sebagai katalis (komponen dari luar yang mempercepat proses) pendewasaan spiritual kita.”
- "Tradisi budaya bukan hanya tidak bertentangan dengan agama, melainkan bahkan memperindahnya, memperkaya praktik sosialnya. Sepanjang tidak ada pagar syariat yang ditabrak oleh tradisi budaya itu, maka mudik dan upaya-upaya budaya lain justru menjadikan ajaran agama itu keindahan yang nyata dalam kehidupan. Allah suruh kita shalat, kita praktikkan dengan mewujudkan budaya sajadah, masjid, arsitektur, tikar dan karpet, bahkan listrik dan Itu semua teknologi ikhtiar manusia, bagian dari budi daya kehidupan kaum Muslim."
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kurusetra (4 Maret 2022). "Cak Nun: Buzzer-buzzer akan Kualat dan Kena Karma". *Republika*. Diakses tanggal 29 Juli 2025.
- ↑ Emha Ainun Nadjib (6 Februari 2021). "Peluru-peluru Nafsu". *Caknun.com*. Diakses tanggal 29 Juli 2025.
- ↑ Emha Ainun Nadjib (3 April 2021). "Mengadili dan Membijaksanai". *Caknun.com*. Diakses tanggal 29 Juli 2025.
- ↑ "Review Buku Arus Bawah: Filosofi Rakyat adalah Dewa". *Indonesia Imaji*. Diakses tanggal 29 Juli 2025.
- ↑ Nadjib, Emha Ainun. 2015. Arus Bawah, cet. II. Yogyakarta: Bentang.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: