Lompat ke isi

Doctor Strange (film)

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Doctor Strange adalah film pahlawan super tahun 2016 yang diadaptasi dari komik Marvel dengan nama yang sama. menceritakan seorang dokter ahli bedah yang kemudian mempelajari ilmu mistik dari the Ancient One (Sang Leluhur) setelah mengalami kecelakaan mobil yang mengakhiri kariernya. Film ini masuk dalam film keempat belas dari Marvel Cinematic Universe (MCU).

Dialog

[sunting]
Dr. Stephen Strange : "Ini tidak berguna"
Ahli terapis : "Ini berguna. Kau pasti bisa."
Dr. Stephen Strange : "Jawab ini, gelar sarjana. Ada orang dengan kerusakan saraf seperti aku melakukan ini lalu sembuh?"
Ahli terapis : "Satu orang, ya. Kecelakaan pabrik, punggungnya patah, lumpuh, kakinya tak berfungsi, bahunya sakit karena mendorong kursi roda, dia datang tiga kali seminggu. Suatu hari dia berhenti datang, kupikir dia sudah mati. Beberapa tahun kemudian, dia berjalan melewatiku."

Dr. Christine Palmer : "Mungkin ini waktunya untuk berhenti."
Dr. Strange : "Ini bukan waktunya untuk berhenti karena aku tidak membaik!"
Dr. Palmer : "Tapi ini bukan lagi medis. Ini gila. Ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki."
Dr. Strange : "Hidup tanpa pekerjaanku..."
Dr. Palmer : "Tetap kehidupan. Ini bukan akhir. Ada hal-hal lain yang bisa membuat hidupmu bermakna."

Dr. Strange : "Kau pulih dari sesuatu yang mustahil. Aku berusaha untuk pulih."
Jonathan Pangborn : "Baiklah. Dulu aku sudah menyerah, hanya pikiranku yang tersisa, setidaknya kucoba untuk perkuat itu. Maka aku belajar dengan guru-guru dan wanita-wanita suci. Aku dibawa ke puncak gunung menemui orang suci. Akhirnya, kutemukan guruku. Pikiranku diperkuat dan rohku diperdalam. Entah bagaimana...."
Dr. Strange : "Tubuhmu pulih."
Pangborn : "Ya, di sana ada rahasia yang lebih dalam tapi aku tak cukup kuat menerimanya. Aku puas sudah sembuh dan aku pulang. Tempat yang kau cari bernama Kamar-Taj. tapi harganya mahal."
Dr. Strange : "Berapa?"
Pangborn : "Aku tidak bicara soal uang. Semoga berhasil."

Mordo : "Dulu aku sepertimu. Aku juga menyepelekan. Boleh kuberi saran? Lupakan semua yang kau tahu."
Dr. Strange : "Baiklah."

Dr. Strange : "Bagaimana caramu menyembuhkan cedera saraf tulang belakang C7, C8?"
The Ancient One : "Aku tidak sembuhkan. Dia tak bisa berjalan, kubuat dia percaya dia bisa."
Dr. Strange : "Maksudmu dia hanya psikosomatik?"
The Ancient One : "Saat kau menyambung saraf yang putus, kau yang menyembuhkannya atau tubuh?"
Dr. Strange : "Sel."
The Ancient One : "Sel hanya diprogram kembali menyatu dalam cara yang spesifik."
Dr. Strange : "Benar."
The Ancient One : "Bagaimana jika tubuhmu dapat diyakinkan untuk pulih dalam segala hal?"
Dr. Strange : "Maksudmu regenerasi sel. Itu teknologi medis yang canggih."

Dr. Strange : "Kau menemukan cara membuat sel untuk pulih sendiri?"
The Ancient One : "Tidak, Tuan Strange. Aku tahu cara mengatur roh untuk menyembuhkan tubuh."

The Ancient One : "Kau melihat dunia dari lubang kunci. Kau berusaha perbesar lubang kunci itu untuk lihat lebih, tahu lebih. Kini, setelah mendengar lubang kunci itu bisa diperlebar dengan cara tak terbayangkan, kau menolak kemungkinannya."
Dr. Strange : "Karena aku tidak percaya dongeng tentang cakra atau energi atau kekuatan keyakinan. Tidak ada yang namanya roh! Kita terbuat dari materi tidak lebih. Kau hanya debu kecil di alam fisik."
The Ancient One : "Kau terlalu mengecilkan dirimu."
Dr. Strange : "Kau pikir kau memahamiku? Kau salah. Tapi aku memahamimu! .... Apa yang kau lakukan?"
The Ancient One : "Kudorong wujud astralmu keluar dari fisikmu."

The Ancient One : "Untuk sesaat, kau memasuki dimensi astral."
Dr. Strange : "Apa?"
The Ancient One : "Tempat jiwa berada di luar tubuh."
Dr. Strange : "Kenapa kau melakukan ini?"
The Ancient One : "Untuk menunjukkan berapa banyak yang tidak kau ketahui. Buka matamu!"

The Ancient One : "Kau pikir kau tahu cara kerja dunia? Kau pikir tidak ada yang lain selain alam fisik? Apa yang nyata? Ada misteri apa di luar batas indramu? Di akar keberadaan pikiran dan materi bertemu. Pikiran membentuk realitas. Alam semesta ini satu dari jumlah tak terbatas. Dunia tanpa akhir. Ada yang baik dan memberikan kehidupan. Ada yang penuh kekejian dan kelaparan, Tempat-tempat gelap. Di sana kekuatan kuno lapar dan menunggu. Siapa kau di dalam multisemesta yang luas, Tuan Strange?"

The Ancient One : "Aku tidak mau lagi mengajar murid berbakat yang nantinya pindah ke sisi gelap."
Mordo : "Kau tidak kehilangan aku. Aku ingin kekuatan untuk kalahkan musuh. Kau memberiku kekuatan untuk mengalahkan sisi gelapku dan hidup dalam hukum alam."
The Ancient One : "Sisi gelap kita takkan pernah hilang, Mordo. Kita hanya belajar mengatasinya."

The Ancient One : "Bahasa ilmu mistik setua peradaban. Para penyihir zaman dahulu menyebut penggunaan bahasa ini sebagai "Mantra." jika tak cocok dengan otak modernmu kau boleh menyebutnya "program." Kode sumber yang membentuk realitas. Kita menarik energi, dari dimensi lain dalam multisemesta untuk menggunakan mantra, mendapatkan perisai dan senjata, untuk membuat sihir."

Wong : "Tak ada pengetahuan terlarang di Kamar-Taj."

The Ancient One : "Kau tak bisa melawan sungai. Kau harus mengikuti arusnya dan manfaatkan kekuatannya."
Dr. Strange : "Kendalikan dengan berhenti mengendalikan? Itu tak masuk akal."
The Ancient One : "Tidak semua masuk akal. Tak semua harus masuk akal. Kecerdasan membuat hidupmu sukses tapi tidak lebih jauh lagi. Menyerahlah, Stephen. Bungkam egomu dan kekuatanmu akan bangkit."

The Ancient One : "Belajar multisemesta tak terbatas termasuk belajar bahaya tak terbatas."

Mordo : "Berhenti! dilarang main-main dengan rangkaian kemungkinan."
Dr. Strange : "Aku hanya mengikuti buku."
Wong : "Apa kata buku tentang bahaya melakuka ritual itu?"
Dr. Strange : "Entahlah, belum sampai situ."
Mordo : "Manipulasi temporal bisa menciptakan persimpangan waktu, membuka dimensi yang tidak stabil. Ruang paradoks! Lingkaran waktu! Kau mau terjebak menjalani momen yang sama berulang kali atau keberadaanmu lenyap?"
Dr. Strange : "Taruhlah peringatan sebelum mantranya."
Wong : "Rasa ingin tahu bisa membunuhmu. Kau tidak memanipulasi ruang dan waktu, kau merusaknya. Kita tidak main-main dengan hukum alam. Kita menjaganya."

Wong : "Pahlawan seperti Avengers melindungi dunia dari bahaya fisik, tapi kita penyihir menjaganya dari ancaman mistis. Sang Leluhur yang terakhir dari keturunan panjang Penyihir Agung, ribuan tahun sampai pada masa pelopor ilmu mistik, Agamotto yang perkasa, Penyihir yang menciptakan mata yang kau pinjam dengan ceroboh. Agamotto membangun tiga kuil kekuatan tempat kota-kota besar sekarang berdiri."

Mordo : "Kuil-kuil itu melindungi dunia dan kita penyihir melindungi kuil-kuil."
Dr. Strange : "Dari apa?"
Wong : "Makhluk dimensi lain yang mengancam alam semesta kita."
Dr. Strange : "Seperti Dormammu."

Wong : "Dormammu tinggal dalam Dimensi Gelap. Tanpa waktu. Dia adalah penakluk kosmis, Penghancur dunia-dunia. Makhluk dengan kekuatan dan rasa lapar tanpa batas yang ingin menyerang setiap alam semesta dan membawa semua dunia ke dalam dimensi gelapnya. Dia paling mengincar bumi."
Dr. Strange : "Halaman yang dicuri Kaecilius...."
Wong : "Ritual untuk menghubungi dormammu dan menarik kekuatan dimensi gelap."
Dr. Strange : "Baiklah....aku kemari untuk menyembuhkan tanganku, bukan bertarung dalam perang mistis."

Kaecilius : "Ini adalah akhir dan awal, yang banyak menjadi sedikit, menjadi Esa."

Kaecilius : "Kau dokter?"
Dr. Strange : "Ya."
Kaecilius : "Ilmuwan. Kau paham hukum alam. Segala sesuatu menua dan mati. Matahari akan padam. Alam semesta kita akan jadi dingin dan lenyap. Tapi Dimensi Gelap, sebuah tempat tanpa waktu."
Dr. Strange : "Cukup. kupasang lagi."
Kaecilius : "Dunia ini tak harus mati. Dunia ini bisa tetap ada bersama dunia lainnya sebagai bagian dari Esa. Esa yang agung dan indah. Kita bisa hidup selamanya."
Dr. Strange : "Benarkah? Kau dapat apa dari dimensi ini?"
Kaecilius : "Sama sepertimu. Sama seperti semua orang. Hidup abadi. Orang percaya konsep baik dan jahat padahal musuh sebenarnya adalah waktu. Waktu membunuh segalanya."
Dr. Strange : "Lalu orang-orang yang kau bunuh?"
Kaecilius : "Kecil. Debu di dalam alam fisik. Ya, kau mengerti. Kau megerti yang kami kerjakan. Dunia tak sebagaimana mestinya. Manusia ingin hidup abadi, dunia tanpa waktu, karena waktu memperbudak kita. Waktu adalah penghinaan. Kematian adalah penghinaan.."

Dr. Strange : "Aku pergi ke Kamar-Taj lalu bicara dengan orang bernama "Sang Leluhur."
Dr. Palmer : "Kau ikut aliran sesat."
Dr. Strange : "Bukan, tidak seperti itu. Mereka mengajariku memakai kekuatan yang tidak kukenal."
Dr. Palmer : "Ya. Itu aliran sesat."
Dr. Strange : "Bukan aliran sesat."
Dr. Palmer : "Ya, itu kata-kata orang aliran sesat."

Dr. Strange : "Tidak. Namaku Dokter Strange. bukan Tuan Strange. bukan Guru Strange. Dokter Strange! Ketika jadi dokter, aku bersumpah tidak menyakiti orang. Aku baru saja membunuh! Aku tak mau melakukannya lagi. Aku jadi dokter untuk menolong, bukan membunuh."
The Ancient One : "Kau jadi dokter untuk menolong satu jiwa lebih dari yang lain. jiwamu."
Dr. Strange : "Kau masih memahamiku."
The Ancient One : "Aku masih melihat hal yang sama, egomu yang besar. Kau ingin kembali berkhayal bahwa kau bisa kendalikan semuanya termasuk kematian yang tak dapat dikendalikan."

The Ancient One : "Waktu itu relatif. Perjalananmu baru saja dimulai."

The Ancient One : "Aku tak melihat masa depanmu. Hanya kemungkinan. Kau paunya kapasitas untuk berbuat baik. Aku selalu sekses tapi bukan karena kau ingin sukses tapi karena kau takut gagal."
Dr. Strange : "Itu mebuatku jadi doker yang hebat."
The Ancient One : "Itu menghalangi kebesaranmu. Kesombongan dan rasa takut mesih mencegahmu untuk memahami pelajaran paling sederhana dan penting."
Dr. Strange : "Apa itu?"
The Ancient One : "Ini bukan tentang dirmu."

The Ancient One : "Tapi kau tahu, terkadang orang harus melanggar aturan demi kebaikan yang lebih besar."

Dormammu : "Kau takkan menang."
Dr. Strange : "Tidak. Tapi aku bisa kalah lagi dan lagi...dan lagi, selamanya."

Pemeran

[sunting]

Pranala luar

[sunting]