Lompat ke isi

Dahlan Iskan

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.

Indonesia

[sunting | sunting sumber]
  • Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
  • Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.[1]
  • Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.[2]
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.[2]
  • Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.[3]

Jurnalisme

[sunting | sunting sumber]
  • Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.[4]
  • Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.[5]
  • Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.[5]
  • Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.[5]

Perjalanan

[sunting | sunting sumber]
  • Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.[6]
  • "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Badai Berlalu". Radarbekasi.id. 2023-06-20. Diakses tanggal 2026-02-10.
  2. 2,0 2,1 disway.id. "FDI Purbaya". disway.id. Diakses tanggal 2026-02-10.
  3. disway.id. "Tarim Duduk". disway.id. Diakses tanggal 2026-02-14.
  4. disway.id. "Lebaran di Rumah Sakit". disway.id. Diakses tanggal 2026-02-10.
  5. 5,0 5,1 5,2 disway.id. "Imron Djatmika". disway.id. Diakses tanggal 2026-02-10.
  6. disway.id. "Berpisah Istri". disway.id. Diakses tanggal 2026-02-14.
  7. Iskan, Dahlan (28 Maret 2026). "Amang Amat". disway.id. Harian Disway. Diakses tanggal 30 Maret 2026.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: