Lompat ke isi

Chairil Anwar

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Chairil Anwar

Chairil Anwar (lahir Medan, 26 Juli 1922 – wafat Jakarta, 28 April 1949; 26 tahun) adalah penyair terkemuka Indonesia. Oleh H.B. Jassin, ia dinobatkan oleh sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus penyair modern Indonesia.

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda.

— Sajak Putih, 1944, Aku Ini Binatang Jalang, Maret 1986 [1][2]

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

— Chairil Anwar, Derai-derai Cemara.

Hidup hanyalah menunda kekalahan.

— Chairil Anwar, Derai-derai Cemara


"Rumahku dari unggun-timbun sajak

Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman

Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala

Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang

Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu

Jika menagih yang satu.”

— Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang[2]

  • Cinta itu tidak menjanjikan sebuah rumah tangga aman damai, tetapi penerimaan dan tanggung jawab adalah asas utama kebahagiaan rumah tangga.[3]
  • Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya.[3]
  • Kehidupan ini seperti permainan catur, setiap langkah memiliki konsekuensinya sendiri.[4]
  • Hidup adalah pergulatan antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita dapatkan.[4]
  • Ada yang berubah dan ada juga yang bertahan, karena zaman sangat sulit untuk dilawan. Yang pasti kepercayaan mesti di perjuangkan[5]
  • Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu.[6]
  • Sesudah masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia.[6]
  • Ah ternyata hatimu yang tak memberi. Mampus kau dimakan sepi.[7]
  • Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing.[7]

"Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.

Tidak minta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi pamit pada siapa saja!"[8]

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari...

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi[9]

Aku tak bisa tidur

Orang ngomong, anjing nggonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam suara bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! tidak jadi apa-apa!

Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali

Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang mesti tiba[9]


“Yang terampas dan yang putus...

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimbajadi semati tugu...”

— Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: