Abdurrahman Wahid
Tampilan

Abdurrahman Wahid lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah politikus Indonesia dan pemimpin agama Islam yang menjabat sebagai presiden Indonesia keempat sejak tahun 1999 hingga 2001. Selain sebagai pemimpin organisasi Nahdlatul Ulama, ia juga pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia adalah putra Menteri Agama Wahid Hasyim, dan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy'ari.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- DPR kok seperti anak TK
- Gitu aja kok repot.
- Kalau dulu saya mengatakan DPR TK (Taman Kanak-kanak –red), sekarang malah playgroup.
- Guyonan CIA di Indonesia sudah tidak ada teroris lagi, karena semua teroris sudah jadi menteri.
- saat membahas tentang teroris-teroris di Indonesia yang gerilya dengan berbagai aksi ledakan bom.
- Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.
- kalau berurusan dengan tetangga yang muslim dalam soal agama, saya menggunakan keislaman saya, kalau berurusan dengan sesama muslim dalam urusan negara atau dengan orang beragama lain dalam soal agama diggunakanlah Pancasila. Sumber K.H. Abdurrahman Wahid ((1984) Islam, Negara, dan Pancasila.
Tentang agama
[sunting | sunting sumber]- Tidak boleh lagi ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan serta ideologi.
- Kalau sekarang ini ada yang menjelekkan nama Islam, kita didik agar membawa nama Islam yang damai.
- Seolah-olah Islam diwakili oleh mereka yang keras-keras itu. Enggak bener.[1]
- Sebagian besar umat Islam lebih marah melihat perilaku porno dibandingkan korupsi atau merusak lingkungan.
- Islam sangat peka terhadap segala persoalan kenegaraan sebagai bagian penting, di mana 100 tahun terakhir ini Islam muncul sebagai ideologi politik. [2]
- Kemunduran Islam sejak abad VI adalah karena tingginya semangat berkonsensus. Segala hal memakai sistem konsensus. Akhirnya kreatifitas mati, inovasi tidak mendapat tempat. Sejak itu yang terjadi adalah proses pemantapan oleh institusi-institusi. Itu berlangsung hingga sekarang. Itulah sebabnya kreatifitas umat Islam sampai sekarang tidak berkembang. Orang jadi tidak berani berinovasi kalau tidak diterima orang banyak. Karena itu saya berpendapat: abad VI sampai sekarang merupakan abad kegelapan dalam Islam. Misalnya karena hadits yang mengatakan Bunial Is lamu ‘ala kbamsin dikonsensuskan untuk menetapkan bahwa rukun Islam ada lima, maka aspek kemanusiaan lalu tidak mendapat tempat yang penting. Lain halnya kalau inovasi kaum Mu’tazilah yang menganggap keadilan itu juga merupakan rukun Islam itu berlaku. Barangkali akan lain Islam jadinya. Mengapa bukan ayat yang menyebut soal keadilan yang dikonsensuskan sebagai rukun Islam? Misalnya. Karena hukum agama kemudian diinstitusikan, orang tidak pernah bisa lepas dari situ sampai sekarang. Tidak bisa lagi keluar dari konteks yang sudah diputuskan institusi.[3]
- Kita memang bangga punya doktrin “tidak ada pendeta dalam Islam” sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad. Tapi kenyataannya, yang menduduki tempat pendeta ada. Yakni para agamawan yang, berhak sepenuhnya menentukan berdasar institusi hukum. Inovasi perorangan tidak dapat tempat. Yang menempati posisi pendeta ada, hanya tidak pakai baju dinas dan tidak punya pimpinan tunggal. Masih mendingan yang ada kepalanya. Kan bisa anarki kalau begitu.[3]
- Prakarsa individu, kreatvitas, harus diberi tempat sebesar-besarnya. Ini juga berarti keberanian menerima pikiran-pikiran kosmopolitan, pikiran yang jujur dari orang yang mengaku dirinya Islam tanpa memandang dari agamawan atau bukan. Berikan hak semua orang untuk bicara tentang Islam. Percuma saja itu organisasi Islam yang setumpuk. Tidak ada gunanya, karena tidak menampung kreativitas. Mereka yang masuk ke sana hanya orang yang akan mengkompromikan diri.[3]
- Asas keadilan misalnya. Sekarang dalam Islam asas keadilan mekanistis sekali. Siapa yang tertangkap secara faktual itulah yang dihukum. Mencuri di warung dipotong tangannya, tapi Syekh yang menipu sekian milyar tidak ada yang ribut. Kan gila. Jadi bukan suatu sense of justice yang kuat yang mengatur kehidupan kita. Karena itu jangan heran kalau orang Islam jadi munafik. Kalau sense of justice ada, barangkali akan tergugah bukan untuk memotong tangan, tapi memecahkan kemiskinan.[3]
Tentang politik
[sunting | sunting sumber]- Titip aspirasi kepada orang lain saja bisa, kenapa kita harus membuat wadah sendiri untuk menyalurkan aspirasi politik.[4]
- Kita hendak menumbuhkan tradisi baru berdemokrasi dalam kehidupan kita. Untuk itu gubernur tidak akan ditunjuk dari atas. Begitu pula bupati dan wali kota. Mereka dipilih DPRD bersangkutan.[5]
- Karenanya, dapat dimengerti betapa risaunya para pejabat Republik yang masih bermental keraton kalau mendengar istilah oposisi. Makhluk aneh ini memang tidak ada dalam kamus keraton Jawa. Bagaimana mungkin orang menentang raja dan dibiarkan hidup? Bukankah akan rusak tatanan negara karena itu? Dan kalau tatanan negara rusak, bukankah tatanan hidup semesta juga berantakan? Memang terlalu. Dalam struktur kehidupan yang sudah begitu harmonis, masih ada yang kurang ajar.[6]
Tentang ekonomi
[sunting | sunting sumber]- Tetapi kita tidak sebodoh dulu lagi untuk ikut-ikutan perintah IMF. Kita harus berani membantah perintah Bank Dunia, IMF, dan lain-lain. Sebab, hubungan yang baik adalah hubungan yang saling membantah, bukan yang saling menurut. Dengan adanya bantahan itu muncul proses dialog yang kuat.[5]
Tentang kebangsaan
[sunting | sunting sumber]- Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa ada perbedaan.
- Jadinya kita menjadi bangsa yang jadi bahan tertawaan orang. Masak Timor Leste yang kayak itu saja mereka bisa permainkan kita. tentang penyampaian laporan mengenai pembantaian terhadap warga TImor Leste oleh pemerintah Indonesia.
- Kita ini celaka! 70 persen tanah air kita laut, tetapi garam saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi kalau disengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dolar. Jadi impor itu hanya menguntungkan yang impor saja. tentang impor pangan.
- Kesabaran dalam membawakan kebenaran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah.
- Meyakini sebuah kebenaran tidak berarti hilangnya sikap menghormati pandangan orang lain.
Tentang kenegaraan
[sunting | sunting sumber]- Bagaimana mungkin didirikan “negara Islam” kalau tidak ada kejelasan mengenai siapa yang akan menjadi pengambil keputusan tertinggi atau dalam fiqh-nya sering disebut dengan ahl al–halli wa al–aqd? Begitu juga persyaratan tentang pimpinan negara, masihkah dapat dipertahankan syarat berasal dari kaum Quraisy? Kalau tidak dapat, bagaimana cara menetapkan persyaratan yang baru? Kalau dalam masalah-masalah yang teknis begitu saja tidak akan tercapai kesepakatan, bagaimanakah akan dibentuk sebuah “negara Islam” dalam segala kompleksitasnya.[7]
Tentang Pancasila
[sunting | sunting sumber]- Pancasila tidak berada pada kedudukan lebih tinggi dari Islam atau agama lain, karena ia hanya menjamin hak pemeluk untuk melaksanakan kewajiban agama masing-masing.[7]
- Pancasila dan Islam tidak memiliki pola hubungan yang bersifat polaritatif, tetapi pola hubungan dialogis yang sehat, yang berjalan terus-menerus secara dinamis. Jadi salahlah kalau Islam dan Pancasila dipertentangkan, karena peranannya justru saling mengisi, mendukung, dan menutup.[7]
Tentang memperkirakan masa depan
[sunting | sunting sumber]- Kalau jadi wali kota yang bagus, kelak bisa jadi presiden. Dikatakan kepada Jokowi pada 8 Agustus 2006. Pada tahun 2014, Jokowi menjadi presiden Republik Indonesia.
- Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro, lalu Kapolri. Dikatakan kepada Sutarman saat ia menjadi ajudan Presiden Gus Dur (2000-2001). Pada tahun 2010, Sutarman menjadi Kapolda Metro Jaya dan pada tahun 2013 menjadi Kapolri.
- Siapa bilang orang Cina tak bisa jadi gubernur? Jadi presiden saja bisa.[8] dikatakan kepada Basuki Tjahaja Purnama saat ia kalah pada Pilkada Bangka Belitung 2007. Pada tahun 2014, Basuki menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi.
- Pak Prabowo nanti jadi presiden nek wes tuwek (kalau sudah tua).[9]dikatakan dalam obrolan bersama Gus Irfan pada tahun 2009. Pada tahun 2024, Prabowo diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia.
Tentang NU
[sunting | sunting sumber]- Jika tidak ada Subchan tentu tidak akan ada usaha-usaha drastis untuk membangunkan NU dari tidur nyenyaknya yang telah berlangsung semenjak Pemilu 1955. Kalau ia menang, maka kekuatan kelompok-kelompok lawan akan sangat berkurang. Dan dapat diperhitungkan bahwa Idham Chalid dalam tempo satu dua periode Muktamar saja akan terlempar dari gelanggang. Syuriah dengan organ-organnya, akan diciutkan wilayah kekuasaannya. Demikian pula akan hilang kriteria kesusilaan dari penilaian terhadap pimpinan NU, karena akan dianggap sebagai “soal pribadi”. Sebaliknya jika Subchan tidak berhasil mempertahankan diri, belum dapat diharapkan bahwa keadaan dalam tubuh NU akan dapat segera dinormalisir. Friksi dan benih-benih antagonisme lain yang telah mulai tumbuh di antara “angkatan muda” dan “golongan tua” akan semakin banyak terjadi, selama persoalan fundamental mengenai pem-bagian kekuasaan belum terpecahkan. Dalam hal ini patut dicatat pula kemungkinan berkembangnya tokoh-tokoh muda yang lebih moderat dalam NU, sebagai kekuatan baru yang akan mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Subchan sebagai penyambung lidah “angkatan muda”. Namun masih disangsikan, apakah mereka memiliki motivasi, ketahanan mental, dan kemampuan mengorganisir kekuatan seperti yang dimiliki oleh Subchan.[10]
Tentang Palestina
[sunting | sunting sumber]- Orang Palestina punya banyak persamaan dengan orang Minang. Umumnya perantau, pandai, dan pemimpin di kawasan luar tanah kelahiran semula — dan cukup banyak yang menjengkelkan penduduk setempat. Bedanya, orang Minang merantau di negara sendiri, dan turut memerintah. Sedang orang Palestina harus puas hanya menjadi kelas menengah di antara orang: guru, dokter, insinyur, wartawan. Walhasil, ia jadi bangsa yang jadi “kelas profesional” di mana-mana. Mereka memperkaya sastra Arab dengan karya yang umumnya bermutu tinggi, umumnya berbentuk puisi, esai, dan kritik sastra. Juga cerita pendek. Kehidupan budaya umumnya mereka ikuti secara benar-benar aktif.[11]
- Konflik antara superpowers tampak nyata sekali peranannya dalam sengketa Arab-Israel yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Pada mulanya, sengketa yang terjadi adalah perbenturan kepentingan antara berbagai pihak, yaitu antara Inggris, Prancis, dan Uni Soviet, segera setelah usainya Perang Dunia II. Inggris yang mencoba mencari titik penyelesaian bagi keinginannya untuk tetap menguasai wilayah Palestina sambil dapat menampung aspirasi bangsa Yahudi yang tergabung dalam gerakan zionisme dan menginginkan berdirinya negara Israel, memandang dengan penuh kecurigaan kepada langkah-langkah Uni Soviet di utara Iran, di mana mereka mencoba mencaplok wilayah Azerbaijan. Inggris mendukung upaya Syah Iran Reza Pahlavi untuk memukul mundur pasukan-pasukan Rusia dari wilayah negaranya itu. Upaya itu berhasil, dan sebagai akibatnya Uni Soviet lalu mengambil sikap menentang upaya Inggris untuk mencari penyelesaian di wilayah Palestina. Sikap ini terus dilanjutkan ketika sepuluh tahun kemudian Amerika Serikat mengambil pimpinan Dunia Barat. Setiap kesalahan langkah diperbuat pihak Barat dalam mengambil sikap mengenai kemelut demi kemelut yang terjadi di kawasan Timur Tengah dieksploitir oleh Uni Soviet untuk kepentingan sendiri, dan sedikit demi sedikit ia berhasil menancapkan pengaruhnya di kawasan itu. Sebaliknya, pihak Barat pun tidak melalaikan kesempatan untuk mengkonsolidir pengaruh mereka melalui berbagai cara, termasuk ketekunan untuk mengusahakan tercapainya penyelesaian sengketa Arab-Israel secara damai, seperti terbukti dengan kesungguhan Presiden Carter untuk menjadi perantara dalam mempertemukan Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Sebaliknya, sikap negara-negara yang menolak prakarsa perdamaian Sadat-Begin didukung oleh Uni Soviet.[12]
- Gerakan perlawanan Palestina sejak semula justru mengambil corak sangat politis, mungkin karena muncul sebagai reaksi “penjajahan politis-militer” Israel atas tanah air mereka. Sebagai pertumbuhan logis dari perjuangan “terlalu politis” itu tekanan kemudian beralih kepada perjuangan militer. Mula-mula dalam serangan sporadis bersifat teroristis, kemudian jadi operasi militer teratur, berpuncak pada penembakan jarak jauh dan penyerangan mendadak atas permukiman-permukiman Yahudi di sebelah utara Israel. Semua dilakukan dari Lebanon. Untuk memungkinkan itu mereka memantapkan kehadiran militer yang sangat menonjol di Lebanon, yang akhimya membawa kepada perang saudara antara kelompok-kelompok politis Lebanon sendiri. Lalu datanglah “pemelihara perdamaian”, pasukan-pasukan Suriah di bumi Lebanon: damai, dengan harga kian mantapnya kehadiran militer PLO di Beirut, Tyre, dan Sidon. Dan juga dengan harga lumpuhnya pemerintahan Lebanon sendiri — karena pasukan Lebanon hanya dalam nama saja berfungsi memelihara ketertiban. Kemantapan militer PLO itu menyebabkan munculnya sikap arogan di kalangan mereka. Tidak menghargai kedaulatan Lebanon, juga tidak mampu mengembangkan upaya mencari pemecahan politis yang lebih beragam bagi “masalah Palestina”. Akhirnya, kisah tragis itu berujung pada gempuran Israel atas Lebanon dan kepungan atas Beirut. Kekuatan militer Palestina mau tidak mau harus melihat kenyataan sangat pahit Israel sama sekali bukan macan kertas. Pilihannya ialah meninggalkan Lebanon atau hancur sama sekali dalam pertempuran akhir yang heroik, tapi berakhir tragis.[11]
- Justru dari situasi militer serba tragis itulah akan muncul “hikmah” yang tidak diperhatikan bangsa Palestina sendiri selama ini, minimal dalam retorika militer mereka. Bentuknya adalah sebuah gerakan politik yang akan mampu memanfaatkan situasi bagi berdirinya sebuah negara Palestina di kemudian hari. Negara yang harus menerima kenyataan adanya Israel sebagai tetangga, tetapi yang juga berdaulat atas diri sendiri. Ini bukan perjuangan ringan dan mungkin berlangsung belasan tahun, tetapi bagaimanapun juga memiliki tujuan yang realistis dan dapat diwujudkan. Tidak seperti “ideologi menghancurkan Israel dan melempar orang-orang Yahudi ke laut” yang didengungkan PLO sekarang.[11]
- Dalam jangka panjang, Israel harus melepaskan tepian sebelah barat Sungai Jordan, karena hanya sikap itu yang dapat menjamin eksistensinya sendiri sebagai sebuah negara berdaulat. Juga kalau ia mempunyai bom nuklir, itu hanya akan berfungsi penggertak saja. Toh, lama-kelamaan senjata itu akan “tumpul” sendiri dalam kegunaan, karena secara moral tidak mungkin bangsa yang begitu menderita di bawah Nazisme dahulu akan menggunakannya terhadap tetangga. Secara moral tidak mungkin, kecuali untuk mempertahankan eksistensinya dari ancaman yang luar biasa. Para pemimpin Israel yang buta realitas, seperti Menachem Begin, dan picik pandangan, seperti Ariel Sharon, memang tidak mau menerima keharusan menyerahkan tepian barat Sungai Jordan. Tetapi, di Israel masih cukup banyak calon pengganti yang berpikiran waras. Di saat itulah entitas politis Palestina akan merebut eksistensi sebagai negara berdaulat dari watak tragis yang menghantui sejarah saat ini.''[11]
Tentang Iran
[sunting | sunting sumber]- Bagaimana mungkin pemimpin agama yang begitu gigih melawan despotisme monarki Pahlevi, lalu, dengan mudah mengutuk musik? Bukankah ini justru despotisme moral yang lebih dahsyat lagi bagi masyarakat modern yang sudah menjadi hedonistis? Dapatkah dibenarkan perkenan Khomeini bagi pelaksanaan pengadilan perkara yang berat-berat secara sumir belaka yang, secara hampir seragam, selalu berkesudahan pada hukuman mati tanpa kesempatan cukup untuk membela diri?[13]
- Lebih jauh lagi, bukankah terlalu pagi bagi kita untuk mengukur Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan hanya dari perkembangan yang ditimbulkan oleh Khomeini?[13]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "PKB Gelar Massa - Senin, 19 Desember 2005". kompas.com. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ Gus Dur (1985) Islam dan Pancasila: Titik Temu Ideologi Universal dan Ideologi Nasional, https://gusdur.net/
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 "Biarkan Semua Orang Bicara (Wawancara) - GusDur.Net" (dalam bahasa American English). 2024-01-05. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ Floriberta Aning S. (2005) 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Yogyakarta: Penerbit Narasi. Hlm. 11. ISBN 979-7564-75-4
- ↑ 5,0 5,1 "Kita Tidak Sebodoh Dulu (Wawancara) - GusDur.Net" (dalam bahasa American English). 2024-02-16. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ Majalah Tempo No.15 Th.XIII, 11 Juni 1983
- ↑ 7,0 7,1 7,2 K.H. Abdurrahman Wahid ((1984) Islam, Negara, dan Pancasila, https://gusdur.net/
- ↑ Ma'ruf, Fadil. "11 Ramalan Gus Dur yang Jadi Kenyataan: Bukti Kearifan dan Keunikan Sang Bapak Pluralisme - Radar Bogor - Halaman 3". 11 Ramalan Gus Dur yang Jadi Kenyataan: Bukti Kearifan dan Keunikan Sang Bapak Pluralisme - Radar Bogor - Halaman 3. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ "Cerita Gus Dur 'Ramal' Prabowo Jadi Presiden di Usia Tua". nasional. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ "Subchan Dan Nahdlatul Ulama - GusDur.Net" (dalam bahasa American English). 2025-08-02. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ 11,0 11,1 11,2 11,3 "Palestina: Dari Tragedi ke Eksistensi - GusDur.Net" (dalam bahasa American English). 2023-08-01. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ "Timur Tengah: Panorama Pergolakan Tak Kunjung Berhenti - GusDur.Net" (dalam bahasa American English). 2023-05-06. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ 13,0 13,1 Majalah Tempo No.23 Th.IX, 4 Agustus 1979
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |
