Lompat ke isi

Zoulfa Katouh

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Zoulfa Katouh (Calgary, 29 Maret 1994) adalah seorang penulis asal Kanada yang menulis fiksi remaja. Novel debutnya, As Long As The Lemon Trees Grow, merupakan buku pertama oleh penulis Suriah yang diterbitkan oleh Bloomsbury Publishing dan Little, Brown Books for Young Readers. [1]

  • "We don't have to stop living because we might die." "Kita tidak harus berhenti hidup hanya karena kita mungkin akan mati."
  • "Every lemon will bring forth a child, and the lemons will never die out." "Setiap pohon lemon akan melahirkan tunas baru, dan pohon-pohon lemon itu tidak akan pernah punah."
  • "It reminds me that as long as the lemon trees grow, hope will never die." "Itu mengingatkanku bahwa selama pohon-pohon lemon tumbuh, harapan tidak akan pernah mati."
  • "Bury me before I bury you." "Kuburkan aku sebelum aku menguburkanmu."
  • "Might. What a word. It holds infinite possibilities of a life that could have been." "Mungkin. Betapa sebuah kata. Kata itu memuat kemungkinan tak berujung tentang hidup yang seharusnya bisa terjadi"
  • "When I die, I'm going to tell God everything." "Saat aku mati, aku akan memberitahu Tuhan semuanya."
  • "This is the land of your father, and his father before him. Your history is embedded in this soil. No country in the world will love you as yours does." "Ini adalah tanah ayahmu, dan kakekmu sebelumnya. Sejarahmu tertanam di tanah ini. Tidak ada negara di dunia yang akan mencintaimu seperti negerimu sendiri."
  • "With all the destruction happening down there, it's so easy to forget the beauty that's up here. The sky is so beautiful after rainfall." "Dengan segala kehancuran yang terjadi di bawah sana, begitu mudah melupakan keindahan yang ada di sini. Langit sangat indah setelah hujan."
  • "Death is an excellent teacher." "Kematian adalah guru yang sangat baik."
  • "And to all the Syrians who loved, lost, lived, and died for Syria. We will come back home one day." "Dan kepada semua orang Suriah yang telah mencintai, kehilangan, hidup, dan mati untuk Suriah. Suatu hari kita akan pulang."
  • "Know that even in death, youʼre my life." "Ketahuilah bahwa bahkan dalam kematian, kaulah hidupku."
  • "Survivor's skin is a remorse we are cursed to wear forever." "Kulit seorang yang selamat adalah penyesalan yang kita dikutuk untuk memakainya selamanya."
  • "Just on the other side, safety- not freedom. I'm leaving freedom behind, and I can feel the earth's grief when I get out of the car. The tired weeds try to encircle my ankles. begging me to stay. They murmur stories about my ancestors. The ones who stood right where I stand. The ones whose discoveries and civilization encompassed the whole world. The one whose blood runs through my veins. My footprints sink deep into the soil where theirs have long since been washed away. They plead with me: It's your country. This earth belongs to me and my children." "Di sisi seberang sana, keselamatan—bukan kebebasan. Aku meninggalkan kebebasan, dan aku bisa merasakan duka bumi ketika aku keluar dari mobil. Rumput-rumput lemah mencoba melingkari pergelangan kakiku, memohon agar aku tetap tinggal. Mereka membisikkan kisah leluhurku. Orang-orang yang berdiri tepat di tempat aku berdiri. Mereka yang penemuan dan peradabannya menjangkau seluruh dunia. Mereka yang darahnya mengalir dalam nadiku. Jejak kakiku tenggelam dalam tanah tempat jejak mereka telah lama terhapus. Mereka memohon padaku: Ini negaramu. Tanah ini milikku dan anak-anakku."
  • "He’s…honest. With everything. His thoughts, his expressions. He’s kind. It’s a rare kindness, Layla. I’m sure he still dreams. Maybe he’s the only one who still dreams. Maybe he’s the only one in the whole city who still dreams at night. And when he looks at me, I feel…I feel like I’m being seen, and there is…there is a tiny bit of hope." "Dia… jujur. Dengan semuanya. Pikiran-pikirannya, ekspresinya. Dia baik. Itu kebaikan yang langka, Layla. Aku yakin dia masih bermimpi. Mungkin dia satu-satunya yang masih bermimpi. Mungkin dia satu-satunya di seluruh kota yang masih bermimpi di malam hari. Dan ketika dia memandangku, aku merasa… aku merasa seperti benar-benar terlihat, dan ada… sedikit sekali harapan."
  • "He and I are owed a love story that doesn't end in tragedy." "Aku dan dia pantas mendapat kisah cinta yang tidak berakhir tragis."
  • "Empires have collapsed throughout history. They rise, they build, and they fall. Nothing lasts forever. Not even our pain." "Kerajaan-kerajaan telah runtuh sepanjang sejarah. Mereka bangkit, membangun, dan jatuh. Tidak ada yang bertahan selamanya. Bahkan rasa sakit kita pun tidak."
  • "I want my mama. I want her to soothe away my sadness and kiss me while calling me ya omri and te’eburenee. My life and bury me." "Aku ingin ibuku. Aku ingin dia menenangkan kesedihanku dan menciumku sambil memanggilku ya omri dan te’eburenee, hidupku dan kuburkan aku."
  • "You asked me if you could see colours again, Salama. If we deserve to see them. I think we do. I think you can. There's too little of it in death. In pain. But that's not the only thing in the world. That's not all that Syria has. Syria was once the center of the world. Inventions and discoveries were made here; they built the world. Our history is in the Al-Zahrawi Palace, in our mosques, in our earth." "Kau bertanya padaku apakah kau bisa melihat warna lagi, Salama. Apakah kita pantas melihatnya. Aku pikir ya. Aku pikir kau bisa. Terlalu sedikit warna dalam kematian. Dalam rasa sakit. Tapi itu bukan satu-satunya hal di dunia ini. Itu bukan satu-satunya yang dimiliki Suriah. Suriah pernah menjadi pusat dunia. Penemuan dan ilmu lahir di sini; mereka membangun dunia. Sejarah kita ada di Istana Al-Zahrawi, di masjid-masjid kita, di bumi kita."
  • "Fear is a cruel thing. The way it distorts thoughts, transforming them from molehills into mountains." "Ketakutan itu kejam. Cara ia memelintir pikiran, mengubah sesuatu yang kecil menjadi gunung."
  • "It doesn't hurt for you to think about your future. We don't have to stop living because we might die. Anyone might die at any given moment, anywhere in the world. We're not an exception. We just see death more regularly than they do." "Tidak ada salahnya memikirkan masa depanmu. Kita tidak harus berhenti hidup hanya karena kita mungkin mati. Siapa pun bisa mati kapan saja, di mana saja di dunia ini. Kita bukan pengecualian. Kita hanya lebih sering melihat kematian daripada mereka."
  • "For every life I can’t save during my shift, one more drop of blood becomes a part of me. No matter how many times I wash my hands, our martyrs’ blood seeps beneath my skin, into my cells. By now it’s probably encoded in my DNA." "Untuk setiap hidup yang tidak bisa kuselamatkan selama tugasku, satu tetes darah lagi menjadi bagian diriku. Tidak peduli berapa kali aku mencuci tangan, darah para syuhada meresap ke bawah kulitku, ke dalam sel-selku. Sekarang mungkin sudah tertulis dalam DNA-ku."
  • "We are stripped from our choices, so we latch onto what will ensure our survival." "Kita dirampas dari pilihan kita, hingga akhirnya kita berpaut pada apa pun yang bisa menjamin kelangsungan hidup kita."
  • "Time is the best medicine to turn our bleeding wounds to scars, and our bodies might forget the trauma, our eyes might learn to see colours as they should be seen, but the cure doesn't extend to our souls." "Waktu adalah obat terbaik untuk mengubah luka berdarah menjadi bekas. Dan tubuh kita mungkin lupa trauma itu, mata kita mungkin belajar melihat warna sebagaimana mestinya, tetapi penyembuhannya tidak sampai ke jiwa." [2]
  • " Kehidupan itu lebih dari sekadar bertahan hidup."
  • "Tidak ada negeri lain di dunia ini yang mencintaimu lebih daripada negerimu sendiri."
  • "Kalau kau tertekan dan larut dalam kesakitan, kau tidak akan mampu menolong orang lain. Tidak seorang pun pantas menangani kengerian seperti ini. Terlebih lagi seorang semuda dirimu."
  • "Jangan hanya berfokus pada kegelapan dan kesedihan. Kalau kau melakukan itu, kau tidak akan bisa melihat cahaya, bahkan yang menyoroti wajahmu."
  • "Dan, jangan lupa berdoa. Tuhan mendengarkan doa-doa kita ketika hujan turun."
  • "Aku tidak akan membiarkan mereka mengendalikan ketakutanku."
  • "Semua orang menjalani takdir yang berlainan. Bagaimanapun keadaannya, paling tidak kita tetap memegang kebenaran."
  • "Berjanjilah untuk terus mencari kebahagiaan. Itu akan menjadikan kenanganmu lebih indah." [3]
  • "Takdir memang memiliki sulur-sulur benangnya, tetapi kitalah yang merajutnya dengan tindakan dan pilihan kita. Keimananku pada takdir tidak membuatku pasif." [4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Zoulfa Katouh (dalam bahasa Inggris). 2025-11-27.
  2. "Zoulfa Katouh Quotes (Author of As Long as the Lemon Trees Grow)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-06.
  3. Milla (2024-06-09). "10 Kutipan Menyentuh Novel As Long As The Lemon Trees Grow". IDN Times Jateng. Diakses tanggal 2025-12-06.
  4. "Zoulfa Katouh Quote: "Takdir memang memiliki sulur-sulur benangnya, tetapi kitalah yang merajutnya dengan tindakan dan pilihan kita...."". quotefancy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-06.