Zainab binti Ali
Sayyidah Zainab Al-Kubra Radhiyallahu 'Anhu lahir pada 5 Jumadil Awwal di tahun kelima atau keenam Hijriah di Madinah. Penamaan Zainab diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melalui pesan Ilahi dan wahyu menamai putri tersebut dengan nama Zainab yang bermakna ‘pohon yang indah’ atau rangkapan dari dua kalimat “zainun” dan “abun” yang bermakna keindahan sang ayah [1]. Zainab Al- Kubro adalah cucu perempuan pertama Rasulallah saw., anak ketiga dari Sayyidah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib [2]. Sayyidah Zainab Al Kubra menjadi perempuan, yang saat itu memiliki posisi setara dengan lali. Jika kala itu laki-laki berhak bicara ilmu agama dan siasat perang, maka Sayyidah Zainab termasuk di dalamnya [3].
Kutipan untuk Gelar Kehormatan
[sunting | sunting sumber]Salah satu gelar termasyhur beliau ialah ‘Aqiilah’. Ibnu Duraid dalam karyanya ‘Jamharotul Loghah’ berkata: “Fulanah Aqiilatul qaum berarti perempuan itu ialah perempuan paling mulia dari kaumnya.” Aqiilah (sangat berakal) yang disandang Sayyidah Zainab al-Kubra, berupa kematangan dan kecerdasan akal tinggi.[4]
Sayyidah Zainab pernah mendengar dari ayahnya Imam Ali bahwa “Manusia tidak akan pernah mampu mengenal hakikat iman tanpa memiliki tiga hal dalam dirinya; pengetahuan akan agama, kesabaran di tengah kesulitan dan pengelolaan yang baik urusan kehidupannya.” Wanita mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya. Sungguh Sayyidah Zaenab sosok wanita tabah dan teguh yang patut diteladani.[4]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]“Ya, aku bersumpah demi Allah, perbanyaklah kalian menangis dan kurangilah tertawa kalian, sebab kalian telah mencoreng diri kalian sendiri dengan aib dan cela yang tidak dapat dihapuskan selamanya. Bagaimana mungkin kalian akan mampu untuk menghapuskan darah suci putra Nabi sedangkan orang yang kalian bunuh adalah cucu penghulu para nabi, poros risalah, penghulu pemuda surga,” ucapanya dihadapan Ibnu Ziyad.[1]
Hati Sayyidah Zainab telah dipenuhi oleh cinta pada Allah swt sejak usia sangat dini dilihat berdasarkan riwayat ketika beliau bertanya kepada ayahnya, "Ayahku sayang, apakah engkau mencintaiku?” Kemudian Imam Ali kw menjawab: “Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, kau adalah buah hatiku”. Lantas beliau berkata lagi: “Ayahku sayang, kecintaan hanyalah untuk Allah swt sementara kasih sayang untuk kita.”[5]
"Tantangan yang diterima kelompok sufi menjadi semakin berat. Tidak hanya sufi barangkali, tetapi juga kelompok yang mengandalkan intuisi, ingatan, atau pendekatan non teks dalam menjalankan tradisi keagamaannya. Penemuan kitab masa klasik itu menantang semua pihak yang bangunan pondasi teologis dan epistemologisnya tidak merujuk pada teks."[6]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 Warto'i (2023-07-28). "10 Asyura, Pesan Sayyidah Zainab: Perbanyaklah Menangis Kurangi Tertawa". Aktual.com. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ Publikasi, Divisi Media dan (2022-09-19). "Mengenal Sosok Sayyidah Zainab Al-Kubro". Al Munawwir Komplek Q. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ Geger, Redaksi (2023-02-21). "Sayyidah Zainab Al Kubra, Cucu Nabi yang Melampaui Zaman". geger.id. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ 4,0 4,1 Online, Ikmal (2015-04-10). "Sayyidah Zainab al-Kubra :Kesabarannya seperti permata yang menghiasi jiwanya". IKMAL Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ Ansarian, Hossein. "Mengenang Sayyidah Zainab, Zain Abiha, Cucu Rasulullah Saw". Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ Ferdiansyah, Hengki (2024-08-15). "Kitab Sezaman dan Makam Palsu: Polemik Makam Cucu Rasulullah di Mesir Awal Abad 20". Islami[dot]co (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-20.