Xiye Bastida
Xiye Bastida (Mexico, 18 April 2002) is a student at the University of Pennsylvania, where she is studying Environmental Studies with a concentration in Policy. This young activist has since become a prominent voice in the Fridays For Future movement, co-founding the Re-Earth Initiative and speaking at various conferences and events about Indigenous cosmology, land management, and the disproportionate impact of climate change on marginalized communities. [1] Dia merupakan mahasiswa di University of Pennsylvania, tempat ia menempuh studi Environmental Studies dengan konsentrasi kebijakan. Aktivis muda ini kemudian menjadi salah satu suara penting dalam gerakan Fridays For Future, ikut mendirikan Re-Earth Initiative, serta berbicara di berbagai konferensi dan acara mengenai kosmologi masyarakat adat, pengelolaan lahan, dan dampak krisis iklim yang tidak proporsional terhadap komunitas-komunitas yang termarjinalkan.

Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Something that my parents taught me very early on was that our culture is only possible because of our ecosystem and our biodiversity. Without the lagoon, without the fish, and without the tule, we wouldn’t be who we are." "Salah satu hal yang orang tua saya ajarkan sejak sangat dini adalah bahwa budaya kami hanya bisa ada karena ekosistem dan keanekaragaman hayati kami. Tanpa laguna, tanpa ikan, dan tanpa tumbuhan tule, kami tidak akan menjadi diri kami yang sekarang."
- "Indigenous communities who have experienced extraction, they are already rebuilding. We are not seeing the climate crisis as this big end and this big apocalypse because we have already experienced the big apocalypse. So when you’ve experienced the end already, anything that comes after that is a blessing. It’s already us persevering. It’s resiliency." "Komunitas adat yang telah mengalami praktik ekstraksi sebenarnya sudah mulai membangun kembali. Kami tidak memandang krisis iklim sebagai akhir besar atau kiamat besar, karena kami sudah pernah mengalami kiamat itu. Jadi ketika kamu sudah pernah mengalami akhir, apa pun yang datang setelahnya adalah sebuah anugerah. Itu adalah bentuk kami bertahan. Itu adalah ketangguhan."
- "I was always supposed to return. I feel a duty to my land and the fight in Latin America." "Saya memang selalu ditakdirkan untuk kembali. Saya merasakan tanggung jawab terhadap tanah saya dan perjuangan di Amerika Latin."
- "We become so attached to our echo chamber, we forget that there’s over a billion people on the Earth who have never heard the words ‘climate change’ at all." "Kita menjadi terlalu terikat pada ruang gema kita sendiri, hingga lupa bahwa ada lebih dari satu miliar orang di Bumi yang bahkan belum pernah mendengar istilah ‘perubahan iklim’ sama sekali." [2]
- "The only individual thing we should all do is find community in climate solutions." "Satu-satunya hal yang perlu kita lakukan sebagai individu adalah menemukan komunitas dalam solusi iklim." [3]
- "Earth is our home. It gives you air, water and shelter. Everything we need. All it asks is that we protect it." "Bumi adalah rumah kita. Ia memberi kita udara, air, dan tempat berlindung. Segala sesuatu yang kita butuhkan. Yang dimintanya hanyalah agar kita melindunginya."
- "Our lake was drying up because we didn’t have any rain. We live with the cycles of Earth, and for rain to not come when it’s rainy season — that’s crazy. When it doesn’t rain, the land gets dry and we depend on the land. It’s our support system. Then we had massive amounts of rain that wouldn’t stop." "Danau kami mengering karena tidak turun hujan. Kami hidup mengikuti siklus Bumi, dan ketika hujan tidak datang pada musim hujan — itu benar-benar tidak masuk akal. Saat hujan tidak turun, tanah menjadi kering, padahal kami bergantung pada tanah. Tanah adalah sistem penopang hidup kami. Lalu tiba-tiba datang hujan dalam jumlah besar yang tidak berhenti."
- "Wherever you are, the climate crisis is affecting everyone, everywhere. I felt like I needed to do something." "Di mana pun kamu berada, krisis iklim memengaruhi semua orang, di mana saja. Saya merasa harus melakukan sesuatu."
- "We don’t want people to suffer from the climate crisis to realize we are in a crisis. We need to change our culture and change our narrative. For too long, the narrative has been that this is some big distant thing that will happen in the year 2100. But pollution is here. Heatwaves are here. Wildfires are here. Melting ice caps are here. Floods are here. Category 5 hurricanes are here. It’s here already." "Kita tidak ingin orang-orang harus menderita akibat krisis iklim baru menyadari bahwa kita sedang berada dalam krisis. Kita perlu mengubah budaya dan mengubah narasi. Terlalu lama narasi yang berkembang adalah bahwa ini sesuatu yang besar dan jauh, yang baru akan terjadi pada tahun 2100. Padahal polusi sudah ada. Gelombang panas sudah ada. Kebakaran hutan sudah ada. Es yang mencair sudah ada. Banjir sudah ada. Badai kategori 5 sudah ada. Krisis ini sudah terjadi sekarang."
- "She’s been able to articulate the climate crisis very well. Her consistency and her message has been perfect. Her message is to unite behind the science. We need to recognize the science. There is nothing political about her. She wants to empower other youth to be seen and recognized around the world, and she really lifts other voices up. It’s amazing to see her moral compass. She is a reflection of all of us. We see ourselves reflected in her because her message is about young people." "Dia mampu mengartikulasikan krisis iklim dengan sangat baik. Konsistensi dan pesannya sangat kuat. Pesannya adalah untuk bersatu di belakang sains. Kita perlu mengakui sains. Tidak ada yang bersifat politis dari dirinya. Dia ingin memberdayakan anak-anak muda lain agar dilihat dan diakui di seluruh dunia, dan dia benar-benar mengangkat suara-suara lain. Sangat luar biasa melihat kompas moralnya. Dia adalah cerminan kita semua. Kita melihat diri kita tercermin dalam dirinya karena pesannya adalah tentang kaum muda." [4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Xiye Bastida Biography: The Climate Activist and Co-Founder of Re-Earth Initiative | BroadBiography" (dalam bahasa American English). 2023-07-26. Diakses tanggal 2025-12-19.
- ↑ November 22; Justice, 2024Social. "Xiye Bastida Looks to Her Ancestors to Fight the Climate Crisis". Cero Magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-19. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Meinch, Tree (2025-05-14). "What can individuals do about climate change? Find community. » Yale Climate Connections". Yale Climate Connections (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-19.
- ↑ Joung, Nina (2019-09-19). "Meet Xiye Bastida, America's Greta Thunberg". Peril & Promise (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-19.