Lompat ke isi

Wu Zetian

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Wu Zhao (624–705), yang berasal dari keluarga kaya, lahir di Kabupaten Wenshi, Provinsi Shanxi. Dikenal sebagai Kaisar Wanita Wu Zetian, dengan kecerdasan yang luar biasa, kompetensi politik yang istimewa, dan ambisi yang sangat besar, ia memerintah sebagai "Kaisar Suci dan Ilahi" dari Dinasti Zhou Kedua (690–705) selama lima belas tahun.[1] Ia mengendalikan banyak urusan negara sejak suaminya, Kaisar Gaozong (1107-1187) meninggal.

Wu Zetian berkuasa sebagai kaisar selama 15 tahun, tapi pada kenyataannya ia berkuasa selama 50 tahun dianggap sebagai salah satu pemimpin paling berkuasa dan kontroversial dalam sejarah Tiongkok kuno. Hal tersebut dikarenakan metode pemerintahannya dan kemungkinan besar cara yang ia gunakan untuk meraih kekuasaan.

Permaisuri Wu merupakan tokoh penting dalam sejarah Tiongkok karena ia adalah wanita pertama dan satu-satunya yang memerintah Tiongkok. Tidak seperti kebanyakan wanita pada masa itu, Wu menerima pendidikan yang baik dan sangat terampil dalam membaca, menulis, dan berbicara di depan umum. Kemampuan ini membantunya meraih kekuasaan dan secara sistematis mengendalikan Tiongkok. Saat berkuasa, Wu mengatur pemerintahan seefektif mungkin. "Di bawah pemerintahan Wu, biaya militer dipangkas, pajak dipotong, gaji pegawai berprestasi dinaikkan, pensiun diberi tunjangan, dan tanah luas dekat ibu kota diubah menjadi lahan pertanian," tulis Mary Anderson dalam bukunya, Hidden Power.[2]

Wu Zetian wafat pada usia 82 tahun. Sebelum meninggal dunia, ia mewariskan takhta kaisar kepada putranya dan memulihkan nama negara menjadi Tang.[3]

Kutipan Permaisuri Wu Zetian

[sunting | sunting sumber]
  • Seorang perempuan yang memegang kekuasaan tertinggi adalah sebuah kekejian, sebuah penyimpangan dari tatanan alam dan manusia.
  • Saya dapat mengendalikannya,” kata Wu Zetian. “Tetapi saya membutuhkan tiga hal: cambuk besi, gada besi, dan belati. Jika cambuk besi tidak berhasil, maka kepala akan dipukul dengan gada besi. Dan jika masih tidak menurut, maka tenggorokan akan dipotong dengan belati.” Kekuasaan, tampaknya, berasal dari rasa takut dan dominasi.
  • Kata-kata yang begitu indah, namun meskipun panjang, mereka hanya berfokus pada gender. Seseorang hanya bisa menyimpulkan bahwa pencapaianku tak bisa dipersoalkan."
  • "Meski aku berjalan sendiri, jalan ini dimulai dariku.[4][5][6]
  • "Bagaimana Ibu tahu bahwa bukan merupakan keberuntunganku bisa bertemu dengan 'Putra Langit' (julukan kaisar Tiongkok)? Mengapa Ibu menangis seperti anak kecil?"[2]
  • "Seseorang tak mungkin jadi perempuan terkaya sepanjang sejarah, tanpa pertumpahan darah,"[2]
  • "Saya terlebih dulu mencambuknya, kalau kuda ini tidak tunduk, saya akan memukul kepalanya, kalau kuda itu tetap tidak menurut, akan saya pancung lehernya."[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Wu Zhao: Ruler of Tang Dynasty China". Association for Asian Studies (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-21.
  2. 2,0 2,1 2,2 Kristanti, Elin Yunita (2016-02-03). "'Skandal Terlarang' Wu Zetian, Wanita Terkaya Sepanjang Masa". Liputan 6.com. Diakses tanggal 2025-12-28.
  3. author, author (2006-04-28). "Kaisar Wanita Tiongkok Wu Zetian". China radio international. Diakses tanggal 2025-12-28.
  4. study.com https://study.com/learn/lesson/wu-zetian-biography-facts-quotes.html. Diakses tanggal 2025-11-15.
  5. "Wu Zetian, Wanita Paling Kontroversial di Kekaisaran Tiongkok - Halaman 3 - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-11-15.
  6. "Kisah Hero ke-129 MLBB Wu Zetian". Facebook. 24 Desember 2024. Diakses tanggal 2025-November-15. ;
  7. "china radio international". indonesian.cri.cn. Diakses tanggal 2026-01-31.