Lompat ke isi

Wangari Maathai

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Wangari Muta Maathai (Kenya, 1 April 1940 - Nairobi, 25 September 2011) ) adalah seorang aktivis lingkungan dan politik dari Kenya yang menjadi wanita Afrika pertama yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2004, diakui atas kontribusinya pada pembangunan berkelanjutan, demokrasi, dan perdamaian. Ia adalah wanita pertama di Afrika Timur dan Tengah yang meraih gelar doktor, dan kemudian menjadi profesor di University of Nairobi. Maathai mendirikan Gerakan Sabuk Hijau (Green Belt Movement) pada tahun 1977, sebuah organisasi akar rumput yang berfokus pada penanaman pohon bersama kelompok wanita untuk melestarikan lingkungan, mencegah erosi, dan pada saat yang sama meningkatkan kualitas hidup mereka dan memperjuangkan hak-hak masyarakat, yang hingga kini telah berhasil menanam lebih dari 20 juta pohon. Perjuangannya yang gigih melawan perampasan lahan dan penebangan hutan yang sembarangan di Kenya sering membuatnya berkonflik dengan rezim otoriter saat itu, tetapi ia kemudian terpilih menjadi anggota Parlemen dan diangkat sebagai Asisten Menteri Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam, dan Margasatwa Kenya.[1]

  • Pendidikan, jika benar-benar berarti, seharusnya tidak menjauhkan orang dari tanah, tetapi menanamkan rasa hormat yang lebih besar terhadapnya, karena orang yang berpendidikan mampu memahami apa yang sedang hilang. Masa depan planet ini adalah urusan kita semua, dan kita semua harus melakukan apa pun yang kita bisa untuk melindunginya. Seperti yang saya katakan kepada para penjaga hutan dan para perempuan: kamu tidak membutuhkan diploma untuk menanam pohon.
  • Sebuah pohon memiliki akar di tanah namun menjulang ke langit. Ini mengingatkan kita bahwa untuk bercita-cita tinggi kita harus berakar kuat, dan tidak peduli seberapa tinggi kita melangkah, dari akar kitalah kita mendapatkan kekuatan. Ini mengingatkan semua dari kita yang telah meraih kesuksesan bahwa kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal. Itu berarti bahwa tidak peduli betapa kuatnya kita dalam pemerintahan atau berapa banyak penghargaan yang kita terima, kekuatan dan kemampuan kita untuk mencapai tujuan bergantung pada rakyat, mereka yang bekerja dalam diam, yang merupakan tanah tempat kita tumbuh, bahu tempat kita berdiri.
  • Akhirnya saya bisa melihat bahwa jika saya memiliki kontribusi yang ingin saya berikan, saya harus melakukannya, terlepas dari apa kata orang. Bahwa saya baik-baik saja sebagaimana adanya. Bahwa tidak apa-apa menjadi kuat.
  • Kamu tidak membutuhkan diploma untuk menanam pohon.
  • Semakin tinggi seseorang naik dalam tangga sosial, semakin sedikit perempuan yang ada di sana.
  • Ketika kita menanam pohon, kita menanam benih-benih perdamaian dan harapan. Kita juga mengamankan masa depan anak-anak kita.
  • Apa yang orang lihat sebagai keberanian sebenarnya adalah ketekunan.
  • Pohon adalah simbol hidup dari perdamaian dan harapan. Sebuah pohon memiliki akar di tanah tetapi menjulang ke langit. Ia mengajarkan bahwa untuk bercita-cita tinggi kita harus tetap membumi.
  • Akhirnya saya bisa melihat bahwa jika saya memiliki kontribusi yang ingin saya berikan, saya harus melakukannya, terlepas dari apa kata orang. Bahwa saya baik-baik saja sebagaimana adanya. Bahwa tidak apa-apa menjadi kuat.[2]
  • Jika kita bisa mengirim manusia ke bulan, mengapa kita tidak bisa menanam pohon?
  • Perempuan Afrika pada umumnya perlu mengetahui bahwa tidak apa-apa bagi mereka untuk menjadi diri mereka sendiri, untuk melihat jati diri mereka sebagai kekuatan, dan terbebas dari rasa takut serta dari diam.
  • Dalam beberapa dekade, hubungan antara lingkungan, sumber daya, dan konflik mungkin akan terasa sama jelasnya seperti hubungan yang kita lihat hari ini antara hak asasi manusia, demokrasi, dan perdamaian.
  • Perubahan datang dari hal-hal kecil yang dilakukan warga negara. Itulah yang akan membuat perbedaan. Hal kecil saya adalah menanam pohon.
  • Ada yang mengatakan bahwa AIDS berasal dari monyet, dan saya meragukannya karena kita telah hidup bersama monyet sejak zaman dahulu. Ada yang mengatakan itu adalah kutukan dari Tuhan, tetapi saya mengatakan itu tidak mungkin.
  • Ada budaya umum di negara ini untuk menebang semua pohon. Hal itu membuat saya sangat marah karena semua orang menebang tetapi tidak ada yang menanam.
  • Kita sangat suka menyalahkan orang miskin atas kerusakan lingkungan. Namun sering kali pihak yang berkuasa, termasuk pemerintah, yang bertanggung jawab.
  • Kita perlu mempromosikan pembangunan yang tidak merusak lingkungan kita.
  • Perempuan bertanggung jawab atas anak-anak mereka, mereka tidak bisa hanya duduk diam, membuang waktu, dan melihat anak-anak mereka kelaparan.[3]
  • You cannot protect the environment unless you empower people, you inform them, and you help them understand that these resources are their own, that they must protect them.[4]
  • Anda tidak dapat melindungi lingkungan kecuali anda memberdayakan masyarakat, anda memberi mereka informasi, dan anda membantu mereka memahami bahwa sumber daya ini adalah milik mereka sendiri, dan bahwa mereka harus melindunginya.[4]
  • We cannot tire or give up. We owe it to the present and future generations of all species to rise up and walk![4]
  • Kita tidak boleh lelah atau menyerah. Kita berutang kepada generasi sekarang dan masa depan dari semua spesies untuk bangkit dan terus melangkah![4]
  • I have always believed that, no matter how dark the cloud, there is always a thin, silver lining, and that is what we must look for.[4]
  • Saya selalu percaya bahwa, tidak peduli seberapa gelapnya langit, selalu ada semburat cahaya yang akan muncul, dan itulah yang harus kita cari.[4]
  • We created a movement that was not only taking action to save the environment, but also educating itself about the responsibility we have as citizens to change the Government and demand better governance.[5]
  • Kami menciptakan sebuah gerakan yang tidak hanya mengambil tindakan untuk menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mendidik dirinya sendiri tentang tanggung jawab yang kami miliki sebagai warga negara untuk mengubah pemerintahan dan menuntut tata kelola pemerintahan yang lebih baik.[5]
  • A lot of women get encouraged by a vision and aspiration, that you're not putting a limit to yourself.[5]
  • Banyak perempuan terdorong oleh visi dan aspirasi, yaitu tidak memberikan batasan pada diri anda sendiri.[5]
  • If a clean and healthy environment is a right, you cannot gain this right unless you have a democratic government that respects and acknowledges rights. If we do not have citizens who acknowledge these rights, and also assume their responsibilities, we're not going to have a clean and good environment. If people struggle over resources, you're going to have conflicts, not peace.[6]
  • Jika lingkungan yang bersih dan sehat adalah sebuah hak, anda tidak dapat memperoleh hak ini kecuali anda memiliki pemerintahan demokratis yang menghormati dan mengakui hak-hak. Jika kita tidak memiliki warga negara yang mengakui hak-hak ini, dan juga memikul tanggung jawab mereka, kita tidak akan memiliki lingkungan yang bersih dan baik. Jika masyarakat berebut sumber daya, anda akan mendapatkan konflik, bukan perdamaian.[6]
  • The planting of trees is the planting of ideas. By starting with the simple step of digging a hole and planting a tree, we plant hope for ourselves and for future generations. Through the process of mobilizing people to action, Green Belt Movement addresses a wide range of issues that directly affect the lives of individuals, particularly women, and their families, including education, access to water, equity, and reproductive health. People then begin to stand up for their rights and those of their communities. It is their empowerment that truly leads them to decide to prioritize the environment, good governance, and cultures of peace.[7]
  • Penanaman pohon adalah penanaman ide. Dengan memulai langkah sederhana menggali lubang dan menanam pohon, kita menanam harapan bagi diri kita sendiri dan bagi generasi mendatang. Melalui proses memobilisasi masyarakat untuk bertindak, Gerakan Sabuk Hijau (Green Belt Movement) mengatasi beragam isu yang secara langsung memengaruhi kehidupan individu, terutama perempuan, dan keluarga mereka, termasuk pendidikan, akses terhadap air, kesetaraan, dan kesehatan reproduksi. Masyarakat kemudian mulai memperjuangkan hak-hak mereka dan hak-hak komunitas mereka. Pemberdayaan merekalah yang benar-benar menuntun mereka untuk memutuskan memprioritaskan lingkungan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan budaya perdamaian.[7]
  • We can work together for a better world with men and women of goodwill, those who radiate the intrinsic goodness of humankind. To do so effectively, the world needs a global ethic with values which give meaning to life experiences and, more than religious institutions and dogmas, sustain the non-material dimension of humanity.[7]
  • Kita dapat bekerja sama untuk dunia yang lebih baik dengan pria dan wanita yang berkeinginan baik, mereka yang memancarkan kebaikan hakiki umat manusia. Untuk melakukannya secara efektif, dunia membutuhkan etika global dengan nilai-nilai yang memberi makna pada pengalaman hidup dan, lebih dari institusi dan dogma agama, menopang dimensi non-material kemanusiaan.[7]
  • Faced with the challenges of climate change, environmental degradation, food shortages, worsening poverty and the global financial downturn, it is ever more important that we double our efforts to protect and rehabilitate the environment, reduce emissions of greenhouse gases, and provide especially the smallholder farmers around the world with sustainable ways of increasing their production and meeting their livelihood needs. [8]
  • Dihadapkan pada tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, kekurangan pangan, memburuknya kemiskinan, dan kemerosotan keuangan global, menjadi semakin penting bagi kita untuk melipatgandakan upaya kita untuk melindungi dan merehabilitasi lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan secara khusus menyediakan cara-cara yang berkelanjutan bagi petani skala kecil di seluruh dunia untuk meningkatkan produksi mereka dan memenuhi kebutuhan mata pencaharian mereka.[8]
  • Sustainable management of the resources is only possible if we practice good governance, which calls for respect for the rule of law, respect for human rights, a willingness to give space and a voice to the weak and the more vulnerable in our societies; that we respect the voice of the minority, even while accepting the decision of the majority, and respect diversity. Good governance seeks justice and equity for all irrespective of race, religion, gender, and any other parameters, which man uses to discriminate and exclude. Good governance is indeed inclusive and seeks participatory democracy.[9]
  • Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan hanya mungkin jika kita mempraktikkan tata kelola pemerintahan yang baik , yang menuntut adanya penghormatan terhadap supremasi hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kemauan untuk memberikan ruang dan suara kepada pihak yang lemah dan lebih rentan dalam masyarakat kita; bahwa kita menghormati suara minoritas, bahkan saat menerima keputusan mayoritas, dan menghormati keberagaman. Tata kelola pemerintahan yang baik mengupayakan keadilan dan kesetaraan bagi semua tanpa memandang ras, agama, gender, dan parameter lain apa pun yang digunakan manusia untuk melakukan diskriminasi dan pengucilan. Tata kelola pemerintahan yang baik pada dasarnya bersifat inklusif dan mengupayakan demokrasi partisipatif.[9]
  • Without skills, people will always find themselves locked out of productive, rewarding economic activities that would give them a better share of their national wealth. They find themselves unemployed or underemployed and they are certainly underpaid. They may wish to secure a well-paid job, but if they do not have the skills and the tools, nobody will hire them. Consequently they will not be able to meet their needs for housing, healthcare, nutrition, and other family and personal needs. They get trapped in a vicious cycle of poverty and sometimes crime.[10]
  • Tanpa keterampilan, masyarakat akan selalu terhalang dari kegiatan ekonomi yang produktif dan bermanfaat yang akan memberi mereka bagian yang lebih baik dari kekayaan nasional mereka. Mereka mendapati diri mereka menganggur atau bekerja di bawah potensi dan mereka pasti dibayar murah. Mereka mungkin ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak, tetapi jika mereka tidak memiliki keterampilan dan alat yang dibutuhkan, tidak ada yang akan mempekerjakan mereka. Akibatnya, mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan mereka akan perumahan, layanan kesehatan, gizi, dan kebutuhan keluarga serta pribadi lainnya. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan terkadang kejahatan.[10]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Nobel Peace Prize 2004". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-30.
  2. "Wangari Maathai Quotes (Author of Unbowed)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-11-19.
  3. "Wangari Maathai QUOTES". www.ajfand.net. Diakses tanggal 2025-11-19.
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 "Wangari Muta Maathai: A Life of Firsts". Environment (dalam bahasa Inggris). 2025-11-30. Diakses tanggal 2025-11-30.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 "Interview with Wangari Maathai | New Internationalist". newint.org (dalam bahasa Inggris). 2004-07-02. Diakses tanggal 2025-11-30.
  6. 6,0 6,1 "Interview: 2004 Nobel Peace Prize winner, Wangari Maathai - March/April 2005 - Sierra Magazine - Sierra Club". vault.sierraclub.org. Diakses tanggal 2025-11-30.
  7. 7,0 7,1 7,2 7,3 "Lesson 3:: African Biodiversity and Conservation". courseware.e-education.psu.edu. Diakses tanggal 2025-11-30.
  8. 8,0 8,1 http://www.cstraight.com, Cstraight Media-. "Prof Wangari Maathai's keynote address during the 2nd World Congress of Agroforestry | The Green Belt Movement". www.greenbeltmovement.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
  9. 9,0 9,1 http://www.cstraight.com, Cstraight Media-. "Sustained Development, Democracy, and Peace in Africa | The Green Belt Movement". www.greenbeltmovement.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
  10. 10,0 10,1 http://www.cstraight.com, Cstraight Media-. "Rise Up and Walk! The Third Annual Nelson Mandela Lecture | The Green Belt Movement". www.greenbeltmovement.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.