Wai Wai Nu
Tampilan
Wai Wai Nu adalah seorang aktivis Burma yang mengadvokasikan hak dan kesetaraan seluruh suku di Myanmar, termasuk Rohingya. Ia masuk BBC 100 Women pada 2014. Pada 2017, ia diangkat menjadi salah satu Next Generation Leaders oleh majalah Time. [1][2]

Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “I feel I was privileged when I compare myself to the other young girls and women that I interacted with while I was in prison,” Artinya: “Saya merasa beruntung ketika membandingkan diri saya dengan gadis-gadis muda dan perempuan lain yang berinteraksi dengan saya saat saya di penjara,”[3]
- “Most of them were unaware of how corrupt the political system was. I had a dream, a vision, whether or not I could achieve it because of my imprisonment was secondary. I felt I could help them have a dream.” Artinya: "Kebanyakan dari mereka tidak menyadari betapa korupnya sistem politik. Saya punya mimpi, sebuah visi, dan apakah saya bisa mencapainya karena pemenjaraan saya adalah hal yang sekunder. Saya merasa bisa membantu mereka memiliki mimpi."[3]
- “I started my activism when I was 25-years-old. Apart from the many challenges, I was faced with patriarchy from within my community initially as there were close no women in leadership roles. Now I see an acceptance from the same community, and I am proud to have been able to break this stereotype”.Artinya: "Saya memulai aktivisme saya ketika berusia 25 tahun. Terlepas dari banyaknya tantangan, awalnya saya juga dihadapkan dengan budaya patriarki di komunitas saya karena hampir tidak ada perempuan yang memegang peran kepemimpinan. Sekarang saya melihat adanya penerimaan dari komunitas yang sama, dan saya bangga telah mampu mendobrak stereotip ini."[3]
- “I speak Burmese fluently, I grew up in the city, and I think, through my activism, I have been able to break the stereotypes created in part by the media and address the Islamophobia around my community, which is seen by so many as alien,”Artinya: “Saya fasih berbahasa Burma, saya tumbuh besar di kota, dan saya rasa, melalui aktivisme saya, saya telah mampu mendobrak stereotip yang sebagian diciptakan oleh media dan mengatasi Islamofobia di sekitar komunitas saya, yang dianggap asing oleh banyak orang,”[3]
- “We (Rohingya) have played an important role in Burmese history, in its independence, and I want to remind the world of this too. Today a lot of young people see me as someone who did not give up and tell me how my story inspires them to continue to achieve. I value this more than any achievement or award that I have ever received.” Artinya: "Kami (Rohingya) telah memainkan peran penting dalam sejarah Myanmar, dalam kemerdekaannya, dan saya ingin mengingatkan dunia akan hal ini juga. Saat ini, banyak anak muda melihat saya sebagai sosok yang pantang menyerah dan menceritakan bagaimana kisah saya menginspirasi mereka untuk terus berprestasi. Saya menghargai hal ini lebih dari pencapaian atau penghargaan apa pun yang pernah saya terima."[3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Wai Wai Nu". NGO Working Group on Women, Peace and Security (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-05.
- ↑ "Founder & Executive Director". Women's Peace Network (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-05.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 "From Political Prisoner to Champion of Human Rights - The Wai Wai Nu Story". www.globalissues.org (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2020-11-23. Diakses tanggal 2025-12-05.