Valentina Sagala
Tampilan
Valentina Sagala lahir di Jakarta, 9 Agustus 1977, adalah seorang aktivis perempuan dan pegiat hukum serta Hak Asasi Manusia (HAM). Ia pendiri Institut Perempuan yaitu sebuah organisasi nirlaba yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan melalui lembaganya secara konsisten melakukan advokasi terhadap undang-undang perlindungan bagi perempuan dan anak, memantau perumusan kebijakan dan penegakan hukum, dan mengembangkan sekolah bagi feminis.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Yang berpenampilan rapi menarik bisa jadi pelaku kekerasan, begitu pula perempuan berpakaian tertutup bukan mustahil menjadi korban.[2]
- Kita juga perlu mengajarkan tentang konsensual kepada anak-anak agar mereka punya keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ dan memahami apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan orang lain kepada dirinya.[2]
- Kekerasan adalah wujud dari ketimpangan relasi kuasa. Maka siapa pun bisa menderita, apa pun jenis kelaminnya. [2]
- Perlu dipahami, feminisme bukan persoalan ‘perang jenis kelamin’ perempuan melawan laki-laki atau laki-laki menentang perempuan, melainkan tentang cara pandang.[2]
- Gerakan perempuan adalah kelompok penting yang akan mewarnai perjuangan dan peradaban dunia. Kelompok perempuan juga kerap mengalami penderitaan. [3]
- Ketika bicara RUU TPKS, satu pemaksaan kontrasepsi, dua pemaksaan sterilisasi. Waktu saya mendampingi pemerintah membuat, itu isunya sangat relate dengan sexual and reproductive health right. Sesuatu yang gender perspekftif memang harus ada di mana-mana untuk kemudian menemukan problem-problem yang menyangkut manusia. [4]
- Saat ini kita memang menghadapi pilkada, tapi terlepas dari pilkada tetap saja tidak dibenarkan adanya ujaran kebencian yang mendiskriminasi perempuan.[5]
- ada pembelajaran untuk mencapai kepastian hukum agar tidak lagi sembarang orang bisa menyebar hasutan yang berupa ujaran kebencian atas tubuh perempuan. [5]
- Kami harap presiden tegas dan serius untuk melindungi perempuan Indonesia salah satunya lewat perjuangan untuk mendesak DPR agar melahirkan kebijakan dalam bentuk Undang-undang. [6]
- Anak, terutama anak perempuan, rentan mengalami diskriminasi berlapis. Satu sebagai anak, dua sebagai perempuan. Mereka sering kali dianggap sebagai properti, mengalami diskriminasi dan rentan pernikahan di usia dini.[7]
- Bagi saya, perdamaian berangkat dari kehidupan yang paling personal, yaitu di rumah. Ketika berbicara soal perdamaian, maka seharusnya tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga. [7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Valentina Sagala – EMPATIKU". empatiku.or.id. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 "Valentina Sagala Konsisten Mengadvokasi Undang-Undang Terkait Perempuan dan Anak-anak". Elle Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ TV, Metro. "Banyak Hak Perempuan Masih Terabaikan". https://www.metrotvnews.com. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ "Perempuan, Hak Reproduksi dan Delapan Miliar Penduduk Bumi". VOA Indonesia. 2022-07-11. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 5,0 5,1 Benarkah ada 'ujaran kebencian dan ajakan kekerasan' terkait Pilkada Jakarta?.
- ↑ aktual, redaksi (2015-02-08). "Pemerintah Diminta Tegas Lindungi Perempuan". Aktual.com. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 7,0 7,1 FDVS. "Rotua Valentina Sagala Peduli Anak Perempuan". www.pesona.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-12-01. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)