Ungkapan Tradisional Dayak Halong
Ungkapan tradisional Dayak Halong adalah kalimat pendek yang menggambarkan dan menjadi tatanan nilai-nilai kehidupan di suku Dayak Halong. Nilai-nilai luhur yang terdapat di dalamnya tidak hanya berperan dalam mengatur perilaku antar individu ataupun masyarakat, tetapi juga hubungannya dengan alam lingkungan, serta hubungannya dengan Tuhan.[1]
Hubungan dengan Diri Sendiri
[sunting | sunting sumber]1. Tasusuran basumbi kuing
[sunting | sunting sumber]Makna: hendaklah menyadari kesalahan sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
2. Kibit lunek saorang, wa’u ngibit ulun
[sunting | sunting sumber]Makna: jika kita merasa sakit atas perlakuan yang tidak baik kepada kita, maka begitu pula yang orang lain rasakan.
3. Ha kapit hapau mae’ang
[sunting | sunting sumber]Makna: menjelekkan orang lain mudah, jika dia sendiri sudah dalam keadaan senang.
4. Laka sampuraka
[sunting | sunting sumber]Makna: sudah miskin, melarat, cacat, mempunyai tabiat yang jelek.
Hubungan dengan Sesama Manusia dalam Lingkup Sosial
[sunting | sunting sumber]1. Bila ipander ihanga badaholo
[sunting | sunting sumber]Makna: jangan sembarangan mengeluarkan perkataan sehingga dapat menyinggung perasaan orang lain.
2. Salajur manyalajur
[sunting | sunting sumber]Makna: mengerjakan dua atau tiga pekerjaan secara bersamaan.
3. Mararumba ta’ii
[sunting | sunting sumber]Makna: ikut-ikutan atau tidak mempunyai pendirian.
4. Sambut saluangan
[sunting | sunting sumber]Makna: suka menyela pembicaraan orang, saat orang belum selesai menyampaikan pendapat.
Hubungan dengan Tuhan
[sunting | sunting sumber]1. Matei rampasan
[sunting | sunting sumber]Makna: orang yang meninggal pada usia muda karena diguna-guna.
2. Pujud sumala
[sunting | sunting sumber]Makna: orang yang melakukan hubungan di luar nikah atau zina.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Hestiyana, Hestiyana (2020-09-18). Nilai-Nilai Luhur dalam Ungkapan Tradisional Suku Dayak Halong Balangan (dalam bahasa Inggris). Vol. 15. hlm. 15–33. ISSN 2721-4672.