Lompat ke isi

Tri Maharani

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Tri Maharani (lahir 31 Agustus 1971) aadalah dokter spesialisi toksinologi ular berbisa satu-satunya di Indonesia. Ia menginisiasi upaya pengumpulan data kasus gigitan ular di Indonesia karena belum adanya lembaga resmi pemerintah yang melakukannya. Ia juga turut mendirikan organisasi Remote Envenomation Consultancy Services (RECS) Indonesia pada 2015 serta Indonesia Toxinology Society (ITS) yang yang terdiri dari para konsultan kasus gigitan ular ataupun kasus keracunan hewan lainnya. Kedua lembaga tersebut bertujuan untuk mengurangi angka kematian akibat gigitan ular berbisa.[1]

  • "Datanya kacau balau di sini, karena ada pasien gigitan ular yang berobat ke dukun, atau meninggal di rumah, tidak tercatat, itu banyak. Dalam kondisi begini, data kita tidak valid."[2]
  • "Siapa mau riset sendiri, karena tidak dibayar? Sekolah pun saya bayar sendiri. Kurangnya dukungan yang nyata dari institusi negara dan masyarakat, menyebabkan tidak banyak orang yang mau belajar toksinologi. Menunggu pengertian mereka menjadi paham."[2]
  • "Ternyata masalahnya kompleks, pertama karena literasi bangsa kita yang kurang, dan kasus keracunan ini belum menjadi prioritas."[2]
  • “Kesalahan dalam penanganan justru bisa memperburuk kondisi korban. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat tahu langkah awal yang aman."[3]
  • "Jadi begini, menurutku sebelum menuju antivenom, di Indonesia harus dihapuskan cara-cara salah untuk first aid atau penanganan awal. Seperti aku latihkan ke mereka. Mereka harus lakukan cara first aid WHO, yaitu, dibuat tidak bergerak atau imobilisasi. Selama ini kan semua orang diikat, dikeluarkan darahnya, disedot, atau dibuat sayatan. Mereka pikir dengan itu bisa mengeluarkan venom. Ternyata, venom itu tidak lewat pembuluh darah, tapi lewat kelenjar getah bening, hingga tidak bisa keluar dengan cara-cara itu. Ia harus imobilisasi, supaya ketika tidak bergerak, tidak menjalar ke seluruh tubuh hingga tidak merusak semua organ dalam tubuh. Aku pernah membuat sebuah riset. Orang yang aku temui di pasar, di mal, di mana-mana, semua jawabannya sama, diikat. Artinya, bangsa Indonesia ini berada dalam ketidakmengertian first aid atas gigitan ular yang benar. Maka, pe er (pekerjaan rumah-red) seperti ini adalah mereka memberitahukan ke lingkungan, keluarga masing-masing, tentang first aid yang benar."[1]
  • "Artinya, begini, di Indonesia itu harus ada perubahan. Dari penanganan first aid salah ke penanganan yang benar. Setelah itu, baru tahap produksi antivenom karena antivenom itu mahal. Ya, semoga saja dengan resolusi WHO tadi WHO memproduksi semua antivenom untuk semua negara, hingga bisa gratis seperti HIV/AIDs. Bayangkan, antivenom ular Papua, harga beli dua sama dengan satu mobil, Rp80 juta!"[1]
  • "Untuk vaksin itu promosi. Kemudian stemcell itu promosi. Tapi untuk antivenom itu tidak. Karena mungkin itu tadi, riset mahal, terus tidak profit. Sekarang kan BUMN, jadi harus menghasilkan profit. Apakah laku atau tidak, apakah orang yang digigit ular sebanyak itu, apakah bisa membuat produksi terus seperti vaksin? Kalau antivenom kan tidak. Bisa saja tahun itu yang digigit banyak, lalu turun drastis. Itu yang disebut obat bukan promosi."[1]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 1,2 1,3 Nuswantoro (7 Juli 2019). "Tri Maharani Cerita soal Tangani Korban Ular Berbisa sampai Darurat Antivenom". Mongabay. Diakses tanggal 2025-12-02.
  2. 2,0 2,1 2,2 "Kisah satu-satunya dokter ahli gigitan ular berbisa di Indonesia – Bagaimana menangani gigitan ular berbisa?". BBC News Indonesia. 21 Juli 2025. Diakses tanggal 2025-12-05.
  3. Setiakawan, Agung (24 Oktober 2025). "dr Tri Maharani, Dokter Asal Kediri yang Dikenal Dunia karena Menangani Gigitan Ular". Netral News. Diakses tanggal 2025-12-05.