Lompat ke isi

Titah Asmaning Winedar

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Titah Asmaning Winedar atau Titah AW (Tulungagung pada 1993[1]) is an Indonesia-based freelance journalist who works across multiple platforms on the intersection between ecology, culture, and magic-realism, a genre of fiction and art. She has also contributed to prominent media outlets in Indonesia, including VICE Indonesia, Jakarta Post, Project Multatuli, Iklimku, and National Geographic Indonesia. Titah AWadalah seorang jurnalis lepas yang berbasis di Indonesia dan berkarya di berbagai platform, dengan fokus pada persinggungan antara ekologi, budaya, dan magis-realisme, sebuah genre dalam fiksi dan seni. Ia juga telah berkontribusi untuk berbagai media terkemuka di Indonesia, termasuk VICE Indonesia, Jakarta Post, Project Multatuli, Iklimku, dan National Geographic Indonesia. [2]

  • "Kami selama pengerjaan proses ini mungkin lebih ke pendalaman isu. Semua buku ini berbasis pada kisah nyata. Jadi kaya buku satu, Kelana Hutan Raya itu basisnya kami menggabungkan pengalaman anak-anak di hutan seluruh Indonesia. Jadi ceritanya kami gabung, ada hutan Sumatera, hutan Kalimantan, hutan Papua."
  • "Ada dua buku, Salawaku Pelindung Hutan dan Hutan Adalah Mama ini, kami memang fokus mengalih wahanakan kasus mengenai "All Eyes on Papua" suku Awyu. Jadi memang ceritanya dari suku Awyu, tokohnya juga terinspirasi dari suku Awyu. Kami interviewnya juga sama suku Awyu." [3]

Wawancara Tita AW dengan Berkarir.id

  • "Sebenarnya aku sempat mengingat-ingat kenapa aku bisa pengen bergelut di penulisan dan jurnalistik. Kalau ditarik banget akarnya, aku ingat bahwa dulu waktu SD aku punya kebiasaan, bapakku dulu punya langganan koran setiap pagi. Aku punya kebiasaan setiap pagi sambil sarapan punya tugas untuk menyiapkan koran yang akan dibaca bapak sebelum dia berangkat ke kantor. Diproses itu secara tidak sadar aku ternyata membaca. Itu titik awal aku kenalan sama jurnalistik. Aku semakin yakin apa yang kita alami semasa kita gede ada hubungannya dengan masa kecil. Kupikir itu titik awal aku tertarik di jurnalisme."
  • "Bayanganku dulu waktu masuk komunikasi ya habis lulus, melamar di koran, nyatanya setelah kuliah aku tahu kerja di koran harian itu berat banget dengan gaji yang tidak seberapa juga. Opo meneh (apa lagi) TV, aduh soro (susah) banget, aku mulai mencari alternatif kerja jurnalistik lain yang mungkin lebih cocok  menurutku. Terus kemudian aku kenal Warn!ng tahun 2013 awal yang berarti semester 2 kuliah."
  • "Pernah, aku pernah jadi content creator. Aku pernah waktu kuliah kerja jadi SMO (Social Media Optimization), cuma bertahan beberapa bulan. Advertising gitu pernah, ghost writer, aku pernah nulis buku tidak dengan namaku, mungkin yang kayak itu. Lainnya ya aku cukup beruntung bisa menemukan pekerjaan yang aku juga sukai."
  • "Penting, malah penting banget karena itu masuk dalam bagian dari branding-mu juga. Aku baru menyadari hal itu satu atau dua tahun terakhir. Dulu waktu masih di Warn!ng aku masih aktif nulis musik, sosial, politik. Aku dulu masih dikenal sebagai Titah AW penulis musik. Kemudian aku merasa kayaknya enggak di sini juga. Awal-awal aku di VICE tema tulisanku masih beragam. Kemudian aku tahu nama Febriana Firdaus, dia bikin thread di Instagram atau Twitter. Dia ngomong sebagai seorang freelance journalist harus punya gigs, gigs issue."
  • "Setelah kulihat, banyak fenomena budaya yang hubungannya dengan kearifan lokal, aku menyebutnya sebagai isu realisme magis. Itu salah satu genre yang dipopulerkan oleh Gabriel García Márquez. Realisme magis ialah genre yang memposisikan hal-hal di luar realitas magis."
  • "Kepekaan itu penting banget, kalau di jurnalistik melihat angle. Kemudian menjaga relasi, but not that fake, ya emang aku suka temenan jadi ya sudah, kayak temenan sama siapapun."
  • "Aku ketika belum suka sama tulisan yang aku garap tidak akan aku keluarin kemana-mana. Tulisan yang aku kirim ke editor itu pasti sudah melalui filterku sendiri. Aku pasti suka dengan tulisan itu. Aku sudah yakin it’s a good pieces that people should read. Jadi ketika ditolak, aku akan tetap pede. Mungkin belum tempatnya saja. Masing-masing media kan punya pembacanya masing-masing. Jadi mungkin tempatnya bukan di VICE atau bisa di media lain."
  • "Aku sering kehabisan ide sebenarnya. Sering kehabisan cara buat nyari angle, yang kulakukan adalah aku baca sastra, karena gaya penulisanku jurnalisme sastrawi. Ketika aku lagi susah nyari ide aku baca novel."
  • "Satu, kamu tidak mungkin jadi penulis kalau kamu bukan pembaca yang baik. Lebih khusus, perlakukan berita jadi cerita. Hanya dengan cara itu orang tidak akan cuma tahu, tapi akan mengerti. Bahkan, hal-hal yang paling absurd di dunia. Karena dunia itu penuh hal-hal semacam itu. Aku percaya kenapa banyak masalah, banyak konflik, banyak pertengkaran, ya karena kita simply tidak saling mengerti satu sama lain."
  • "Menulislah dan jangan ambisius menginspirasi orang lain, menulis yang menyenangkan saja. Dan yang menurutmu pantas untuk dikabarkan untuk banyak orang." [4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Titah AW". Warning Books (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-12.
  2. "Titah AW". Pulitzer Center (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-12.
  3. brilio.net (2024-08-11). "Ajak anak mengenal hutan, Greenpeace Indonesia sulap topik berat jadi ringan". brilio.net. Diakses tanggal 2025-12-12.
  4. "Titah AW: Freelance Writer, Menulis Untuk Hidup dan Hidup Dari Menulis - Berkarir.id". https://berkarir.id/ (dalam bahasa American English). 2020-11-24. Diakses tanggal 2025-12-12.