Lompat ke isi

Suciwati

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Suciwati pada 2019
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Suciwati (lahir 28 Maret 1968) adalah aktivis hak asasi manusia Indonesia dan istri dari Munir Said Thalib. Ia mendirikan Museum Omah Munir pada 2013 untuk mengenang perjuangan Munir dalam membela hak asasi manusia. Suciwati juga merupakan penggagas kampanye "Menolak Lupa", sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang kontribusi Munir dalam memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia di Indonesia.[1]

HAM dan pembunuhan Munir

[sunting | sunting sumber]
  • "Mencintai Indonesia adalah mencintai manusianya. Bukan hanya sumber daya alamnya, bukan hanya tanahnya, lautnya. Bukan benda-benda mati saja, tapi ada ruang di mana tujuan utamanya seharusnya bagaimana meningkatkan derajat manusianya juga. Itu yang tidak dimiliki penguasa hari ini, dan tentu saja sangat membuat miris."[2]
  • “Saya tidak pernah menaruh pada orang. Jadi, pada satu gerakan masyarakat sipil yang selalu saya harapkan."[3]
  • “...Kemudian juga lembaga negara terkait dalam kasus pembunuhannya. Dan itu tidak perlu harus jumlah angka orang yang terlibat, yang menjadi korban. Tapi, itu bagaimana negara membunuh warganya dan itu tersistematik.”[3]

Perempuan dan aktivisme

[sunting | sunting sumber]
  • "Perempuan lebih merasakan mengandung, membesarkan anak, kedekatan itu lebih jelas sehingga perlawanannya lebih konsisten dan lebih kepala batu. Bahwa ada memang (orang-orang) yang bisa dibeli dalam artian karena mereka kesulitan dalam ruang-ruang ekonomi, itu ya pasti tapi kita bisa melihat sangat sedikit perempuan yang bisa dibeli dibandingkan laki-laki."[2]
  • "Perempuan sangat rentan terhadap penindasan dan kekerasan berbasis gender. Dulu saat aku bicara soal kasus Munir, ada yang bilang: 'udah, kamu perempuan di rumah aja, urusin anakmu.' Seolah-olah aku nggak pernah ngurusin anakku. Pernah juga ada yang komentar ke saya: 'sudah diam, iklaskan saja.' Seolah-olah aku nggak pernah ikhlas akan kematian itu. Dan mereka pikir apa yang aku lakukan itu hanya karena dendam. Padahal semua itu salah."[2]
  • "Buat aku, perempuan Indonesia harus mendiri dalam berpikir dan mengambil tindakan. Banyak sekali perempuan yang hidupnya ditentukan oleh lingkungannya. Mereka tidak bisa menentukan pilihannya sendiri—diam saja atau berjuang untuk kemanusiaan dan keadilan."[2]
  • "Sering kali juga perempuan dilabeli dengan bermacam-macam stigma negatif. Misalnya, kalau pulang larut malam kita dianggap perempuan gampangan, bisa hamil di luar nikah, dan lain sebagainya. Teman-teman aktivis dan buruh familiar dengan stigma demikian. Jadi, saya pikir perempuan harus mandiri secara finansial dan mandiri dalam berpikir, supaya kita bisa terus menjadi diri sendiri."[2]   

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Werdiono, Defri (10 Desember 2018). "Suciwati: Penegakan Hukum Kejahatan Kemanusiaan Masa Lalu Dinilai Nol". Kompas. Diakses tanggal 2025-12-02.
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 "Cerita Mbak Suciwati: Mencintai Munir lewat Keberanian untuk Mencintai Keadilan dan Kebenaran". Amnesty International. Diakses tanggal 2025-12-01.
  3. 3,0 3,1 Safitri, Kiki (15 Agustus 2025). "21 Tahun Tanpa Kepastian, Suciwati Berharap Kematian Munir Dinyatakan Pelanggaran HAM Berat". Kompas. Diakses tanggal 2025-12-01.