Sri Wulandari Mangunsarkoro
Tampilan
Sri Wulandari Mangunsarkoro adalah seorang pejuang emansipasi, istri dari Sarmidi Mangunsarkoro atau lebih dikenal sebagai Ki Mangunsarkoro. Sri pernah menjadi ketua keputrian Jong Java cabang Salatiga serta menjadi ketua pertama dari organisasi Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari).[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Hari 22 Desember adalah hari nasional, sederajat kedudukannya dengan hari-hari nasional yang lain. Kami tak dapat menyetujui, kalau Hari 22 Desember yang kita namakan "HARI IBU” itu hanya menjadi harinya Ibu-ibu saja. Kalau bangsa kita mengenal Hari Satu Mei sebagai Hari Buruh, maka Hari 22 Desember adalah Hari Ibu. Karena justru hari 22 Desember itulah Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia membuka jalannya kearah pengabdian Bangsa dan Negaranya. Kongres Perempuan Indonesia ke-III yang diadakan di Bandung pada tahun 1938-lah yang mengambil keputusan, supaya hari 22 Desember itu didjadikan "HARI IBU” nasional. Hari Ibu yang mengandung arti sumbangsih para Ibu guna ke selamatan dan kebahagiaan Negara dan Rakyatnya."[2]
- "Pendidikan untuk anak perempuan sangat penting sehingga mereka perlu diberi akses sama luasnya dengan anak lelaki."[1]
- "Pendidikan untuk anak perempuan mestinya tidak sebatas tingkah laku tapi juga pelajaran yang diterima anak lelaki, seperti pengetahuan umum dan bahasa Belanda."[1]
- "Perasaan cemburu menjadi sumber kesengsaraan."[1]
- "Kesalahan dalam poligami terjadi pada diri kita sendiri. Poligami yang terjadi disebabkan kelemahan kebatinan dan kesucian manusia. Kelemahan tersebut karena sifat-sifat manusia tentang kurangnya pengetahuan tingginya derajat manusia dan hawa nafsu yang tidak dibawa kedalam arah perbaikan. Permasalahan yang berhubungan dengan hawa nafsu adalah bagaimana kita bisa menahan hawa nafsu tersebut."[3]
- “Saya tidak dapat dan tidak mau percaya bahwa laki-laki yang beradab dan terpelajar akan segera menjauhi pergaulan dengan perempuan yang tingkat kesopanan dan kecerdasannya sederajat dengan nya. Untuk menjatuhkan diri ke perempuan yang hina.”[4]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 1,2 1,3 Janti, Nur (2018-10-23). "Memperjuangkan Pendidikan dan Perlindungan untuk Perempuan". historia. Diakses tanggal 2025-11-18.
- ↑ Buku Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. Kementerian Penerangan. 1958. hlm. 63. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Megawati, Putri; Kumalasari, Dyah (2016). PEMIKIRAN SRI WULANDARI MANGUNSARKORO TENTANG PENDIDIKAN DAN WANITA (1923-1959). Risalah Vol 2 Edisi 8 Agustus Tahun 2016. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Printina, Brigida I. (2019). Merawat Memori Memupuk Kebangsaan: Komitmen Pada Cita-Cita Kongres Perempuan Indonesia (PDF). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)