Lompat ke isi

Soe Tjen Marching

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Soe Tjen Marching (Surabaya, 23 April 1971) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Ia juga dosen senior dalam bidang Bahasa dan Kebudayaan di SOAS University of London[1]. Soe Tjen Marching salah satu anak dari korban rezim Orde Baru. Sebagai penyintas, Soe Tjen selalu menolak untuk bungkam dalam melihat berbagai pelanggaran HAM di negeri ini. Dengan keterlibatannya pada setiap aktivitas kemanusiaan, Soe Tjen tak hentinya berkarya dan selalu kritis dalam menembus batas trauma yang dilaluinya sebagai keluarga korban ’65[2]

  • "If I don’t speak up, nothing will change!"[3]
  • "Bagi sel-sel ini, manusia layaknya alam semesta yang tak terjangkau, yang tak teraih, tak terlihat, tak dapat dipahami. Namun mereka dengan setia menjadi bagian dari kita, dan bekerja sama dengan seluruh milyaran sel lain demi hidup kita."
  • "Bila hidup adalah guru, aku seperti murid yang tak mampu menjawab pertanyaannya di depan kelas. Yang kuinginkan adalah menghilang, menghilang, menghilang dari tatapan murid lain yang mengejek. Lenyap dari segala pandangan mereka."
  • "Ketuaan adalah sebuah proses, bukan lompat tinggi. Dan kalau kita bertambah tua, dan bertambah dekat dengan liang lahat, mengapa harus dirayakan dengan nyanyian panjang umurnya?"
  • "Ketiadaan adalah ada. Karena bila ketiadaan adalah tiada, maka ia tak perlu lagi disebutkan, dikatakan, atau digambarkan."
  • "Bagi manusia hidup, masa lalu adalah bagian dari mereka sekarang. Karena itu, masa lalu sebenarnya tidak pernah lalu, karena selalu menjadi bagian masa depan. Namun bagiku, ia hanyalah sekumpulan kisah di mana aku adalah pemeran utamanya."
  • "Begitu cintanya mereka pada hidup. Hingga orang mati pun tidak diperkenankan tampil sebagai mayat."
  • "Rupanya adat itu seperti bahasa. Ia diciptakan manusia dan kemudian ganti menciptakan mereka, sehingga akhirnya manusia harus menurut pada calo adat, ahli adat yang bisa menyuruh-nyuruh manusia."
  • "Percayalah, bila kamu tidak dapat mengalihkan perhatian pada hal lain yang fana..., dan hanya memikirkan kehidupan itu sendiri, kamu akan gila: karena ia akan mengalahkan dan merendahkanmu secara perlahan."
  • "Ia menceritakan kisah tentang surga, di mana para manusia yang saleh dapat hidup dengan nikmat, senikmat-nikmatnya. Mereka bisa mendapat makanan dan minuman berlimpah, bidadari yang cantik-cantik (jadi, para bidadari tidak bisa menikmati surga karena mereka cuma budak seks di sana)."
  • "Mereka begitu sibuk mengecat kembali rumah-rumah yang warnanya telah pias dan mewarnai kain dengan sumba yang kental. Baju-baju yang warnanya pudar dibuang, diganti dengan yang lebih mencerang. Mungkin kepiasan mengingatkan mereka pada kematian. Karena itu, ia harus dihindari."
  • "Akhirnya mereka semua diam bukan karena tidak mau ribut-ribut di depan orang mati, tapi karena ada makhluk di dekat yang tak bernyawa, yang bisa sesenggukan."
  • "Orang yang mati disebut pergi. Sedang aku belum pergi. Aku masih di sini. Tapi sungguh, aku sudah mati."
  • "Dan aku terkadang lupa untuk pura-pura hidup. Tubuhku terdiam. Denyutku hilang. Aku tidak bergerak sama sekali. Tapi, setelah terdiam beberapa lama, si kembar mulai menusuk-nusuk tubuhku dengan jari mereka, mengingatkan aku untuk berpura-pura hidup lagi."
  • "Aku merapikan semua kertas-kertas dan alat tulisku yang berceceran. Aku sudah mati, tapi masih melakukan segala rutinitas ketika masih hidup."[4]
  • "Bayangkan, memberi barang pakai tangan kiri saja tidak boleh, apalagi berpikiran dan berjiwa kiri! Tambah nggak boleh lagi."
  • "Demi hidup, segala upaya harus dilakukan. Termasuk menyiksa tubuh manusia."[5]
  • “Inilah penjajahan yang sempurna, ketika sang budak jadi bahagia sebagai budak, dan bahkan memuja dan membela mati-matian sang tuan dengan jiwa dan raga mereka.”[6]
  • "Sungguh kesadaran lebih mengguncang daripada kenyataan, karena kenyataan sering kali lebih mudah ditutupi. Sedangkan kesadaran begitu jelas dan menancap, seperti peluru yang ndak bisa dicabut lagi."[7]
  • "Seringkali kita mengambil keputusan berdasarkan imajinasi dan harapan. Imajinasi manusia memang haruslah dipuaskan, dan mereka bakal merasa begitu kecewa kalau ada yang mempertanyakan. Sayangnya waktu imajinasi kita patah mendadak, kita juga cenderung melampiaskan tapi salah sasaran. Kita menyalahkan orang lain yang gampang disalahkan."[8]
  • "Tapi ternyata hidup selalu menyimpan dendam terhadap ketentraman. Sebab waktu kami merasa begitu damai dan tentram, saat itulah bencana yang luar biasa sudah siap untuk mencaplok."[9]
  • "Mungkin orang menjadi gila bukan karena mereka sudah tidak lagi waras, tetapi karena mereka terlalu sadar atau jauh lebih sadar daripada orang waras."[10]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Soe Tjen Marching. 2024-07-18.
  2. perpustakaan19651966 (2025-07-08). "[MEMORIKOLEKTIF] Melawan Trauma Dengan Karya Bersama Soe Tjen Marching. *Pemberian Nama Marching Terinspirasi dari 'Long March Mao Zedong'". Perpustakaan Online Genosida 1965-1966. Diakses tanggal 2025-11-30. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  3. perpustakaan19651966 (2025-07-08). "[MEMORIKOLEKTIF] Melawan Trauma Dengan Karya Bersama Soe Tjen Marching. *Pemberian Nama Marching Terinspirasi dari 'Long March Mao Zedong'". Perpustakaan Online Genosida 1965-1966. Diakses tanggal 2025-11-30. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  4. "Mati, Bertahun yang Lalu Quotes by Soe Tjen Marching". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-11-30.
  5. "Top 15 Soe Tjen Marching Quotes (2025 Update) - QuoteFancy". quotefancy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
  6. Marching, Soe Tjen (Juni 2025). Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel. Tangerang Selatan: CV. Marjin Kiri. hlm. 341. ISBN 978-602-0788-03-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. Marching, Soe Tjen (Juni 2025). Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel. Tangerang Selatan: CV. Marjin Kiri. hlm. 344. ISBN 978-602-0788-03-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. Marching, Soe Tjen (Juni 2025). Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel. Tangerang Selatan: CV. Marjin Kiri. hlm. 211. ISBN 978-602-0788-03-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Marching, Soe Tjen (Juni 2025). Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel. Tangerang Selatan: CV. Marjin Kiri. hlm. 244. ISBN 978-602-0788-03-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. Marching, Soe Tjen (Juni 2025). Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel. Tangerang Selatan: CV. Marjin Kiri. hlm. 344. ISBN 978-602-0788-03-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)