Lompat ke isi

Sinta Nuriyah

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Sinta Nuriyah Wahid

Sinta Nuriyah Wahid (lahir 8 Maret 1948) adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga tahun 2001.

  1. Kita bersaudara dan kita adalah satu, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ini harus dijaga keutuhannya.[1]
  2. Kebangsaan sebenarnya adalah tekad, semangat, dan kesadaran untuk hidup bersama... Nasionalisme Indonesia ibarat sepasang kekasih yang memiliki latar belakang berbeda, namun bertekad dan membuat janji setia untuk hidup bersama.[1]
  3. Semua yang hadir apapun agamanya apapun suku bangsanya, apapun profesinya semuanya bersaudara... Karena semua bersaudara, sudah semestinya kita saling mengasihi, menjaga kerukunan dan menghindari pertikaian serta permusuhan.[1]
  4. Orang yang bisa menjaga amanah, menjaga keutuhan itulah yang harus kita pilih menjadi pemimpin bangsa kita.[1]
  5. Sinta Nuriyah mengajak masyarakat memilih pemimpin yang "amanah, adil, dan jujur" agar Pemilu dapat berjalan dengan damai.[2]
  6. Keberhasilan pemimpin diukur dari kemampuan mereka dalam mensejahterakan umat yang mereka pimpin,” seperti yang sering ia sampaikan.[2]
  7. Rakyat harus berani bersuara tetapi jangan menjarah. [3]
  8. Yang harus didengarkan ya masyarakat, bukan lingkar elitenya.[3]
  9. Selama dia jadi pejabat publik ya jangan sekali-sekali melakukan seperti itu [gaya hidup mewah/naik jet pribadi], itu kan nyulek (mencukil) matanya rakyat.[3]
  10. Ciri wanita sholeha; sabar dan tulus mencintai suami hingga mengantarkannya ke puncak karir.[4]
  11. Perempuan adalah tokoh sentral dari kehidupan umat manusia. Mari kita hargai dan kita lindungi perempuan. Bukan karena kita hadir di muka bumi ini melalui mereka, tetapi mereka adalah malaikat-malaikat yang nyata.[4]
  12. Ibulah yang mengandung, yang melahirkan, yang menyusui, ibu juga yang mendidik, merawat, mengajari kita berjalan, mengajari kita ngomong, makan, mengajari kita tentang makna hidup dan kehidupan, arti cinta dan kasih sayang. Semua itu yang mengajari adalah ibu.[4]
  13. Ya memang saya mengalami jadi Ibu Negara. Tapi sekalipun saya bukan Ibu Negara, pikiran dan pandangan saya akan tetap sama, yang akan menjadi pemimpin yang kita harapkan bisa membawa kemakmuran, kesejahteraan, dan kebaikan. Tidak hanya bagi bangsanya juga bagi negaranya adalah orang-orang yang amanah, yang bisa menegakkan keadilan, yang... ya pokoknya yang menebar kebajikan.[5]
  14. “Saya merasa diriku tidak mendapatkan keadilan. Jadi semua perempuan itu tidak mendapat perlakuan yang adil, sementara agama tidak mengatakan seperti itu. Jadi saya menonjol pertama kali pada waktu itu adalah masalah poligami, itu sangat merugikan sekali buat perempuan, itu harus diperjuangkan,”[6]
  15. Jadi kita harus ingatkan bahwa perempuan adalah pakaian bagi laki-laki dan laki-laki adalah pakaian bagi perempuan, artinya saling melengkapi kekurangan satu sama lain, saling menghargai dan hormati, saling mencintai,” [6]
  16. ”Kita semua bersaudara, tidak boleh saling benci,”[7]
  17. ”Kita satu oleh Pancasila, tidak boleh berseteru. Harus mengamalkan Pancasila dengan tindakan nyata,”[7]
  18. “Kita hidup di indonesia dengan keberagaman suku, agama, ras, warna kulit,  sehingga kita harus selalu rukun dan damai, saling menolong sepeti apa yang di ajarkan Rasullulah SAW, seperti yang tertuang dalam perjanjian Madinah,” [8]
  19. “Kita hidup di indonesia dengan keberagaman suku, agama, ras, warna kulit,  sehingga kita harus selalu rukun dan damai, saling menolong sepeti apa yang di ajarkan Rasullulah SAW, seperti yang tertuang dalam perjanjian Madinah,” [8]
  20. “Acara semacam ini sudah kita laksanakan waktu Beliau (KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) masih sehat, kita biasa sahur dengan kuli bangunan di kolong jembatan, tukang becak di dekat terminal, tukang ojek, kita ajak mereka berpuasa,”[8]

Daftar Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 1,2 1,3 antaranews.com (2024-01-11). "Sinta Nuriyah ajak publik pilih pemimpin yang bisa jaga keutuhan". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-15.
  2. 2,0 2,1 Sinta Nuriyah Wahid: Rakyat Marah dengan Ketidakadilan.
  3. 3,0 3,1 3,2 Aditya, Nicholas Ryan (2025-09-10). "Sinta Nuriyah: Rakyat Harus Berani Bersuara tetapi Jangan Menjarah". Kompas.com. Diakses tanggal 2025-11-15.
  4. 4,0 4,1 4,2 Digital, Radar. "Ini Quote Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid Tentang Perempuan dan Seorang Ibu - Radar Jember". Ini Quote Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid Tentang Perempuan dan Seorang Ibu - Radar Jember. Diakses tanggal 2025-11-15.
  5. Rahayu, Lisye Sri. "Istri Gus Dur: Pemimpin Amanah dan Jaga Keutuhan yang Harus Kita Pilih". detiknews. Diakses tanggal 2025-11-15.
  6. 6,0 6,1 "Nyai Sinta Nuriyah Jadi Ibu Negara Pertama RI yang Konsisten Bahas Kesetaraan Gender, Ini Alasannya". NU Online. Diakses tanggal 2025-11-30.
  7. 7,0 7,1 Kompas, Tim Harian (2018-06-12). "Sinta Wahid: Mari Amalkan Pancasila". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-11-30.
  8. 8,0 8,1 8,2 KH (2014-07-06). "Istri Gus Dur, Sahur Bareng Pemuka Agama Gunungkidul". kabarhandayani.com. Diakses tanggal 2025-12-13.