Lompat ke isi

Simone de Beauvoir

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Simone de Beauvoir
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Commons
Commons
Wikimedia Commons memiliki media mengenai:

Simone de Beauvoir (9 Januari 1908 – 14 April 1986) adalah filsuf, penulis, dan feminis Prancis yang berperan besar dalam eksistensialisme dan feminisme modern. Ia terkenal melalui Le Deuxième Sexe (The Second Sex, 1949), karya penting tentang penindasan perempuan. Berhubungan erat secara intelektual dengan Jean-Paul Sartre, Beauvoir menulis berbagai karya yang membahas kebebasan, etika, dan konstruksi gender. Pemikirannya tetap berpengaruh dalam kajian feminisme dan teori gender.[1] Dia mempelajari sains dan matematika di Sorbonne sebelum memperoleh gelar doktor filsafat pada usia 21. Setelah Perang Dunia II, ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam eksistensialisme.[2]

  • Seseorang tidak dilahirkan daripada menjadi perempuan. Bukan suratan biologis, psikologis, atau ekonomis yang menentukan sosok manusia perempuan ada dalam masyarakat; peradaban sebagai satu kesatuanlah yang melahirkan makhluk ini, di tengah-tengah kejantanan dan impotensi, yang digambarkan sebagai feminin.[3]
  • Sedikit banyak, gadis kecil yang matang sebelum waktunya, berkhayal bahwa ia sudah cukup dewasa untuk cinta; pada usia sembilan atau sepuluh tahun, ia menyenangkan dirinya dengan merias wajahnya, mengisi bantalan pada korsetnya, dan menyamarkan dirinya menjadi seorang perempuan dewasa. Namun, ia tidak mencari pengalaman erotis dengan anak laki-laki: jika ia bersembunyi ber-sama mereka dan bermain 'saling memamerkan barang satu sama lain', ini hanya masalah keingintahuan seksual belaka. Namun pasangan dalam anganangan cintanya adalah orang dewasa, entah itu murni imajiner atau berdasar pada individu nyata yang ada; pada yang terakhir ini, si anak sudah cukup puas mencintai di kejauhan.[3]
  • It is not women’s inferiority that has determined their historical insignificance. It is their historical insignificance that has doomed them to inferiority.[4]
  • Bukanlah ketidakunggulan perempuan yang menentukan ketidakberartian sejarah mereka. Adalah ketidakberartian historis merekalah yang menghukum mereka pada inferioritas.[4]
  • So not every female human being is necessarily a woman; she must take part in this mysterious and endangered reality known as femininity.[4]
  • Maka, tidak setiap perempuan pasti adalah seorang wanita; dia harus mengambil bagian dalam realitas yang misterius dan terancam ini yang dikenal sebagai feminitas.[4]
  • No one is more arrogant toward women, more aggressive or scornful, than the man who is anxious about his virility.[4]
  • Tidak ada seorang pun yang lebih sombong terhadap perempuan, lebih agresif, atau lebih menghina, daripada laki-laki yang cemas akan kejantanannya.[4]
  • The body is not a thing, it is a situation: it is our grasp on the world and our sketch of our project.[4]
  • Tubuh bukanlah suatu benda, melainkan suatu situasi: ia adalah pegangan kita pada dunia dan sketsa dari proyek kita.[4]
  • Self-knowledge is no guarantee of happiness, but it is on the side of happiness and can supply the courage to fight for it.[4]
  • Pengetahuan mengenai diri sendiri bukanlah jaminan kebahagiaan, tetapi ia berada di pihak kebahagiaan dan dapat memberikan keberanian untuk memperjuangkannya.[4]
  • Legislators, priests, philosophers, writers, and scientists have striven to show that the subordinate position of woman is willed in heaven and advantageous on earth.[4]
  • Para legislator, pendeta, filsuf, penulis, dan ilmuwan telah berjuang untuk menunjukkan bahwa posisi subordinat bagi perempuan dikehendaki di surga dan menguntungkan di bumi.[4]
  • A man’s body has meaning by itself, disregarding the body of the woman, whereas the woman’s body seems devoid of meaning without reference to the male. Man thinks himself without woman. Woman does not think herself without man.[5]
  • Tubuh seorang pria memiliki makna dengan sendirinya, tanpa mengindahkan tubuh wanita, sedangkan tubuh wanita tampaknya tidak memiliki makna tanpa mengacu pada pria. Pria memikirkan dirinya sendiri tanpa wanita. Wanita tidak memikirkan dirinya sendiri tanpa pria.[5]
  • Man is defined as a human being and woman as a female – whenever she behaves as a human being she is said to imitate the male.[6]
  • Pria didefinisikan sebagai manusia dan wanita sebagai perempuan – kapan pun ia bertingkah laku sebagai manusia, ia disebut meniru pria.[6]
  • To emancipate woman is to refuse to confine her to the relations she bears to man, not to deny them to her; let her have her independent existence and she will continue nonetheless to exist for him also: mutually recognising each other as subject, each will yet remain for the other an other. [6]
  • Membebaskan perempuan adalah menolak untuk membatasinya pada hubungan yang ia miliki dengan pria, bukan meniadakan hubungan tersebut darinya; biarkan ia memiliki keberadaan independennya dan ia akan tetap ada untuk pria juga: saling mengakui satu sama lain sebagai subjek, masing-masing akan tetap menjadi 'yang lain' bagi yang lainnya.[6]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Beauvoir, Simone de | Internet Encyclopedia of Philosophy" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-15.
  2. Kurnia, Anton (2018-12-26). Ensiklopedia Sastra Dunia. DIVA PRESS. ISBN 978-602-391-662-7.
  3. 3,0 3,1 Simone de Beauvoir. Second Sex: Kehidupan Perempuan. Yogyakarta: Narasi, 2020. ISBN 978-602-61095-4-3.
  4. 4,00 4,01 4,02 4,03 4,04 4,05 4,06 4,07 4,08 4,09 4,10 4,11 Rahman, Rubaiyat (2024-09-02). "Simone de Beauvoir". El Viaje Filosófico (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
  5. 5,0 5,1 "Simone de Beauvoir". Woman is a Rational Animal (dalam bahasa American English). 2021-02-12. Diakses tanggal 2025-11-30.
  6. 6,0 6,1 6,2 6,3 Simone de Beauvoir: 10 key quotes (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2014-01-09. ISSN 0261-3077.
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Artikel ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu.