Sharlini Eriza Putri
Tampilan
Sharlini Eriza Putri (lahir tahun 1987) adalah ilmuwan dan pengusaha Indonesia yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan Imperial College London, serta meraih berbagai penghargaan seperti Indonesian Government Scholarship Award dan NCE Awards.[1] Ia merupakan Co-Founder dan CEO Nusantics, perusahaan bioteknologi yang awalnya berfokus pada profil mikrobioma dan kemudian beralih mengembangkan alat uji Covid-19. [2][3]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Sharlini mengenang masa kecilnya yang kerap mengunjungi laboratorium tempat ibunya bekerja. Ia berkata, karena hobinya suka makan nasi padang, gimana caranya beralasan biar saya bisa ke lab ibu saya yang bersebelahan dengan warung nasi padang.[1]
- Sharlini juga menjelaskan alasannya memilih jurusan Teknik Kimia sebagai dasar keilmuan yang kuat dan seimbang. Ia menuturkan, Teknik Kimia enggak spesialis. Matematika-nya ada, biologinya ada, fisika-nya ada, jadi seimbang semua ilmunya.[1]
- Sharlini mengungkapkan bahwa ide awal teknologi PUMU muncul karena tingginya kasus Covid-19 pada anak, sementara banyak anak menolak tes PCR karena prosedurnya tidak nyaman. Kita prihatin lihat kasus anak meningkat 1.000%, takut dicolok, dan malas juga antre panjang yang makan waktu, kata Sharlini kepada media.[3]
- Kemajuan bioteknologi yang namanya genomic mengajari kita untuk lebih sopan terhadap alam. Karena, ternyata setengah sel di badan kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik microbiome (alias bakteri, virus, jamur, dan arkea). Ironisnya, kita membutuhkan microbiome. Makin banyak dan bervariasi microbiome di tubuh kita, imunitas kita semakin baik. [4]
- Sharlini meyakini bahwa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan industri melalui penguatan bioteknologi. Ia menegaskan, sehingga ini masuk babak baru di mana biologis sebagai teknologi. Siapa yang mampu menguasai teknologi itu, dia yang menang. Indonesia sebagai negara dengan biodiversitas yang tinggi, kita harus menang. Jadi harapan kami seperti namanya Nusantara Genetics itu signifikan, tutupnya.[5]
- Tidak seperti klinik kecantikan pada umumnya, Nusantics justru menyarankan konsumen untuk tidak memakai produk kecantikan ketika kulitnya sudah sehat.[6]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 1,2 Sharlini Putri, Bos Startup yang Bikin Tes Covid-19 Saliva.
- ↑ Asia, Tatler. "Sharlini Eriza Putri | Tatler Asia". Tatler Asia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 3,0 3,1 "Sharlini Eriza Putri - 40 Under 40 - Business | Fortune Indonesia". ranking.fortuneidn.com. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ Redaksi (2023-05-23). "Sharlini Eriza Putri, Ilmuan Muda dengan Inovasi Bioteknologi". Business Asia. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ developer, mediaindonesia com. "Sharlini Eriza Putri Perintis Startup Biotek". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ Sharlini Putri, Bos Startup yang Bikin Tes Covid-19 Saliva.