Lompat ke isi

Severn Cullis-Suzuki

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Severn Cullis-Suzuki

Severn Cullis-Suzuki (30 November 1979) is an activist for diversity in the natural world and in human society. From a young age, she has spoken widely about intergenerational justice, the need for ethics in our economics, and respect and recognition of Indigenous rights and title. Rooted on the West Coast of Canada, she is part of the global movement to shift our human path toward sustainability and survival. [1] Seorang aktivis yang memperjuangkan keberagaman di alam dan dalam masyarakat manusia. Sejak usia muda, ia telah banyak berbicara tentang keadilan antargenerasi, pentingnya etika dalam sistem ekonomi, serta penghormatan dan pengakuan terhadap hak dan kedaulatan masyarakat adat. Berakar di Pesisir Barat Kanada, ia merupakan bagian dari gerakan global untuk mengubah arah kehidupan manusia menuju keberlanjutan dan kelangsungan hidup.

  • "The School of Environmental Studies at UVic renewed my interest and hopes for academia. Learning at a place of such interdisciplinary scholarship was such an inspiration: I learned the value and importance of the intersection of interdisciplinary learning, academic rigour and advocacy, which is now the foundation of all my work and advocacy today." "Program School of Environmental Studies di UVic membangkitkan kembali minat dan harapan saya terhadap dunia akademik. Belajar di tempat dengan pendekatan keilmuan yang begitu interdisipliner adalah sebuah inspirasi besar. Saya belajar tentang nilai dan pentingnya pertemuan antara pembelajaran lintas disiplin, ketelitian akademik, dan advokasi, yang kini menjadi fondasi dari seluruh pekerjaan dan perjuangan saya." [2]
  • "If you don’t know how to fix it, please stop breaking it." "Jika kamu tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, tolong berhenti merusaknya."
  • "I am only a child, and yet I know we are destroying the earth. We are sacrificing our future for the present." "Saya hanyalah seorang anak, namun saya tahu bahwa kita sedang menghancurkan bumi. Kita mengorbankan masa depan demi kenyamanan saat ini"
  • "If we don’t change the way we do things, our future is doomed." "Jika kita tidak mengubah cara kita hidup dan bertindak, masa depan kita akan hancur." [3]
  • "I used to go fishing in Vancouver, my home, with my dad, until just a few years ago we found the fish full of cancers. And now we hear of animals and plants going extinct every day, vanishing forever. In my life, I have dreamt of seeing the great herds of wild animals, jungles, and rainforests full of birds and butterflies, but now I wonder if they will even exist for my children to see." "Saya dulu sering pergi memancing di Vancouver, kampung halaman saya, bersama ayah saya. Hingga beberapa tahun lalu, kami menemukan ikan-ikan yang penuh dengan kanker. Kini kita mendengar setiap hari tentang hewan dan tumbuhan yang punah, hilang selamanya. Dalam hidup saya, saya bermimpi bisa melihat kawanan besar satwa liar, hutan rimba, dan hutan hujan yang dipenuhi burung dan kupu-kupu. Namun sekarang saya bertanya-tanya, apakah semua itu masih akan ada untuk dilihat oleh anak-anak saya kelak."
  • "Did you have to worry of these things when you were my age? All this is happening before our eyes and yet we act as if we have all the time we want and all the solutions. I’m only a child and I don’t have all the solutions. But I want you to realize, neither do you. You don’t know how to fix the holes in our ozone layer. You don’t know how to bring the salmon back up in a dead stream. You don’t know how to bring back an animal now extinct. And you can’t bring back the forests that once grew where there is now a desert. If you don’t know how to fix it, please stop breaking it." "Apakah kalian harus mengkhawatirkan hal-hal ini ketika seusia saya dulu? Semua ini terjadi tepat di depan mata kita, namun kita bertindak seolah-olah kita memiliki waktu tak terbatas dan semua solusi. Saya hanyalah seorang anak dan saya tidak memiliki semua jawaban. Tetapi saya ingin kalian menyadari bahwa kalian pun tidak memilikinya. Kalian tidak tahu bagaimana cara memperbaiki lubang di lapisan ozon. Kalian tidak tahu bagaimana mengembalikan salmon ke sungai yang telah mati. Kalian tidak tahu bagaimana menghidupkan kembali hewan yang sudah punah. Dan kalian tidak bisa mengembalikan hutan yang dulu tumbuh di tempat yang kini menjadi gurun. Jika kalian tidak tahu bagaimana memperbaikinya, tolong berhenti merusaknya."
  • "Here, you may be delegates of your governments, business people, organizers, reporters, or politicians. But, really, you are mothers and fathers, sisters and brothers, aunts and uncles, and all of you are someone’s child. I’m only a child, yet I know we are all part of a family, five billion strong. In fact, 30 million species strong. And borders and governments will never change that. I’m only a child, yet I know we are all in this together and should act as one single world towards one single goal." "Di sini, kalian mungkin adalah delegasi pemerintah, pebisnis, aktivis, jurnalis, atau politisi. Namun sesungguhnya, kalian adalah ibu dan ayah, saudara perempuan dan laki-laki, bibi dan paman, dan masing-masing dari kalian adalah anak dari seseorang. Saya hanyalah seorang anak, tetapi saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar, berjumlah lima miliar manusia. Bahkan, tiga puluh juta spesies. Batas negara dan pemerintahan tidak akan pernah mengubah itu. Saya hanyalah seorang anak, tetapi saya tahu kita semua berada dalam satu perahu yang sama dan seharusnya bertindak sebagai satu dunia dengan satu tujuan bersama."
  • "In my anger, I’m not blind. And in my fear, I’m not afraid of telling the world how I feel. In my country we make so much waste, we buy and throw away, buy and throw away, buy and throw away and yet Northern countries will not share with the needy. Even when we have more than enough we are afraid to share, we are afraid to let go of some of our wealth." "Dalam kemarahan saya, saya tidak buta. Dalam ketakutan saya, saya tidak takut untuk mengatakan kepada dunia apa yang saya rasakan. Di negara saya, kami menghasilkan begitu banyak limbah, membeli dan membuang, membeli dan membuang, membeli dan membuang, namun negara-negara di belahan utara tidak mau berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita tetap takut untuk berbagi, takut untuk melepaskan sebagian dari kekayaan kita."
  • "In Canada, we live the privileged life with plenty of food, water, and shelter. We have watches, bicycles, computers, and television sets. The list could go on for two days. Two days ago, here in Brazil, we were shocked when we spent time with some children living on the streets. This is what one child told us: “I wish I was rich. And if I were, I would give all the street children food, clothes, medicines, shelter, and love and affection." "Di Kanada, kami hidup dengan penuh keistimewaan: makanan, air, dan tempat tinggal yang cukup. Kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer, dan televisi. Daftarnya bisa berlanjut selama dua hari. Dua hari lalu, di Brasil, kami terkejut ketika menghabiskan waktu bersama anak-anak yang hidup di jalanan. Inilah yang dikatakan salah satu anak kepada kami: ‘Saya berharap saya kaya. Dan jika saya kaya, saya akan memberikan semua anak jalanan makanan, pakaian, obat-obatan, tempat tinggal, serta cinta dan kasih sayang."
  • "If a child on the streets who has nothing is willing to share, why are we who have everything still so greedy? I can’t stop thinking that these are children my own age, that it makes a tremendous difference where you are born, that I could be one of those children living in the favelas of Rio. I could be a child starving in Somalia, or a victim of war in the Middle East, or a beggar in India. I am only a child, yet I know if all the money spent on war was spent on finding environmental answers, ending poverty, and finding treaties, what a wonderful place this Earth would be." "Jika seorang anak jalanan yang tidak memiliki apa-apa masih mau berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya justru begitu serakah? Saya tidak bisa berhenti memikirkan bahwa mereka adalah anak-anak seusia saya, bahwa tempat kita dilahirkan membuat perbedaan yang begitu besar. Saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang tinggal di favela di Rio. Saya bisa menjadi anak yang kelaparan di Somalia, atau korban perang di Timur Tengah, atau pengemis di India. Saya hanyalah seorang anak, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang digunakan untuk mencari solusi lingkungan, mengakhiri kemiskinan, dan membangun perjanjian perdamaian, betapa indahnya Bumi ini."
  • "At school, even in kindergarten, you teach us how to behave in the world. You teach us to not to fight with others, to work things out, to respect others, to clean up our mess, not to hurt other creatures, to share, not be greedy. Then, why do you go out and do the things you tell us not to do? Do not forget why you are attending these conferences, who you’re doing this for. We are your own children. You are deciding what kind of a world we are growing up in." "Di sekolah, bahkan sejak taman kanak-kanak, kalian mengajarkan kami bagaimana bersikap di dunia. Kalian mengajarkan kami untuk tidak berkelahi, menyelesaikan masalah bersama, menghormati orang lain, membersihkan kekacauan yang kami buat, tidak menyakiti makhluk lain, berbagi, dan tidak serakah. Lalu mengapa kalian pergi dan melakukan hal-hal yang kalian ajarkan kepada kami untuk tidak dilakukan? Jangan lupakan mengapa kalian menghadiri konferensi-konferensi ini, dan untuk siapa kalian melakukannya. Kami adalah anak-anak kalian sendiri. Kalian sedang menentukan seperti apa dunia tempat kami tumbuh."
  • "Parents should be able to comfort their children by saying, “Everything is going to be all right. It’s not the end of the world, and we’re doing the best we can.” But I don’t think you can say that to us anymore. Are we even on your list of priorities? My dad always says, “You are what you do, not what you say.” Well, what you do makes me cry at night. You grown-ups say you love us. But I challenge you, please, make your actions reflect your words." "Orang tua seharusnya bisa menenangkan anak-anak mereka dengan berkata, ‘Semuanya akan baik-baik saja. Ini bukan akhir dari dunia, dan kami sedang melakukan yang terbaik.’ Namun saya rasa kalian tidak bisa lagi mengatakan itu kepada kami. Apakah kami bahkan termasuk dalam daftar prioritas kalian? Ayah saya selalu berkata, ‘Kamu adalah apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan.’ Nah, apa yang kalian lakukan membuat saya menangis di malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian mencintai kami. Tetapi saya menantang kalian, tolong biarkan tindakan kalian mencerminkan kata-kata kalian." [4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Severn Cullis-Suzuki Archives". David Suzuki Foundation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-19.
  2. "Severn Cullis-Suzuki - University of Victoria". UVic.ca (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-19.
  3. "Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World with Her Climate". Grow Billion Trees (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-19.
  4. "Severn Cullis-Suzuki Earth Summit Rio de Janeiro | Rev". www.rev.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-19.