Lompat ke isi

Semaoen

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Semaoen (EYD: Semaun; 1899 - 7 April 1971) adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) dan merupakan pemimpin cabang Semarang dari Sarekat Islam (SI).

  • "Di mana ada untung, di situ pasti ada rugi. Di mana ada yang kaya, di situ ada yang miskin."
  • "Perdagangan yang ramai ... membuat penduduk Indonesia semakin miskin dan mendesak hampir semua pekerjaan merdeka yang dulu diusahakan oleh nenek moyang kita."
  • "Semua hidup rukun, tidak ada yang berebut rezeki. Negara dikepalai oleh wakil-wakil pilihan rakyat ... Inilah yang dinamakan Sosialisme."
  • "Dengan bantuan tuan-tuan dan saudara-saudara ... maka tuan-tuan dan saudara-saudara akan dapat hadiah Rakyat yang kemudian merdekakan diri dari tindasan ..."

Hikayat Kadiroen (1920)

[sunting | sunting sumber]

1. Dialog antara Kadiroen dan Ardinah (narasi reflektif penuh empati):

Ardinah kepada Kadiroen:

“O, Tuan hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas maksud Tuan menolong hamba. Tetapi hamba tidak perlu ditolong, karena hamba kuat memikul beban kesengsaraan ini. … hamba menangis karena hamba merasa susah, sebab mau menolong orang lain, tetapi hamba tidak mampu.”

Narator (Kadiroen):

“Demi mendengar itu, hati Kadiroen menjadi sangat bahagia. ... Ardinah sangat besar hati, percaya diri, pemberani … Kadiroen sangat ingin menjadi suami seorang perempuan seperti itu.”

2. Dialog antara Kadiroen dan Tuan Asisten Residen

Kadiroen menyampaikan ide-idenya kepada pejabat kolonial, sebuah dialog yang mencerminkan dinamika perdebatan mengenai prinsip keadilan sosial:

Tuan Asisten Residen kepada Kadiroen:

“Saya menjadi senang karena Kadiroen dengan voorstel-voorstel-nya sudah berusaha keras untuk kemakmuran rakyatnya.”

(Tapi)

“Kesenangannya itu tidak lantas menghapus perbedaan pendapat mengenai perkara-perkara di atas… antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen.”

3. Dialog antara Kadiroen dan Tuan Mangoentjokro (dengan suara ramai dari orang lain dalam pertemuan):

Semaoen (narator dialog):

"Menjawab Tuan Mangoentjokro, maka memang rakyat dahulunya belum pintar menyimpan uang. ... Rakyat kecil itu senang meniru semua halnya priyayi tadi. Oleh karena itu rakyat gampang membuang uang ... rakyat akan terus-menerus merugi dan hidup susah ..."

Suara ramai dari pertemuan:

“Mufakat, betul.”