Lompat ke isi

Sasti Gotama

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Sasti Gotama lahir di Malang, merupakan satu dari 10 Emerging Writers di Ubud Writers and Readers Festival 2022.[1]

  • "Penulis favorit saya adalah Han Kang. Dari ketiga karyanya yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, saya paling menyukai Vegetarian. Alasannya karena saya menyukai gaya tuturnya yang kelam, tapi indah; isu keperempuanan dan humanisme yang diusung; serta bagaimana ia menyematkan simbol-simbol secara subteks yang membuat saya banyak merenung selama pembacaan karyanya dan setelahnya. Bisa dibilang, karya-karyanya menyisakan gaung yang panjang setelah dibaca."
  • "Menulis itu seperti berlari maraton. Butuh konsistensi dan keteguhan hati. Banyak penulis muda, yang ketika tersandung di tengah lintasan, memilih menunda atau berhenti menulis dengan berbagai alasan. Tetaplah berjalan atau berlari dengan mengatur napasmu, karena yang terpenting adalah siapa yang tetap bertahan hingga ke akhir lintasan."[2]
  • "Maka kita dapat memahami bahwa di balik setiap tindakan, ada alasan-alasan yang mendasarinya. Kebanyakan orang punya pedoman kaku hitam versus putih, padahal manusia pada dasarnya abu-abu. Ada rasionalisasi-rasionalisasi di situ,” lanjutnya lagi."
  • "Saya kira, ini berkaitan dengan pengalaman beberapa perempuan yang kemandiriannya didomestikasi. Ketika akhirnya mereka harus keluar dari lingkaran yang beracun—misalnya keluarga yang toxic—mereka tidak punya kekuatan, tidak punya keharimauannya lagi. Ada hal-hal dari proses domestikasi itu yang membuat mereka takut menghadapi dunia luar."
  • "Banyak tulisan saya yang nyawanya datang dari pemikiran Beauvoir. Beberapa juga saya dedikasikan untuk dia. Antologi cerpen sebelum ini, B: Kumpulan Cerita (2022), mengacu pada Beauvoir, begitu juga tokoh inisial B di novel Ingatan Ikan-Ikan (2024) yang dikisahkan begitu memujanya."
  • "Konstruksi masyarakat selama ini telah memenjarakan perempuan, tapi kadang beberapa perempuan tidak sadar dirinya tepenjara karena kondisinya sudah begitu turun-temurun, atau, seperti kata-kata Beauvoir, karena ‘perempuan terpenjara di bawah langit-langit dunia infantil."
  • "Mengapa perempuan tidak punya otonomi terhadap tubuhnya sendiri? Perempuan terlalu banyak diatur oleh kekuasaan lain di luar dirinya,” tandas Sasti."
  • "Setelah lulus SD, anak perempuan ini dinikahkan. Alasannya agar dia tidak menghabiskan beras di rumah orang tuanya—minta ke mertuanya saja. Miris. Kita lihat betapa kemiskinan struktural merenggut hak dan impian perempuan"
  • "Begitu banyak hal di luar kuasa perempuan yang membuat mereka jadi sosok yang tidak mereka inginkan."[3]
  • "Ternyata ini masalah kompleks. Dari awal perempuan didomestikasi, dilucuti kemampuannya untuk mandiri secara ekonomi. Terus juga ada stigma-stigma di masyarakat tentang janda, belum lagi kalau dia punya anak. Jadi ada barrier yang membuat dia takut keluar dari lingkar kekerasan."
  • "Perempuan-perempuan di Indonesia itu banyak yang sampai sekarang belum selesai, bahkan tidak menemui tidak menemui disclosure gitu kan belum ada, maksudnya sampai sekarang kan belum ada pengakuan dari negara. Sebagai perempuan aku ingin membahas trauma-trauma itu sebagai pembelajaran trauma healing juga."
  • "Supaya tahu kejadian itu dan supaya kejadian itu tidak terulang lagi. Aku harap itu (tragedi pelanggaran HAM ini) dijadikan diskursus yang nanti mewujud pada aksi nyata."[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Kontributor". kalamsastra.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
  2. Irawan, Ferry (2025-02-12). "Sasti Gotama, Penulis Dengan Karya Sastra Juara di Berbagai Sayembara". kulturalindonesia.id. Diakses tanggal 2025-11-30.
  3. Kinasih, Sekar. "Sasti Gotama: Tentang Liyan, Perempuan, & Pemikiran Beauvoir". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-30.
  4. V.D, Jasmine Floretta (2025-08-22). "Sasti Gotama: Menulis Luka, Mengangkat Suara yang Dibungkam". Magdalene Merch. Diakses tanggal 2025-11-30.