Sarah Kang
Sarah Kang is a NYC-based singer-songwriter, whose genre is a seamless blend of jazz, R&B, and pop paired with thoughtful lyricism and warm, cozy vocals. Born in South Korea and raised in LA, Chicago, and Dallas, she grew up playing the piano and the french horn but never imagined she’d ever become a professional musician. Sarah Kang adalah seorang penyanyi-penulis lagu yang berbasis di New York City, dengan genre yang memadukan jazz, R&B, dan pop secara mulus, disertai lirik yang hangat dan penuh pemikiran serta vokal yang lembut dan nyaman. Lahir di Korea Selatan dan dibesarkan di LA, Chicago, dan Dallas, ia tumbuh dengan bermain piano dan french horn, tetapi tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi musisi profesional [1].
Kutipan
[sunting | sunting sumber][INTERVIEW] Sarah Kang: a singer-songwriter on the rise
- "My mom is a piano teacher and classical vocalist, so I grew up in a home full of music. I played the french horn in the school band growing up, and I loved to sing, although only in secret until I went to college. I was always an introverted and introspective kid, so I spent a lot of my free time listening to music on my CD player. I also started playing the guitar when I was thirteen when someone at my church was giving free lessons. I only started singing in front of people when I joined an a cappella group in college, and that’s when my passion for writing and performing my own music started." "Ibu saya adalah guru piano dan vokalis klasik, jadi saya tumbuh di rumah yang penuh dengan musik. Saya memainkan french horn di band sekolah dan sangat suka bernyanyi, walaupun dulu hanya diam-diam sampai saya masuk kuliah. Saya adalah anak yang introvert dan suka merenung, jadi banyak waktu luang saya habiskan mendengarkan musik di CD player. Saya mulai bermain gitar sejak usia tiga belas tahun ketika seseorang di gereja memberikan les gratis. Saya baru mulai berani bernyanyi di depan orang ketika bergabung dengan kelompok a cappella di kampus, dan dari situlah passion saya dalam menulis dan menampilkan musik sendiri mulai tumbuh."
- "I find songwriting to be a deeply personal experience, so it only makes sense that my identity plays a significant part in it. Growing up as a Korean-American child of immigrants, I experienced a sense of not belonging wherever I went, and consequently a longing for finding a place to call home. These themes of home and feeling nostalgic for childhood find their way into a lot of my songs, including “Home” and “now i know”. I also think there are certain phrases that only carry a certain sentiment in Korean that gets lost in translation, so I incorporate Korean lyrics into my songs, like “prologue” and “better than new." "Menulis lagu bagi saya adalah pengalaman yang sangat personal, jadi wajar jika identitas saya banyak memengaruhinya. Tumbuh sebagai anak imigran Korea-Amerika, saya sering merasakan tidak memiliki tempat untuk benar-benar “berpulang”, dan membawa kerinduan untuk menemukan rumah yang sesungguhnya. Tema tentang “rumah” dan nostalgia masa kecil ini muncul di banyak lagu saya, seperti “Home” dan “now i know”. Saya juga merasa ada beberapa ungkapan dalam bahasa Korea yang memiliki nuansa emosional yang sulit diterjemahkan, jadi saya sering memasukkan lirik bahasa Korea ke dalam lagu-lagu saya, seperti di “prologue” dan “better than new."
- " I often describe myself as someone who is perpetually nostalgic, sometimes preemptively nostalgic for moments that haven’t even passed yet. That longing for the past and time lost is a common thread in a lot of my music. I want to write songs that evoke memories, tell stories, and remind us of the finiteness of life, but also of hope for the future and what lies ahead beyond this life. I also aim to make music that helps us to be fully present in those small moments that make life beautiful, like a sunset, or holding someone you love." "Saya sering menggambarkan diri sebagai seseorang yang selalu merasa nostalgia, bahkan kadang merindukan momen-momen yang bahkan belum terlewati. Kerinduan akan masa lalu dan waktu yang berlalu menjadi benang merah dalam banyak lagu saya. Saya ingin menulis lagu yang membangkitkan kenangan, menceritakan kisah, dan mengingatkan kita tentang kefanaan hidup, namun juga memberi harapan untuk masa depan dan apa pun yang menanti setelah kehidupan ini. Saya juga ingin menciptakan musik yang membuat kita lebih hadir dalam momen-momen kecil yang membuat hidup indah,seperti matahari terbenam, atau memeluk seseorang yang kita cintai."
- "Before the pandemic, I was used to having recording and production sessions in person in the studio. I’ve had to set up my own makeshift recording booth at home and learn how to record myself. I also connected with artists and producers who live on the opposite coast since collaborating remotely became the norm during the pandemic. One friend and producer with whom I’ve been working with is Patrick Hizon - we made an entire EP together remotely before ever having met in person! I think a lot of artists relate to this new way of working and collaborating with people who don’t live in the same city. It was always possible before the pandemic thanks to the internet, but COVID forcing us to work remotely widened our view of what it looks like to collaborate." "Sebelum pandemi, saya biasa melakukan sesi rekaman dan produksi secara langsung di studio. Setelah pandemi, saya harus membuat ruang rekaman sederhana di rumah dan belajar merekam suara saya sendiri. Saya juga mulai terhubung dengan artis dan produser yang tinggal di wilayah yang berbeda karena kolaborasi jarak jauh menjadi hal umum saat itu. Salah satu teman dan produser yang saya ajak bekerja sama adalah Patrick Hizon — kami membuat satu EP penuh secara remote sebelum akhirnya bertemu langsung! Saya rasa banyak artis mengalami hal serupa: cara baru bekerja dan berkolaborasi dengan orang yang tidak tinggal di kota yang sama. Sebetulnya hal ini sudah mungkin dilakukan sejak dulu berkat internet, tetapi pandemi membuat kita lebih terbuka terhadap bentuk kolaborasi seperti itu."
- "I’m releasing my first full-length album this year called “how i remember”. I’m releasing the songs one at a time every month, and the first two (“prologue” and “cheeze”) are already out!" "Tahun ini saya merilis album penuh pertama saya yang berjudul how i remember. Saya merilis lagunya satu per satu setiap bulan, dan dua lagu pertama—“prologue” dan “cheeze”—sudah dirilis!" [2]
Sarah Kang About Time, Manusia Tidak Bisa Mengunjungi Masa Lalu
- "Aku tahu aku telah banyak menulis lagu, aku harus mengerjakan banyak hal, aku merasa waktu cepat berlalu."
- "Aku ingin mengingatkan kepada diriku sendiri dan pendengar, selama kita berpegangan pada masa lalu, diri kita yang dulu, orang yang dulu kita cinta, bagian dari diri kita itu tidak akan pernah mati."
- "Aku selalu merasa bersedih setiap tahun, ketika hari ulang tahunku tiba, angka terus bertambah. Itu menjadi pengingat bahwa kita tidak benar-benar kehilangan diri kita di masa lalu, kita hanya membangun bagian lain di atasnya. Selama kenangan dulu selalu kita ingat, itu semua tidak akan pernah pergi dari ingatan kita." [3]
Sarah Kang dalam Wawancara
- "I always have a running list of ideas and thoughts in my head, but the actual writing and composing part happens at home. I like to feel comfy to let my brain flow, so I'm usually sitting cross-legged on my bed with my guitar (or lying down and staring at the ceiling when I feel stuck). I've even written a song in the middle of the night because I woke up with the lyrics running through my head, and I had to reach for my phone to quickly write them down before I forgot them." "Aku selalu punya daftar ide yang berjalan di pikiranku, tapi proses menulis dan menggubahnya biasanya terjadi di rumah. Aku suka merasa nyaman agar pikiranku mengalir, jadi biasanya aku duduk bersila di tempat tidur sambil membawa gitar (atau berbaring sambil menatap langit-langit saat sedang buntu). Aku bahkan pernah menulis lagu di tengah malam karena bangun dengan lirik yang tiba-tiba muncul di kepalaku, dan aku harus cepat-cepat meraihnya untuk menulis sebelum lupa."
- "My songs usually start with a specific thought or concept that came to mind on a walk, during a conversation with a friend, from a movie I watched, etc. When I sit down to write, I usually come up with a chord progression on my guitar first, and then decide which of the ideas in the running list in my mind best suits the vibe of the progression. From there, I write the melody and lyrics together. After I record a demo of usually just my guitar and vocals, I work with a producer who helps flesh out the song and make it come to life." "Lagu-laguku biasanya dimulai dari satu pikiran atau konsep tertentu yang muncul saat aku berjalan, berbicara dengan teman, menonton film, dan sebagainya. Ketika aku mulai menulis, biasanya aku membuat progresi akor di gitar terlebih dahulu, lalu memutuskan ide mana dari daftar di kepalaku yang paling sesuai dengan suasana progresi tersebut. Dari situ, aku menulis melodi dan lirik bersamaan. Setelah itu, aku merekam demo sederhana berisi gitar dan vokal saja, lalu bekerja dengan seorang produser yang membantu mengembangkan lagu hingga benar-benar hidup."
- "I love to cook and bake. Songwriting isn't always successful - I could sit down to write for hours and not come up with anything I like, which is frustrating. But cooking and baking almost always guarantees an edible outcome, as long as you follow the recipe. It's a welcome and helpful distraction from songwriting, and I find it to be satisfying to create something from start to finish and be able to share it with loved ones." "Aku suka memasak dan memanggang. Menulis lagu tidak selalu berjalan mulus—aku bisa duduk selama berjam-jam dan tidak menemukan apa pun yang kusukai, dan itu membuat frustrasi. Tapi memasak dan memanggang hampir selalu menghasilkan sesuatu yang bisa dimakan, asalkan mengikuti resep. Ini adalah distraksi yang menyenangkan dan membantu dari proses menulis lagu, dan aku merasa puas bisa membuat sesuatu dari awal hingga selesai lalu membaginya dengan orang-orang terdekat." [4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Sarah Kang". Sarah Kang (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-12.
- ↑ "[EXCLUSIVE] [INTERVIEW] Sarah Kang: a singer-songwriter on the rise". allkpop (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-12.
- ↑ "Sarah Kang About Time, Manusia Tidak Bisa Mengunjungi Masa Lalu | halaman 2". filmusiku.com. Diakses tanggal 2025-12-12.
- ↑ "Interview with Sarah Kang". When I Make It To LA. (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-12.