Lompat ke isi

Saparinah Sadli

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Saparinah Sadli adalah tokoh kelahiran Tegalsari, Jawa Tengah yang juga dikenal sebagai akademisi, pendidik dan pejuang hak asasi manusia, khususnya isu gender dan pemberdayaan perempuan. Ia adalah anak dari mantan Bupati Kudus R.M. Soebali.[1]

  1. “Contohnya, di lingkungan budaya kita, sifat lembut, sabar, berpenampilan rapi, dan senang melayani kebutuhan orang lain dianggap sebagai karakteristik positif dari feminitas. Perilaku tersebut diperkuat dengan cara anak perempuan didandani dan mainan yang dibelikan. Itu masih ditambah dengan peringatan bila si anak perempuan berperilaku yang oleh lingkungannya dianggap tidak feminin. Artinya, sebagai anak perempuan, ia belajar sifat-sifat yang dianggap pantas sebagai perempuan.”[2]
  2. “Supaya pemikiran saya (baca: perempuan) dapat dipahami oleh orang lain, saya diharapkan berperilaku sesuai gender. Selain itu saya juga belajar dikotomi feminin-maskulin, rasional-intuisi, publik-domestik, dan adanya asosiasi simbolis antara gender dan berbagai bidang lain dalam kehidupan sehari-hari.”[2]
  3. “Mengubah keyakinan dan kebiasaan yang merugikan salah satu gender memerlukan agen-agen perubahan perempuan dan laki-laki. Artinya, pengembangan potensi perempuan dan laki-laki sama pentingnya agar terjadi transformasi sosial yang berkeadilan gender. Jelaslah bahwa untuk mencapai tujuan ini diperlukan manusia-manusia, perempuan dan laki-laki, yang profesional di bidangnya, dan sebagai peneliti, peka terhadap isu-isu perempuan dan gender.”[2]
  4. “Saya awalnya ada di Komnas HAM. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, saya ditarik oleh aktivis-aktivis perempuan untuk ikut serta dalam perjuangan mereka. Saat itu muncul berita tentang pemerkosaan di tengah-tengah kerusuhan. Saya mendengar sendiri dokter-dokter yang membantu para korban ngomong, ‘Ibu jangan bilang siapapun kalau ketemu saya.’ Mereka takut diintimidasi. Waktu itu ada banyak pihak yang menyangkal dan menganggap bahwa pemerkosaan itu ‘hanya dugaan.’ Alasannya, kalau korban tidak dimunculkan, artinya tidak valid. Saya marah. Karena ketika saya menemui korban dan pendamping, mereka begitu trauma hingga memilih melupakan dan tidak mau ditanya-tanya lagi. Saya menghormati pilihan mereka.” [3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Syarifudin, Taufiq. "Pramono Sowan ke Aktivis Veteran Perempuan, Saparinah Sadli". detiknews. Diakses tanggal 2025-12-08.
  2. 2,0 2,1 2,2 "Saparinah Sadli: Kiprah dan Pemikirannya". Sekolah Pemikiran Perempuan (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2025-12-08.
  3. Kristina, Ayu (2025-08-05). "Saparinah Sadli dan Kegigihannya Memperjuangkan Hak Korban Kerusuhan Mei 1998". Aman Indonesia (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-08.