Lompat ke isi

Rofū Miki

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Rofū Miki dalam majalah Jepang "The Mainichi Graphic, edisi 6 Mei 1956" yang diterbitkan oleh The Mainichi Newspapers Co., Ltd..

Rofū Miki adalah nama pena dari Masao Miki (23 Juni 1889-29 Desember 1964), seorang penyair dan penulis buku anak-anak Jepang terkemuka yang erat kaitannya dengan gerakan Simbolisme Jepang. Karya-karyanya, yang sering kali bernuansa melankolis dan estetik, telah meninggalkan jejak mendalam dalam sastra Jepang. Salah satu karyanya yang paling ikonik adalah puisi Akatombo, yang kemudian diadaptasi menjadi lagu anak-anak populer di Jepang.

Setelah Ciuman

[sunting | sunting sumber]
  • “Apakah kamu tertidur?”
  • “Tidak,” jawabmu.
  • Bunga-bunga di bulan Mei
  • Bermekaran di siang hari.
  • Di rerumputan tepi telaga
  • Di bawah sinar mentari,
  • “Aku bisa memejamkan mata
  • dan mati di sini,” katamu.

Lagu Perpisahan Bulan Mei

[sunting | sunting sumber]
  • Aku lihat—
  • Dalam damai puing taman
  • Bunga-bunga sesekali bertebaran dalam sunyi—
  • Langkah-langkah kaki angin,
  • Dan dalam cahaya bening senja
  • Punggung bulan Mei yang manis pergi.
  • Biru muda seluas langit
  • Dan di pohon-pohon yang termenung
  • Burung-burung bernyanyi sia-sia.
  • Di dalam taman kini
  • Kenangan terkulai
  • Lalu meneteskan air mata dan raib—
  • Sedangkan bintang-bintang,
  • Di sepanjang alur rasi yang sayu
  • Mengayunkan angan-angannya yang lena
  • Meninggalkan rumahnya yang bahagia.
  • Bulan Mei yang pergi—
  • Kulihat punggungmu
  • Kilapan serangga-serangga kecil
  • Penghuni tanah yang melata
  • Dengung lebah madu yang berkerumun
  • Di tengah kerlap dan dengung tersepuh kuning emas
  • Dan bermimpi di sinar surya yang menyesakkan dada,
  • Di situlah bulan Mei berpisah
  • Bulan Mei yang indah.
  • Dalam damai puing tamanku
  • Di dekat kolam dan lumut menghijau
  • Dan kunir subur melata,
  • Tumbuh sepi, terkatup sunyi,
  • Hanyut, mengambang di sinar matahari.
  • Seekor capung, mengkilap biru,
  • Arah matanya menatap
  • Bulan Mei yang pamit
  • Kupandang punggungmu...
  • Selamat tinggal bagi capung bermata biru
  • Selamat tinggal bagi kunir subur melata—
  • Kala berpisah di kolam tengah hari...

Capung Merah

[sunting | sunting sumber]
  • Capung merah terbang dalam cahaya senja
  • Aku bertanya-tanya kapan aku melihat mereka di punggung seseorang
  • Kami memetik murbei di ladang gunung
  • Dan aku meletakkannya di keranjang kecil, tapi aku bertanya-tanya apakah itu hanya ilusi
  • Pengasuh yang merawatku menikah dan pergi saat usianya lima belas tahun
  • Dan setelah itu, tidak ada kabar tentangnya dari kampung halamannya
  • Capung merah terbang dalam cahaya senja
  • Satu di antaranya kini beristirahat di ujung tiang

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Shimazaki, Toson, et all (1957),The Poetry Of Living Japan (Hal. 34-36), Grove Press Inc, New York

Pranala Luar

[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: