Lompat ke isi

Rigoberta Menchú

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Rigoberta Menchú Tum (lahir 9 Januri 1959) adalah seorang aktivis hak asasi manusia dan advokat hak-hak masyarakat adat Maya Quiché dari Guatemala yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1992. Dibesarkan dalam keluarga petani miskin yang mengalami penindasan brutal oleh militer selama perang saudara di Guatemala, Menchú menyaksikan ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya dibunuh. Ia bergabung dengan Komite Persatuan Petani (CUC) dan kemudian mengorganisir perlawanan non-militer terhadap penindasan, yang memaksa dia mengasingkan diri ke Meksiko pada tahun 1981. Melalui bukunya yang berpengaruh, I, Rigoberta Menchú (1983), ia menarik perhatian internasional pada kekejaman yang dialami oleh masyarakat Maya, menjadikannya tokoh terkemuka dalam perjuangan untuk rekonsiliasi etnokultural dan hak-hak masyarakat adat di seluruh benua Amerika.[1]

  1. I am like a drop of water on a rock. After drip, drip, dripping in the same place, I begin to leave a mark, and I leave my mark in many people's hearts.[2]
  2. Aku bagaikan setetes air di atas batu. Setelah menetes, menetes, menetes di tempat yang sama, aku mulai meninggalkan jejak, dan aku meninggalkan jejak di hati banyak orang.[2]
  3. It is not possible to conceive a democratic Guatemala, free and independent, without the indigenous identity shaping its character into all aspects of national existence. [3]
  4. Mustahil membayangkan Guatemala yang demokratis, bebas dan merdeka, tanpa identitas pribumi yang membentuk karakternya dalam seluruh aspek kehidupan nasional.[3]
  5. Let there be freedom for the Indians, wherever they may be in the American Continent or elsewhere in the world, because while they are alive, a glow of hope will be alive as well as a true concept of life.[4]
  6. Semoga ada kebebasan bagi orang Indian, di mana pun mereka berada di Benua Amerika atau di tempat lain di dunia, karena selama mereka hidup, secercah harapan akan tetap hidup sebagaimana konsep kehidupan yang sejati. [4]
  7. It doesn't mean that I reject everything because I know that things come in their time and when you do things calmly, they work much better.[5]
  8. Bukan berarti saya menolak segalanya karena saya tahu segala sesuatu datang pada waktunya dan ketika kita melakukannya dengan tenang, hasilnya akan jauh lebih baik. [5]
  9. I think that unless a religion springs from within the people themselves, it is a weapon of the system. [5]
  10. Saya pikir jika agama tidak muncul dari dalam masyarakat itu sendiri, maka agama tersebut adalah senjata sistem. [5]
  11. Into the enemy’s hands alive. That was what I dreaded. No, what hurt me very, very much was the lives of so many compañeros, fine compañeros, who weren’t ambitious for power in the least. All they wanted was enough to live on, enough to meet their people’s needs. This reinforced my decision to fight.[5]
  12. Ke tangan musuh hidup-hidup. Itulah yang kutakutkan. Tidak, yang sangat, sangat menyakitkanku adalah nyawa begitu banyak compañeros, compañeros yang baik, yang sama sekali tidak berambisi untuk berkuasa. Yang mereka inginkan hanyalah cukup untuk hidup, cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat mereka. Ini memperkuat keputusanku untuk berjuang. [5]
  13. Indigenous people aren't strange. We may be special, but we are also part of the modern world in which we all live. We are part of the diversity of cultures, the plurality of races, the mixture of societies on all the continents where we live today. Indigenous people are not some myth from the past, a myth that survives only in legends and in ruins![6]
  14. Masyarakat adat tidaklah aneh. Kami mungkin istimewa, tetapi kami juga bagian dari dunia modern tempat kita semua tinggal. Kami adalah bagian dari keragaman budaya, pluralitas ras, percampuran masyarakat di semua benua tempat kami tinggal hari ini. Masyarakat adat bukanlah mitos dari masa lalu, mitos yang hanya bertahan dalam legenda dan reruntuhan![6]
  15. Around the world, there have been many struggles in which indigenous peoples have played an important role. But their names are never mentioned, their contributions have been ignored. Others have given new names to these concerns which indigenous peoples have always cared about.[6]
  16. Di seluruh dunia, banyak perjuangan di mana masyarakat adat memainkan peran penting. Tetapi nama mereka tidak pernah disebutkan, kontribusi mereka diabaikan. Pihak lain memberikan nama baru untuk keprihatinan yang selalu diperhatikan oleh masyarakat adat ini.[6]
  17. The past is a good foundation for the present, and an inspiration for the future. People owe it to history and to the present to prepare for the future.[6]
  18. Masa lalu adalah fondasi yang baik bagi masa kini, dan inspirasi untuk masa depan. Masyarakat berutang kepada sejarah dan kepada masa kini untuk bersiap menghadapi masa depan.[6]
  19. To listen to indigenous peoples is to listen to the women and to those who know how to love this earth. We may be only a small grain of sand, but it is one which will prove important for the challenges Humankind must face in the next millennium.[6]
  20. Mendengarkan seruan masyarakat adat berarti mendengarkan para perempuan dan mereka yang tahu bagaimana mencintai bumi ini. Kita mungkin hanya sebutir kecil pasir, tetapi butiran inilah yang akan terbukti penting untuk tantangan yang harus dihadapi Umat Manusia di milenium berikutnya.[6]
  21. Indigenous people are among the most marginalised of the marginalised people on Earth, among those whose rights have been violated for so long, is a call to conscience. I hope this call will be answered in the new millennium which now awaits us.[6]
  22. Fakta bahwa masyarakat adat termasuk di antara kelompok masyarakat yang paling terpinggirkan dari yang terpinggirkan di Bumi, di antara mereka yang hak-haknya telah dilanggar begitu lama, adalah seruan kepada hati nurani. Saya berharap seruan ini akan dijawab di milenium baru yang kini menanti kita.[6]
  23. Indigenous peoples have always depended on their traditional wisdom and culture. Our cosmological vision, our way of thinking, our lifestyle have empowered us to survive through many difficult times in the past.[6]
  24. Masyarakat adat selalu bergantung pada kearifan dan budaya tradisional mereka. Visi kosmologis kami, cara berpikir kami, gaya hidup kami telah memberdayakan kami untuk bertahan melalui banyak masa sulit di masa lalu.[6]
  25. We humans live a short period of time, shorter than a river, a tree, an insect, or a stone. We must leave something positive behind.[7]
  26. Kita manusia hidup dalam jangka waktu yang singkat, lebih singkat daripada sungai, pohon, serangga, atau batu. Kita harus mewariskan sesuatu yang positif.[7]
  27. I think that only people can bring about change. People need to become aware, to be more committed. The day people dignify themselves, then change is possible.[7]
  28. Saya pikir hanya masyarakatlah yang dapat mewujudkan perubahan. Masyarakat perlu menjadi sadar, menjadi lebih berkomitmen. Pada saat masyarakat telah memartabatkan diri mereka sendiri, maka perubahan menjadi mungkin.[7]
  29. I consider the violence inflicted on us, the indigenous women and peoples, the greatest crime humanity has ever committed.[8]
  30. Saya menganggap kekerasan yang ditimpakan kepada kami, perempuan dan masyarakat adat, adalah kejahatan terbesar yang pernah dilakukan umat manusia.[8]
  31. We stand strong with the knowledge and wisdom of our ancestors. We preserve this wisdom. We don't have an institutional religion, but a natural interpretation of spirituality.[8]
  32. Kami berdiri teguh dengan pengetahuan dan kearifan nenek moyang kami. Kami melestarikan kearifan ini. Kami tidak memiliki agama institusional, tetapi interpretasi spiritualitas yang alami.[8]
  33. We are not myths of the past, ruins in the jungle, or zoos. We are people and we want to be respected, not to be victims of intolerance and racism.[9]
  34. Kami bukanlah mitos masa lalu, reruntuhan di hutan, atau kebun binatang. Kami adalah manusia dan kami ingin dihormati, bukan menjadi korban intoleransi dan rasisme.[9]
  35. A hungry people is a people without peace. If the demands of the people are not met, what kind of peace are we talking about?[9]
  36. Rakyat yang kelaparan adalah rakyat tanpa perdamaian. Jika tuntutan rakyat tidak dipenuhi, perdamaian macam apa yang kita bicarakan?[9]
  37. The culture of death is imposed by economic and political interests, the arrogance of power, corruption. Silence is also part of repression.[9]
  38. Budaya kematian dipaksakan oleh kepentingan ekonomi dan politik, arogansi kekuasaan, dan korupsi. Keheningan juga merupakan bagian dari penindasan.[9]
  39. Every human being occupies a small piece of time. Time itself is much longer, and because of this they always said that we must care for this earth while we are on it because it will be part of our children and the children of our grandchildren. They know that life is short, that it can end so soon, and that if one gets lost on the way, others will come to take their place.[9]
  40. Setiap manusia menempati sepotong kecil waktu. Waktu itu sendiri jauh lebih panjang, dan karena inilah mereka selalu mengatakan bahwa kita harus menjaga bumi ini selama kita berada di atasnya karena bumi ini akan menjadi bagian dari anak-anak kita dan anak-anak dari cucu-cucu kita. Mereka tahu bahwa hidup itu singkat, bahwa hidup bisa berakhir begitu cepat, dan bahwa jika seseorang tersesat di tengah jalan, yang lain akan datang untuk menggantikan tempat mereka.[9]
  41. A real reconciliation has to be based on the search for truth. Finding the truth is not enough. What we also have to find is justice.[10]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Nobel Peace Prize 1992". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-01.
  2. 2,0 2,1 "Rigoberta Menchu Quotes". BrainyQuote (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  3. 3,0 3,1 "Rigoberta Menchu Quotes". BrainyQuote (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  4. 4,0 4,1 "Rigoberta Menchu Quotes". BrainyQuote (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 5,5 "Rigoberta Menchú Quotes (Author of I, Rigoberta Menchú)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-11-16.
  6. 6,00 6,01 6,02 6,03 6,04 6,05 6,06 6,07 6,08 6,09 6,10 6,11 "A PLEA FOR GLOBAL EDUCATION". GLOBAL VISION FOUNDATION (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-01.
  7. 7,0 7,1 7,2 7,3 "Rigoberta Menchú: "Do you want to change the world? Start wi | Vrije Universiteit Brussel". www.vub.be (dalam bahasa Inggris). 2020-03-12. Diakses tanggal 2025-12-01.
  8. 8,0 8,1 8,2 8,3 "Rigoberta Menchú: 'Thuis voor toekomst vechten in plaats van elders de droom van de globalisering na te jagen' – MO*". MO* Magazine (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-12-01.
  9. 9,0 9,1 9,2 9,3 9,4 9,5 9,6 9,7 "1992 Interview with Rigoberta Menchu Tum". www.indigenouspeople.net. Diakses tanggal 2025-12-01.
  10. "Rigoberta Menchú Tum". Robert & Ethel Kennedy Human Rights Center (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-20.
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: