Lompat ke isi

Ratu Kalinyamat

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Rainha de Jepara

Ratu Kalinyamat (nama asli: Retna Kencana; memerintah 1549–1579) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan penguasa Jepara pada abad ke-16. Sebagai putri Sultan Trenggana dari Demak, ia membangun Jepara menjadi kekuatan maritim yang besar dan memimpin perlawanan patriotik terhadap Portugis di Malaka. Dalam catatan Eropa, ia digambarkan sebagai Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame yang berarti "Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani". Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2023.[1]

Sumpah dan Tapa Brata

[sunting | sunting sumber]

Kutipan-kutipan dari Babad Tanah Jawi mencatat serangkaian sumpah dan laku tapa Ratu Kalinyamat setelah kematian suaminya, yang memicu sumpahnya untuk menuntut keadilan dari Arya Penangsang.

  • Kepada Hadiwijaya (Jaka Tingkir), Ratu Kalinyamat menawarkan kekuasaannya sebagai sayembara:

"... Yen kowe bisa mateni si Arya Penangsang, negara ing Kalinyamat lan ing Prawata, utawa raja-branaku kabeh kaduwé marang kowe, lan aku ngenger marang kowe..."

Terjemahan: "... Jika kamu dapat membunuh Arya Penangsang, negeri di Kalinyamat dan Prawata, atau semua harta benda kekayaanku menjadi milikmu, dan aku akan mengabdi kepadamu..."[2]

Tawaran ini menjadi pemicu keterlibatan Hadiwijaya dalam konflik melawan Arya Penangsang pada tahun 1549.

  • Ia kemudian melakukan tapa wuda sinjang rambut (bertapa tanpa busana dengan rambut terurai) di Gunung Danaraja, seperti tercatat dalam pupuh Pangkur:

Nimas Ratu Kalinyamat, tilar pura mertapa aneng wukir. Tapa wuda sinjang rambut, aneng wukir Danaraja. Aprasapa nora tapih-tapihan ingsun, yen tan antuk adiling Hyang, patine sedulur mami.

Terjemahan: "Nimas Ratu Kalinyamat meninggalkan istana untuk bertapa di gunung. Ia menjalani tapa tanpa mengenakan pakaian, hanya berjarit rambut, berada di Gunung Danaraja. Bersumpah tidak akan mengenakan jarit sebelum mendapatkan keadilan Tuhan atas kematian saudaranya."[3]

Tindakan ini merupakan wujud sumpah Ratu Kalinyamat untuk menuntut keadilan.

  • Intensitas sumpahnya juga tercatat dalam pupuh Dhandhanggula, yang menunjukkan tekad ekstrem untuk membalas dendam:

"Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen ingsun durung bisa nganggo keset jembule Arya Penangsang."

Terjemahan: "Tidak sekali-kali aku meninggalkan tapaku kalau aku belum menjadikan kepala Arya Penangsang sebagai keset."[4]

Ungkapan ini menjadi simbol komitmen pribadinya untuk menuntut keadilan menurut pandangan politik dan spiritual Jawa pada masa itu.

Tentang Ratu Kalinyamat

[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah pandangan dari beberapa tokoh dan sejarawan mengenai peran dan signifikansi Ratu Kalinyamat.

Lestari Moerdijat

[sunting | sunting sumber]

Lestari Moerdijat, selaku Wakil Ketua MPR RI, memberikan pandangannya mengenai peran Ratu Kalinyamat sebagai lambang kedudukan perempuan.

Kolonialisme yang pada dasarnya merupakan gerakan perendahan martabat manusia hingga serendah-rendahnya adalah suatu sistem dimana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain. Hal ini didasari atas suatu moral bahwa penjajah lebih baik dan hebat ketimbang yang dijajah. Kehadiran Ratu Kalinyamat sebagai seorang perempuan pada saat itu tentu merupakan suatu lambang bahwa di Nusantara ini perempuan mempunyai kedudukan yang sangat tinggi.[5]

Vitor Teixeira

[sunting | sunting sumber]

Prof. Vitor Teixeira, Ph.D., dari Universidade Católica Portuguesa, menyoroti bagaimana Ratu Kalinyamat dihormati oleh Portugis dan menepis anggapan mengenai batasan gender dalam kekuasaan.

Karir energik Ratu Kalinyamat mengungkap beberapa fakta esensial tentang gender, agama, dan kekuasaan dalam periode sejarah Asia Tenggara. Pertama, menunjukkan bahwa negara muslim yang taat tidak melarang perempuan untuk memerintah. Kedua, perjuangan Ratu Kalinyamat menunjukkan bagaimana penentangan militer terhadap Portugis didasarkan pada kepentingan kolektif kasultanan-kasultanan muslim (Jawa, Melayu, Ambon, China). Meskipun beberapa kali diserang, Portugis sangat menghormati Ratu Kalinyamat dan menjulukinya sebagai "Rainha de Japora, Senhora Poderosa e Rica" yang berarti: Ratu Jepara, perempuan kaya dan berkuasa. Selain itu Sang Ratu juga disebut sebagai "de Kranige Dame" (perempuan pemberani).[5]

Ratno Lukito

[sunting | sunting sumber]

Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat, Prof. Dr. Ratno Lukito, menjelaskan mengenai landasan riset akademis yang digunakan untuk menggali sejarah sang Ratu.

Laporan hasil penelitian empiris ini ditulis dengan mendasarkan pada riset kualitatif yang melibatkan sejarawan, arkeolog dan arsiparis. Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL) pada Mei 2018, telah membentuk Tim Pakar Ratu Kalinyamat dengan melibatkan akademisi dari Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Indonesia Jakarta, dan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.[5]

Connie Rahakundini Bakrie

[sunting | sunting sumber]

Connie Rahakundini Bakrie, selaku Presiden Indonesian Institute for Maritime Studies, menekankan visi Ratu Kalinyamat dalam membangun aliansi maritim.

Di bawah kepemimpinannya (1549-1579), Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Kemampuan industri dan kekuatan militer yang dibangun, mampu memimpin era industrialisasi maritim Asia Tenggara. Selain itu, Sang Ratu tampil sebagai leader aliansi kekuatan kesultanan Islam di kawasan (Johor, Aceh, Maluku dan Jepara). Visi Ratu Kalinyamat dalam aliansi itu adalah mencapai kesejahteraan bersama dan menghilangkan ancaman/musuh yang besar kala itu, Portugis.[5]

Sujiwo Tejo

[sunting | sunting sumber]

Budayawan Sujiwo Tejo mengajak untuk merefleksikan kebesaran masa lalu melalui sosok Ratu Kalinyamat.

Masa depan kita ada di belakang, yaitu di setiap keemasan masa lalu yang kembali kita cerna dengan metabolisme kreatif buat kebutuhan zaman 'here and now'. Begitu pun masa depan poros maritim kita. Bahan cerna itu termaktub di buku tentang Ratu Kalinyamat ini, seorang ratu yang selama berabad-abad kita sangka negatif.[5]

Hadi Priyanto

[sunting | sunting sumber]

Drs. Hadi Priyanto, M.M, dalam bukunya Ratu Kalinyamat: Rainha de Japara (2018), menyimpulkan nilai-nilai yang dapat dipelajari dari sosok sang Ratu.

Dari perjalanan hidup Ratu Kalinyamat kita dapat belajar tentang semangat dan nilai nasionalisme, patriotisme, solidaritas, karakter, integritas, optimisme, keteladanan, kesetiaan, dan bahkan spiritualitas.[6]

Megawati Soekarnoputri

[sunting | sunting sumber]

Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyatakan bahwa perjuangan Ratu Kalinyamat layak dihargai dengan gelar pahlawan nasional.

Ratu Kalinyamat dengan kegigihan dan keberanian dalam berjuang untuk Indonesia sudah diakui oleh bangsa luar. Atas dasar tersebut, Ratu Kalinyamat juga layak dihargai dan dijadikan pahlawan nasional Indonesia.[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Profil Ratu Kalinyamat, Sosok yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional. Medcom.id. Diakses 11 Agustus 2025
  2. Olthof, W.L. (1941). Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647. S’Gravenhage: M. Nijhoff. hlm. 51.
  3. Achmad, Sri Wintala (2020). Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Ratu Kalinyamat. Yogyakarta: Araska. ISBN 978-623-7910-55-8. hlm. 76.
  4. Achmad, Sri Wintala (2020). Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Ratu Kalinyamat. Yogyakarta: Araska. ISBN 978-623-7910-55-8. hlm. 76–77.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 YDBL(2022). Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549 - 1579. Media Indonesia Publishing. ISBN 978-623-6165-07-2.
  6. Priyanto, Hadi (2018). Ratu Kalinyamat: Rainha de Japara. Jakarta: BLA Jakarta. ISBN 978-602-51635-0-0.
  7. Penetapan Ratu Kalinyamat Pahlawan Nasional, Megawati Pernah Mengusulkannya Tahun Lalu. Tempo.co. 10 November 2023.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: