Lompat ke isi

Ratna Indraswari

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Ratna Indraswari Ibrahim dan karyanya
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Commons
Commons
Wikimedia Commons memiliki media mengenai:

Ratna Indraswari, juga dikenal sebagai Ratna Indraswari Ibrahim (24 April 1949 – 28 Maret 2011) adalah seorang sastrawan, penulis cerpen dan novel, serta aktivis hak-hak perempuan dan difabel asal Indonesia. Meski lumpuh akibat rachitis sejak usia 10 tahun, ia menghasilkan lebih dari 400 karya sastra seperti cerpen dan novel dengan mendiktekan kepada asisten.[1][2][3]

Ratna mendirikan Yayasan Bhakti Nurani Malang pada 1977 untuk difabel, menjabat Direktur I LSM Entropic pada 1991, serta Forum Kajian Ilmiah Pelangi pada 2001 guna diskusi budaya dan isu lingkungan. Ia mewakili Indonesia di seminar internasional seperti Disable People International di Sydney (1993) dan Kongres Perempuan Sedunia di Beijing (1995).[1][2][4][3]

  • "Berilah saya kesempatan untuk berpikir. Saya ingin semuanya jelas dulu bahwa keinginan Kang Mas bukan karena egoisme laki-laki yang ingin melihat istrinya selalu perempuan yang cantik. Karena saya tidak mau hanya menjadi aksesorismu, seperti kudamu, kerajaanmu, punggawamu, dan dayang-dayangmu.
    ~ Ucap tokoh Candra Kirana di dalam cerpen berjudul Ande-Ande Lumut, hal. 29.[5]
  • "Kalau tidak ada ketegasan dalam hubunganmu, mengapa kau harus bertunangan dengan orang lain? Nduk, pernikahan itu tidak bisa disederhanakan, apalagi ketika kau marah dengan pacarmu, kemudian bertunangan dengan orang lain."
    ~ Ucap tokoh Bunda di dalam cerpen berjudul Pada Suatu Hari, hal. 15[5]

Wawancara dan Dialog Publik

[sunting | sunting sumber]
  • Saya setuju dengan sebutan bahwa negeri kita ini adalah negeri yang maskulin. Saya dapat melihat dan merasakan maskulinitas itu dari ‘teks-teks’ sosial kita yang sarat dengan pelecehan seksual terhadap perempuan. Dan, saya kira semua itu akibat hegemoni patriarki yang telah tumbuh cukup lama dalam negeri ini. Untuk itu, saya sangat tertantang untuk menulis cerpen sebagai saksi atas ketidakadilan.”[6]
  • “Cerpen adalah bagian dari sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra merupakan refleksi kejujuran atas realitas sosial di mana karya sastra itu tumbuh.”[6]
  • “Istri harus berani melapor ke polisi bila ia dipukul oleh suami.”[6]
  • “Perempuan itu jangan ngobrol saja, perempuan itu harus menulis, menulis apa saja. karena dengan menulis, ia dapat menemukan dirinya.”[6]
  • “Silakan mau makan, berdiskusi, menginap, atau apa saja selama saya bisa membantu, saya akan bantu, asalkan mau dengan kesederhanaan.”[6]
  • “Bahwa kebenaran seseorang itu tidak bisa dipandang dari satu sisi. Kebenaran itu hendaknya dilihat dari sisi dan perspektif yang lebih luas. Melalui share pendapat dan berbagi pengalaman, saya kira setiap persoalan yang muncul dapat lebih jelas tingkat kebenarannya.”[7]
  • “Belajar itu tidak pandang usia dan kapan pun."[8]
  • “Kemanusiaan tidak diukur dari kesempurnaan tubuh, melainkan dari kepekaan hati.”[8]
  • “Setiap manusia berhak dihormati, bukan karena kelebihannya, tetapi karena kemanusiaannya.”[9]
  • “Penderitaan menjadi bermakna ketika melahirkan kepedulian terhadap sesama.”[10]
  • “Yang paling menyakitkan bukanlah keterbatasan, melainkan perlakuan tidak adil dari manusia lain.”[11]
  • “Manusia sering lupa bahwa memahami jauh lebih penting daripada menghakimi.”[11]
  • “Kemanusiaan tumbuh ketika kita mau mendengar suara yang selama ini dibungkam.”[11]
  • “Hidup yang bermartabat adalah hidup yang memberi ruang bagi orang lain untuk tetap menjadi manusia.”[11]
  • “Belas kasih bukanlah rasa iba, melainkan pengakuan bahwa kita setara.”[5]
  • “Sastra adalah jembatan kemanusiaan antara mereka yang kuat dan mereka yang dilemahkan.”[5]
  • “Menjadi manusia berarti berani memihak pada nilai kemanusiaan, bahkan ketika dunia memilih abai.”[5]

Tema Kehidupan

[sunting | sunting sumber]
  • Keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk membatasi mimpi dan pikiran.”[12]
  • “Menulis adalah cara saya melawan nasib, sekaligus berdamai dengannya.[13]
  • “Manusia tidak ditentukan oleh tubuhnya, melainkan oleh kesadarannya.”[14]
  • “Kesabaran bukan berarti pasrah, tetapi keberanian untuk tetap hidup dengan penuh makna.”[14]
  • “Saya tidak menuntut dunia untuk adil, saya hanya ingin manusia saling memahami.”[14]
  • “Dalam sunyi dan keterbatasan, saya justru menemukan kebebasan berpikir.”[14]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 "Profil Ratna Indraswari Ibrahim". merdeka.com. Diakses tanggal 2025-12-01.
  2. 2,0 2,1 Qudsia, Miatul (2024-12-06). "Ratna Indraswari Ibrahim: Perempuan Difabel yang Berdaya". Bincang Muslimah. Diakses tanggal 2025-12-01.
  3. 3,0 3,1 Prameswari, Cinta Putri (2023-09-26). "Ratna Indraswari Ibrahim, Sastrawan Kota Malang yang Mengajarkan Arti Kemanusiaan - Semilir". Diakses tanggal 2025-12-01.
  4. "Ratna Indraswari Ibrahim, "Juru Bicara Juminten" dari Diponegoro 3 A Malang". tatkala.co. 2023-07-01. Diakses tanggal 2025-12-01.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 Ibrahim, Ratna Indraswari (2007-01-01). Lipstik dalam tas Doni. Bentang Pustaka. ISBN 978-979-1227-01-8.
  6. 6,0 6,1 6,2 6,3 6,4 "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan. Diakses tanggal 2025-12-01.
  7. "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  8. 8,0 8,1 "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  9. "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  10. "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  11. 11,0 11,1 11,2 11,3 "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  12. "Badan Bahasa". dapobas.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
  13. "(Almh.) Ratna Indraswari Ibrahim: Menulis Cerpen, Mengabarkan Kenyataan". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-28.
  14. 14,0 14,1 14,2 14,3 Mansurudin, Susilo (2017-04-28). Kehumanisan Ratna Indraswari Ibrahim dalam Dunia Sastra: Humanism of Ratna Indraswari Ibrahim in the Literary World (dalam bahasa Inggris). Vol. 1. hlm. 94–106. doi:10.29407/jbsp.v1i1.680. ISSN 2722-1490.
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z