Rahayu Oktaviani
Tampilan

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Rahayu Oktaviani merupakan seorang ahli primata dan konservasionis Indonesia. Ia adalah pendiri Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (Kiara) dan mendedikasikan hidupnya untuk upaya pelestarian owa jawa (Hylobates moloch) di hutan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Pada 30 April 2025, Rahayu atau yang sering dipanggil Ayu menjadi salah satu dari tujuh penerima penghargaan Whitley Fund for Nature, sebuah organisasi amal yang berbasis di Inggris.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “Kadang suara perempuan tidak didengar, terutama di lapangan. Tapi saya kira justru kita butuh pendekatan yang lebih empatik, kolaboratif—dan itu kekuatan perempuan.”[2]
- “Dalam dunia konservasi yang kerap maskulin, saya menemukan kekuatan perempuan dalam hal yang paling mendasar: keterhubungan dengan tanah, air, dan kehidupan. Lewat inisiatif Ambu Halimun di Citalahab, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kami membangun kelompok pemberdayaan perempuan. Di sanalah saya melihat bahwa perempuan adalah penjaga narasi, penyambung peradaban. Cerita tentang Owa, hutan, dan alam hidup kembali melalui ibu-ibu yang meneruskannya ke anak-cucu. Perempuan tidak hanya pelengkap; mereka adalah pemimpin yang merawat nilai-nilai komunitas.”[2]
- “Pengalaman paling krusial yang saya rasakan saat pertama kali turun langsung ke komunitas adalah menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup. Sebagai orang luar yang datang dari kota besar, kadang tanpa sadar kita membawa serta sikap eksklusif. Kita merasa datang sebagai pendidik, membawa misi besar bernama konservasi, namun justru tanpa sadar membangun tembok yang membatasi. Alih-alih menjadi jembatan, kita justru menciptakan jarak."[2]
- "Tantangan terbesar dalam membangun kepercayaan ternyata bukan soal logistik atau bahasa—melainkan soal sikap. Bagaimana kita mampu merendahkan hati, menyadari bahwa kita adalah tamu di tanah yang sudah lama mereka tinggali. Kuncinya terletak pada kesediaan untuk benar-benar hadir, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin. Saya belajar bahwa untuk bisa diterima, kita harus membumi."[2]
- “Kita terlalu terburu-buru membangun, tapi lupa bahwa yang kita korbankan bukan hanya pohon dan tanah, tapi seluruh ekosistem yang menopang hidup kita sendiri."[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Zaki, M. Faiz (8 Mei 2025). "Direktur Kiara Rahayu Oktaviani Raih Whitley Awards 2025". Tempo. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 "Rahayu Oktaviani Melawan Derap Pembangunan, Merawat Suara Hutan". Elle Indonesia. 18 September 2025. Diakses tanggal 2025-12-01.