Lompat ke isi

Rachel Cusk

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Rachel Cusk

Rachel Cusk (8 Februari 1967)[1] adalah penulis buku Second Place (Prix Femina étranger), trilogi Outline, memoar A Life's Work dan Aftermath, serta berbagai karya fiksi dan nonfiksi lainnya. Ia merupakan penerima Guggenheim Fellowship, penghargaan Malaparte Prize 2024, dan dianugerahi gelar Chevalier de l'ordre des arts et des lettres.[2]

  • "It is living, not thinking, as a feminist that has become the challenge."
    • "Menjadi seorang feminis adalah soal hidup, bukan sekadar berpikir; itulah tantangannya."
  • "Feminism remains something that needs to be explained to people."
    • "Feminisme tetap menjadi sesuatu yang perlu dijelaskan kepada orang-orang."
  • "There is always shame in the creation of an expressive work, whether it's a book or a clay pot. Every artist worries how they will be seen by others through their work. When you create, you aspire to do justice to yourself, to remake yourself, and there is always the fear that you will expose the very thing that you hoped to transform."[3]
    • "Selalu ada rasa malu dalam menciptakan karya ekspresif, baik itu buku maupun tembikar. Setiap seniman khawatir bagaimana mereka akan dilihat oleh orang lain melalui karya mereka. Saat mencipta, Anda bercita-cita untuk menegakkan keadilan bagi diri sendiri, untuk memperbarui diri, dan selalu ada ketakutan bahwa Anda akan menyingkap hal yang sebenarnya ingin Anda ubah."
  • "As it stands, motherhood is a sort of wilderness through which each woman hacks her way, part martyr, part pioneer; a turn of events from which some women derive feelings of heroism, while others experience a sense of exile from the world they knew."
    • "Saat ini, menjadi seorang ibu adalah semacam belantara yang harus ditempuh setiap wanita, sebagian sebagai martir, sebagian sebagai perintis; sebuah keadaan dari mana beberapa wanita merasakan heroisme, sementara yang lain mengalami rasa terasing dari dunia yang mereka kenal.”
  • "The true self seeks release, not constraint. It doesn't want to be corseted in a sonnet or made to learn a system of musical notations. It wants liberation, which is why very often it fastens on the novel, for the novel seems spacious, undefined, free."[4]
    • "Diri sejati mencari kebebasan, bukan keterbatasan. Ia tidak ingin dibatasi dalam soneta atau dipaksa mempelajari sistem notasi musik. Ia ingin pembebasan, itulah sebabnya seringkali ia menekuni novel, karena novel terasa luas, tak terbatas, dan bebas."
  • "Just as a person, don't you sometimes get sick of being yourself and want to be the thing you aren't? But you are the thing you are – to me, that is style. It is relatively bonded to self and there is not a lot you can do about it. Form is different."
    • "Seperti halnya manusia, bukankah terkadang Anda muak menjadi diri sendiri dan ingin menjadi sesuatu yang bukan diri Anda? Namun Anda adalah apa adanya – bagi saya, itulah gaya. Ia relatif melekat pada diri dan tidak banyak yang bisa Anda lakukan. Bentuk berbeda."
  • "For me, writing and living are the same thing, or they ought to be. It is only by paying great attention to ordinary living that I actually learn anything about writing."[5]
    • "Bagi saya, menulis dan hidup adalah hal yang sama, atau seharusnya demikian. Hanya dengan memperhatikan hidup sehari-hari secara seksama, saya benar-benar belajar sesuatu tentang menulis."

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Thurman, Judith (2017-07-31). Rachel Cusk Gut-Renovates the Novel (dalam bahasa American English). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. "Rachel Cusk". Faber (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-12-19.
  3. "Rachel Cusk Quotes". BrainyQuote (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-19.
  4. "TOP 25 QUOTES BY RACHEL CUSK (of 67)". A-Z Quotes. Diakses tanggal 2025-12-19.
  5. Kellaway, Kate (2014-08-24). Rachel Cusk: 'Aftermath was creative death. I was heading into total silence' (dalam bahasa Inggris (Britania)). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)