Plestia Alaqad
Tampilan

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Plestia Alaqad (bahasa Arab: بلستيا العقاد; lahir 10 Desember 2001) adalah wartawan dan penulis Palestina. Namanya mulai dikenal setelah menulis tentang konflik dan agresi Israel di Gaza sejak akhir 2023. Sebelum bekerja sebagai jurnalis, ia banyak mengunggah video dan tulisan di Instagram tentang apa yang dialaminya sebagai korban agresi militer Israel. Pada 2024, BBC menyatakan Alaqad sebagai salah satu perempuan inspiratif dan berpengaruh yang masuk ke daftar 100 Women (BBC).[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “Before the genocide, I knew life was limited. You couldn’t travel whenever you wanted – borders opened and closed. We weren’t living the best life. Then after the genocide, I began longing for the previous days that weren’t even perfect or normal.”[2]
- Sebelum genosida, saya tahu hidup kami terbatas. Kita tidak bisa bepergian kapan pun kita mau – perbatasan dibuka dan ditutup. Kami tidak menjalani kehidupan yang terbaik. Lalu setelah genosida, saya mulai merindukan hari-hari sebelumnya yang bahkan tidak sempurna atau normal.
- “We had our laptops with us, we were sitting there talking, planning, applying for jobs, for master’s [degrees]. The next day, we woke up to a different reality.”
- Kami membawa laptop kami, kami duduk di sana mengobrol, merencanakan, melamar pekerjaan, dan gelar master. Keesokan harinya, kami terbangun dengan kenyataan yang berbeda.
- "Too often, journalists avoid certain words as if using them would compromise neutrality—but in reality, this compromises their integrity. A journalist's job is to tell the truth, and everyone in the profession knows how powerful language is. When journalists, or anyone else, avoid the right language under the guise of neutrality, it has real consequences: it's costing Palestinians their lives."[3]
- Terlalu sering, jurnalis menghindari kata-kata tertentu seolah-olah penggunaannya akan membahayakan netralitas—namun kenyataannya, hal ini justru membahayakan integritas mereka. Tugas jurnalis adalah menyampaikan kebenaran, dan semua orang di profesi ini tahu betapa dahsyatnya bahasa. Ketika jurnalis, atau siapa pun, menghindari bahasa yang tepat dengan dalih netralitas, konsekuensinya nyata: nyawa warga Palestina melayang.
- “People need to appreciate the reason we’re seeing the news in the first place is Palestinian journalists. They themselves are getting killed, starved, and they’re being specifically targeted.”[2]
- Orang-orang perlu menyadari bahwa alasan utama kita melihat berita adalah para jurnalis Palestina. Mereka sendiri terbunuh, kelaparan, dan menjadi sasaran khusus.
- "Sadly, we often feel the need to highlight children just to appeal to the world's emotions, when in truth, none of what was happening in Gaza should ever be acceptable. It's absurd that some people focus on words instead of actions. They obsess over slogans like "From the river to the sea, Palestine will be free", calling them antisemitic—yet the killing, displacement and deliberate starvation of Palestinians are not treated as unacceptable."[3]
- Sayangnya, kita sering merasa perlu menyoroti anak-anak hanya untuk menggugah emosi dunia, padahal sebenarnya, semua yang terjadi di Gaza seharusnya tidak pernah bisa diterima. Sungguh absurd bahwa beberapa orang lebih fokus pada kata-kata daripada tindakan. Mereka terobsesi dengan slogan-slogan seperti "Dari sungai ke laut, Palestina akan merdeka", menyebutnya antisemit—namun pembunuhan, penggusuran, dan kelaparan yang disengaja terhadap warga Palestina tidak dianggap sebagai hal yang tidak dapat diterima.
- "I used to think leaving Gaza would mean I could speak without fear. But I realised that even outside, our voices remain restricted and our existence continues to be denied."[3]
- Dulu saya pikir meninggalkan Gaza berarti saya bisa berbicara tanpa rasa takut. Namun, saya menyadari bahwa bahkan di luar sana, suara kami tetap dibatasi dan keberadaan kami terus disangkal.
- "Survivor's guilt is something every person I know from Gaza is suffering from, whether they're inside or outside. There's really no way to cope while the suffering continues. I wake up every morning unsure if I'll lose a loved one still in Gaza who didn't have a chance to escape the violence. I always hoped it would be over after a few days or months. Now, two years have passed. How can anyone begin to heal from something that hasn't even ended?"[3]
- Rasa bersalah sebagai penyintas adalah sesuatu yang dialami setiap orang yang saya kenal dari Gaza, baik mereka yang berada di dalam maupun di luar Gaza. Sungguh mustahil untuk bertahan hidup jika penderitaan ini terus berlanjut. Saya bangun setiap pagi dengan rasa tidak yakin apakah saya akan kehilangan orang terkasih yang masih berada di Gaza dan tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari kekerasan. Saya selalu berharap semuanya akan berakhir setelah beberapa hari atau bulan. Sekarang, dua tahun telah berlalu. Bagaimana mungkin seseorang bisa mulai pulih dari sesuatu yang bahkan belum berakhir?
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "BBC 100 Women 2024: Who is on the list this year?". BBC News. 3 Desember 2024. Diakses tanggal 2025-12-04.
- ↑ 2,0 2,1 Kolovos, Benita (29 Agustus 2025). "Plestia Alaqad: 'We were talking, applying for jobs. The next day, we woke up to a different reality'". The Guardian. Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 Feroz, Elias (27 November 2025). ""Our very existence is seen as a provocation"". Qantara. Diakses tanggal 2025-12-03.