Lompat ke isi

Nury Sybli

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Nury Sybli (Serang, 22 September 1978), adalah sosok Perempuan pahlawan literasi bagi Suku Baduy. Memulai karirnya di bidang jurnalistik pada tahun 2001 yakni sebagai reporter di Media Nadional di Jakarta. Lalu, pada taun 2004 hingga 2010 menjadi reporter ekonomi di kantor berita Reuters. Nury dikenal sebagai ibu baca tulis Suku Baduy Luar. Nury selalu meluangkan waktu berkeliling Indonesia mengajak sebanyak mungkin orang mencintai buku dan mencintai lingkungan[1].

  • "Jadi pada 2007 itu aku melakukan perjalanan ke suku pedalaman Baduy. Nah di sana banyak sekali anak-anak yang susah berkomunikasi. Jadi kalau diajak main itu masih takut, takut salah dan sebagainya."
  • "Nah, di Baduy itu kan tidak ada sekolah, memang tidak boleh sekolah. Oleh adat anak-anak dilarang untuk pergi ke sekolah. Jadi puluhan tahun silam orang-orang Baduy buta huruf. Banyak dari mereka yang tidak mengerti baca tulis."
  • "Yg paling penting lagi, bisa menjaga tradisi yg ada. Jika pun bisa mengembangkan perekonomian di Baduy itu bonus."[2]
  • "Dari ratusan sekolah di pelosok Indonesia yang saya kunjungi, ribuan atau bahkan ratusan ribu anak yang saya jumpai hampir seluruhnya berada di bawah garis rata-rata kemampuan anak di perkotaan. Kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar di daerah masih banyak yang tidak bisa menulis. Bahkan, saya bertemu dengan siswa kelas 6 di kota Bima yang masih mengeja. Belum lagi soal respon, menjawab pertanyaan, hingga bertanya pun masih jauh dari harapan. Anak-anak suku Baduy pun tak jauh berbeda."
  • "Berbagi ilmu itu tidak akan pernah ada akhirnya karena yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal, maka segerakanlah untuk mengisi akal kita dengan ilmu.  Seperti orang tua bilang, jika memberi benda ada masanya tetapi jika memberi ilmu akan abadi." [3]
  • "Ma, aku pasti pulang. Melihat wajahmu yang keriput dan tidur di kamarku yang selalu kosong." [4]
  • "Sebenarnya, masyarakat Baduy sangat terbuka soal pendidikan. Sebab dalam tradisinya, yang tidak diperbolehkan adalah bersekolah di instansi formal. Bukan belajar dalam arti luas. Jadi ketika meminta ijin mengajar, orang tua mereka dengan senang hati membolehkan."
  • "Sekarang, ketika saya sudah tak bisa sering-sering ke sana lagi, angkatan pertama yang mengambil alih. Mereka meneruskan saya di sana sebagai tutor. Melegakan sekali." [5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kurniawan, Anis (2019-01-10). "Dari Pedalaman Baduy Menebar Virus Literasi Hijau Ke Seluruh Pelosok Negeri • Klik Hijau". Klik Hijau. Diakses tanggal 2025-12-12.
  2. Liputan6.com (2017-11-25). "Nury Sybli, 10 Tahun Perjuangkan Anak Baduy Lawan Buta Aksara". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-12-12. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  3. Marketeers (2018-02-28). "Mengenal Sosok Nury Sybli, Pegiat Literasi Anak Baduy". www.marketeers.com. Diakses tanggal 2025-12-12.
  4. "Rumah Tua Ayah". Nury Sybli | Writer Media Relations. Diakses tanggal 2025-12-12.
  5. Arifa, Siti Nur. Sosok Perempuan Pahlawan Literasi Bagi Suku Baduy.