Lompat ke isi

Nurul Izzah Anwar

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Nurul Izzah Anwar pada 2025
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Nurul Izzah Anwar (lahir 19 November 1980) adalah aktivis kebijakan sosial, mantan legislator tiga periode, dan pegawai negeri sipil Malaysia. Ia ikut mendirikan partai multietnis terkemuka di Malaysia, Partai Keadilan Rakyat (KEADILAN), pada 1999 dan menjabat sebagai wakil ketua partai tersebut. Partai tersebut kini memimpin pemerintahan di Malaysia. Pada tahun 2021, ia memimpin studi Indeks Kemiskinan Multidimensi yang telah disesuaikan dengan kondisi COVID di daerah pemilihannya, Permatang Pauh. Pada 2023, ia menjadi salah satu ketua Sekretariat Badan Penasihat Khusus Menteri Keuangan. Saat ini, ia memimpin POLITY, sebuah lembaga kajian yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan pemuda di masyarakat.[1] Ia merupakan anak tertua Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia ke-10.[2]

Komentar setelah Anwar Ibrahim terpilih sebagai perdana menteri

[sunting | sunting sumber]
  • “Adalah kewajiban kita untuk terus berpegang pada garis depan perjuangan, menuntut keadilan bukan untuk diri kita sendiri tapi sebagai katalisator perlindungan bagi semua."[2]
  • “Hidup di dunia, kita tidak bisa lari dari cobaan. Ketika kalah dicurigai, saat menang pun dicurigai."
  • "Upaya untuk menyatukan sesama senegara, mengatasi persoalan ekonomi, menarik investasi, membangun bangsa dan menegakkan kebenaran keadilan sosial."[2]
  • "I love you, Papa. Aku selalu bangga padamu, bahkan saat Papa dipenjara. Warisan yang kita tinggalkan untuk anak-anak masa depan bukanlah harta, jabatan atau uang, melainkan idealisme dan prinsip-prinsip perjuangan yang tidak bisa dibeli."[2]

Pidato sebagai wakil presiden PKR

[sunting | sunting sumber]
  • "Malaysia is filled with successful women at all levels of society – from spirited home makers, to professionals with the uncanny skill of managing work-life balance – to our fiercely respected female Governor of Central Bank."[3]
    • Malaysia dipenuhi dengan perempuan-perempuan sukses di semua lapisan masyarakat – dari ibu rumah tangga yang bersemangat, hingga para profesional dengan keterampilan luar biasa dalam mengatur keseimbangan kehidupan dan pekerjaan – hingga Gubernur Bank Sentral kita yang sangat dihormati.
  • "As I spent the night in jail last March, I was greeted with the crying of two small Vietnamese children. Their mother was breastfeeding the younger son, while the older one had to rely on the sympathy of prison personnel for disposable diapers and other amenities. Indeed, how can we as a society permit children to be treated in such a way?"[3]
    • Saat saya menghabiskan malam di penjara Maret lalu, saya disambut tangisan dua anak kecil Vietnam. Ibu mereka sedang menyusui putra bungsunya, sementara yang sulung harus bergantung pada belas kasihan petugas penjara untuk popok sekali pakai dan perlengkapan lainnya. Sungguh, bagaimana mungkin kita sebagai masyarakat membiarkan anak-anak diperlakukan seperti itu?
  • "I am mother to two young children. I cannot imagine that whilst we keep looking at the ostensibly more important indicators of growth and success, we forget to take a closer look in our own less glamorous backyards – in our prisons, immigration detention centres, and the slums which exist even in a middle income nation such as Malaysia."[3]
    • Saya seorang ibu dari dua anak kecil. Saya tidak bisa membayangkan bahwa sementara kita terus memperhatikan indikator pertumbuhan dan kesuksesan yang tampaknya lebih penting, kita lupa untuk melihat lebih dekat lingkungan kita sendiri yang kurang mampu – di penjara, pusat penahanan imigrasi, dan permukiman kumuh yang bahkan ada di negara berpenghasilan menengah seperti Malaysia.
  • We have another 24 months as we head to the 16th General Election, and we want at least 40% of the candidates to be represented by women and youths."[4]
    • “Kita punya waktu 24 bulan lagi menjelang Pemilu Umum ke-16, dan kami ingin setidaknya 40% kandidat diwakili oleh perempuan dan pemuda.”
  • “Politik adalah permainan zero-sum. Kita harus memastikan semua anggota merasa dilibatkan. Kemenangan tidak berarti yang kalah ditinggalkan."[5]
  • "Terlepas dari persepsi yang dilemparkan kepada saya selama puluhan tahun, saya akan terus mengabdi, insya Allah, karena saya yakin bahwa proses kontestasi secara terbuka dan kemudian mendapatkan mandat dari akar rumput bukanlah bentuk nepotisme."[5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Nurul Izzah Anwar". World Economic Forum. Diakses tanggal 2025-12-06.
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 Hayati, Istiqomatul (24 November 2022). "Anwar Ibrahim Jadi PM Malaysia, Nurul Izzah: I Love You, Papa, Sabar Itu Indah". Tempo. Diakses tanggal 2025-12-06.
  3. 3,0 3,1 3,2 Anwar, Nurul Izzah. "Promoting Women's Rights in an Oppressive Political Regime". Liberal International. Diakses tanggal 2025-12-06.
  4. "Nurul Izzah aims to raise number of women, youth candidates". The Star. 25 Mei 2025. Diakses tanggal 2025-12-06.
  5. 5,0 5,1 Mahayana, Mellani Eka (24 Mei 225). "Nurul Izzah Jadi Wakil Ketua PKR, Anwar Ibrahim Bantah Nepotisme". Rakyat Merdeka. Diakses tanggal 2025-12-06.