Nh. Dini
Tampilan
Nurhayati Sri Hardini (29 Februari 1936 - 4 Desember 2018) atau yang biasa dikenal sebagai Nh. Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis perempuan berkebangsaan Indonesia.
Selama hidupnya, ia telah menulis lebih dari 30 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang perempuan.Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Dua Dunia (1956) Sebuah Lorong di Kotaku (1978) Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979) Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan (otobiografi).
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik Surga. Kakek mengajariku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai di mana akudapat mengatur kekuatan.[1][2]
- Orang mengatakan mau ini dan itu. Tetapi kebanyakan dari mereka, yang sesungguhnya hanya meniru orang-orang lain.[2]
- Sastra sebenarnya adalah makanan bergizi untuk jiwa dan pikiran manusia. Ini adalah fondasi dasar kemanusiaan, cerminan masyarakat, kehidupan sehari-hari, pengetahuan, dan nilai kebijaksanaan.[1]
- Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya. (Dalam buku "Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang")
- Aku tidak pernah dididik buat menjadi seorang gadis yang bisa bersolek, yang dapat memikat pandang. Seperti tanaman yang tumbuh di dalam rumah, aku terlalu biasa dengan pemberian air dan sinar secukupnya. (Dalam buku "Keberangkatan")
- Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain.
- Aku harap kau tidak terlalu menutup mata untuk membedakan antara napsu dan cinta yang sebenarnya. (Dalam buku "Pada Sebuah Kapal")
- Untuk mati, orang tidak memerlukan kepandaian maupun bakat yang istimewa. Siapa pun dapat mati sewaktu-waktu, dengan cara yang dikehendaki atau dipilihnya. Sebaliknya, untuk hidup, orang membutuhkan keberanian, kecakapan yang kadang-kadang luar biasa. Setiap hari banyak orang yang mati, dengan mudah tanpa usaha atau daya upaya. Tetapi setiap hari berjuta-juta orang berjuang dengan susah payah untuk hidup. (Dalam buku "Keberangkatan")
- Aku menjadi pendiam dan dingin karena tidak banyak diberi kesempatan buat mengatakan isi hati. (Dalam buku "Keberangkatan")
- Manusia barangkali akan lebih bisa memikirkan kepentingan bersama, menolak bahaya kelaparan, bencana alam, mengatur kedamaian, menyelamatkan binatang atau tumbuh-tumbuhan yang punah karena kurang pengertian, kurang memelihara kebersihan udara dan alam tempat mereka tinggal.
- Secara singkat, aku selalu memperkenalkan diri sebagai pengarang atau novelis. Tanpa tambahan "pengarang wanita" atau "pengarang sastra" maupun mengatakan bahwa aku adalah seorang "sastrawan atau sastrawati". Aku tidak berpretensi sebagai "seorang sastrawati". Orang-orang lain, termasuk para cendekiawanlah yang mengenalkan sebutan itu terhadap diriku. (Dalam buku "Rue Saint Simon ke Jalan Lembang")
- Bahasa adalah sesuatu yang hidup bersama penggunanya. Dia selalu berkembang dan tumbuh. Dan yang paling penting, Pengarang adalah Pencipta. Menurut hukum di seluruh semesta, Pengarang mempunyai hak yang disebut licentia poetica: dia dapat menciptakan kata atau istilah baru. (Dalam buku "Rue Saint Simon ke Jalan Lembang")
- Perkawinan bukan satu-satunya tujuan dalam hidup. Masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna mengimbangi kebutuhan jiwa. Oleh karenanya cerita manusia tidak berkahir hanya pada perkawinan. Jangan kau kira orang-orang yang telah kawin tidak mempunyai persoalan lagi dalam hidupnya. (Dalam buku "Keberangkatan")
- Di Tanah Air, mengalami Pemerintahan satu berganti ke Pemerintahan lain, namun dengan sistem yang sama dan mengecewakan memang membikin hati ini gemes atau penasaran. Aku bahkan sering berang terhadap pihak pelaksana aturan-aturan negara. Lebih-lebih kepada pihak penguasa yang menggunakan wewenang mereka untuk menggerogoti kekayaan negara. Keserakahan membuat korupsi menjadi hal yang 'biasa'. (Dalam buku "Rue Saint Simon ke Jalan Lembang")
- Barangkali kami wanita juga memiliki cara untuk mengirim isyarat, sesuai dengan dasar kemestian dan adat yang ditentukan oleh "masyarakat" lelaki. (Dalam buku "Keberangkatan")[3]
- "Penceritaan yang “tenang” dan sesekali terkesan “tertahan” yang umumnya terasakan; bukan kehebohan atau kemeledakan yang mengagetkan tapi lantas ditinggalkan"[4]
- "Aku selalu mengarang dengan maksud untuk bisa menarik keuntungan. Selain keuntungan kebendaan, kuinginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum laki-laki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikiranku sebagai wakil wanita pada umumnya "[5]
- "Dan gerakan seperti ini, pada hemat saya, mengemuka terus-menerus dalam karya-karyanya"[6]
- Barangkali kami wanita juga memiliki cara untuk mengirim isyarat, sesuai dengan dasar kemestian dan adat yang ditentukan oleh “masyarakat” lelaki.[7]
- Aku menjadi pendiam dan dingin karena tidak banyak diberi kesempatan buat mengatakan isi hati[8]
- "Ibu-ibu, baik tua maupun muda, akan merasa bangga jika dapat mengerti apa yang tertulis di papan-papan pengumuman misalnya. Dapat membaca amat penting." (Dalam buku Sekayu, hlm. 51)[9]
- "Biarlah aku tidak usah menjadi istri yang sempurna. Itu hanya berlaku bagi laki-laki yang memperlihatkan cinta mereka kepada istrinya dengan sikap nyata, pada saat mereka berdua maupun ketika berada di lingkungan orang lain." (Tokoh Sri dalam Pada Sebuah Kapal hlm. 130)[10]
- ↑ 1,0 1,1 Posumah, Rizali (2020-02-29). "Kumpulan Quotes NH Dini: Dalam Mengarang Saya Tidak Pernah Tergesa-gesa". Tribunmanado.co.id. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ↑ 2,0 2,1 Author, Pusat Data dan Analis Tempo (2022). Namaku NH. Dini. Jakarta: TEMPO Publishing. ISBN 978-623-05-3253-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Nh. Dini Quotes (Author of Pada Sebuah Kapal)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ Jakarta, Dewan Kesenian (2014-11-22). "Dini Yang Mengabdi Lewat Fiksi Tentang Diri | Dewan Kesenian Jakarta". Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Jakarta, Dewan Kesenian (2014-11-22). "Dini Yang Mengabdi Lewat Fiksi Tentang Diri | Dewan Kesenian Jakarta". Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Jakarta, Dewan Kesenian (2014-11-22). "Dini Yang Mengabdi Lewat Fiksi Tentang Diri | Dewan Kesenian Jakarta". Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Jatiningrum, Sekar (2025-03-10). "Novel 'Keberangkatan': Perempuan Itu Mestinya Merdeka Tentukan Hidup, Tanpa Kekangan". Konde.co (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Jatiningrum, Sekar (2025-03-10). "Novel 'Keberangkatan': Perempuan Itu Mestinya Merdeka Tentukan Hidup, Tanpa Kekangan". Konde.co (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Andayani, Lies (2024-09-06). Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Novel Sekayu Karya Nh. Dini (dalam bahasa Inggris). Vol. 2. hlm. 97–111. doi:10.62383/sosial.v2i3.361. ISSN 3032-2200.
- ↑ Dini, Nh. (2009). Pada Sebuah Kapal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 130. ISBN 9796555867. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
[1]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Jakarta, Dewan Kesenian (2014-11-22). "Dini Yang Mengabdi Lewat Fiksi Tentang Diri | Dewan Kesenian Jakarta". Diakses tanggal 2025-12-14.
