Lompat ke isi

Nawal Arafah Yasin

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Ning Nawal Arafah Yasin

Nawal Arafah Yasin (atau Nawal Nur Arafah) adalah istri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Yasin. Dikenal sebagai Ning Nawal, beliau adalah seorang tokoh publik, serta menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah (periode 2025-2030), Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah untuk periode 2025-2030, dosen STAI Al-Anwar Sarang, dan pengasuh pondok pesantren. Beliau lulusan Magister Studi Islam UII Yogyakarta dan juga menjabat di organisasi lain seperti BKW Jawa Tengah, Bunda Forum Anak dan Bunda Literasi Jawa Tengah.[1][2]

Ning Nawal pernah menulis dan menerbitkan sebuah buku dengan judul "Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual". Buku tersebut berisi panduan khusus tentang penanganan bullying dan kekerasan seksual di pesantren.[3]

  • Perempuan merupakan sumber emosional dan pembentukan karakter anak-anak dan keluarga. Karenanya, perempuan mesti memiliki budi pekerti luhur.[4]
  • Perempuan adalah tempat pendidikan atau madrasah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya.[4]
  • Kartini masa kini, melahirkan nilai-nilai luhur pada setiap inovasinya. Meskipun dengan inovasi besar, teknologi canggih, maka akan keluar dari arahnya ketika tidak memiliki nilai-nilai luhur. Tidak hanya cerdas, tapi seorang perempuan harus penuh rasa empati, penuh keluhuran hati. Kartini masa kini diharapkan hadir pada sektor-sektor strategis, ikut dalam pengambilan keputusan. Seperti hadir di dunia pendidikan, ruang publik, ruang kebijakan, ikut aktif dalam forum-forum, bahkan di lingkup internasional.[4]
  • Ibu rumah tangga mempunyai kemuliaan bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi unggul. Jadi, di mana pun ladang untuk berkhidmah, perempuan tetap berharga.[4]
  • Perempuan itu tidak boleh melupakan kodratnya, seperti untuk mau hamil, melahirkan dan menyusui anak, dan semuanya itu harus dilaksanakan dalam rangka menggapai ridlo Allah.[5]
  • Perempuan dan laki-laki, pada dasarnya mempunyai derajat yang sama, memiliki persamaan hak, kewajiban dan kesamaan kedudukan.[5]
  • Sejatinya budaya patriarki adalah warisan jahiliah yang muncul kembali setelah wafat Nabi Muhammad. Sehingga perempuan yang didiskriminasi itu bukan warisan budaya Nabi. Akan tetapi warisan budaya sebelum Islam datang yang muncul kembali.[5]
  • Literasi sebenarnya tidak hanya membaca dan menulis buku, tapi bagaimana proses literasi dapat menyerap informasi, mengolah informasi untuk menjadikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita.[6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Nawal Arafah Yasin. 2025-12-05.
  2. Jateng, Info (2025-02-20). "Ning Nawal Arafah Yasin Resmi Dilantik Sebagai Ketua TP PKK dan Ketua Posyandu Jawa Tengah". infojateng.id. Diakses tanggal 2025-12-05.
  3. Hidayat, Ahmad Rifqi (2025-01-26). "Peduli Pendidikan Pesantren, Ning Nawal Terbitkan Buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual Kabar Politik Terkini dan Terpercaya Indonesia". Lingkar.co. Diakses tanggal 2025-12-05.
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 Nahdliyin, Suara (2025-04-25). "Ning Nawal: Berkarier atau Menjadi Ibu Rumah Tangga Sama-sama Harus Diprioritaskan". Suara Nahdliyin (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-05.
  5. 5,0 5,1 5,2 HUMAS, ByTIM (2023-10-30). "Ning Nawal Paparkan Peran Perempuan dalam Pesantren di Diskusi KUPI Corner". UIN Walisongo (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-05.
  6. Nurrozikan, M. (2025-11-27). "Nawal Yasin Perluas Gerakan Literasi Lewat Sinergi Komunitas Daerah - ZonaPasar.com". Diakses tanggal 2025-12-05.