Lompat ke isi

Narges Mohammadi

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Narges Mohammadi (lahir 21 April 1972) adalah seorang jurnalis dan aktivis hak asasi manusia Iran yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2023 atas perjuangannya melawan penindasan terhadap perempuan di Iran serta upayanya mempromosikan hak asasi manusia dan kebebasan bagi semua. Ia dikenal sebagai wakil direktur Defenders of Human Rights Center (sebuah organisasi terlarang di Iran) yang didirikan oleh sesama peraih Nobel Iran, Shirin Ebadi. Mohammadi telah menghabiskan bertahun-tahun di penjara karena aktivismenya, dan ia bahkan menerima Hadiah Nobel saat sedang dipenjara, menjadikannya simbol ketahanan dan perlawanan terhadap rezim Iran, terutama setelah kematian Jina Mahsa Amini pada tahun 2022.[1]

  • Whether I am inside Evin or outside Evin, my goal is very clear, and until we achieve democracy, we are not going to stop. We want freedom and we want equality.[2]
  • Ketika saya berada di dalam maupun di luar penjara Evin, tujuan saya sangat jelas, dan hingga kami mencapai demokrasi, kami tidak akan berhenti. Kami menginginkan kebebasan dan kami menginginkan kesetaraan.[2]
  • I am a pacifist. I am a woman who wants to realize women’s rights in Iran. So I think this is exactly where I should be.[2]
  • Saya adalah seorang pasifis. Saya adalah seorang perempuan yang ingin mewujudkan hak-hak perempuan di Iran. Jadi, saya pikir di sinilah tempat saya seharusnya berada.[2]
  • The laws of the Islamic Republic are fundamentally designed to erase women from society. These laws, combined with the imposition of compulsory religion, create an overwhelming force that subjugates women and seeks to make them invisible.[3]
  • Hukum Republik Islam secara fundamental dirancang untuk menghapus perempuan dari masyarakat. Hukum-hukum ini, dikombinasikan dengan pemaksaan kewajiban agama, menciptakan kekuatan yang sangat besar yang menundukkan perempuan dan berusaha membuat mereka tidak terlihat.[3]
  • Standing alongside the brave women of Iran, I will continue to fight against discrimination and gender-based oppression until the liberation of women.[4]
  • Berdiri di samping perempuan-perempuan pemberani Iran, saya akan terus berjuang melawan diskriminasi dan penindasan berbasis gender sampai tercapainya pembebasan perempuan.[4]
  • Tyranny is an endless, boundless malevolence which for a long time has cast its grim shadow over millions of displaced human beings. Tyranny turns life into death, blessing into lament, and comfort into torment. Tyranny oppresses humanity, free will, and human dignity. Tyranny is the other side of the coin of war. [5]
  • Tirani adalah kejahatan yang tak berujung, tak terbatas, yang telah lama menebarkan bayangan suramnya di atas jutaan manusia yang terlantar. Tirani mengubah kehidupan menjadi kematian, berkah menjadi ratapan, dan kenyamanan menjadi siksaan. Tirani menindas kemanusiaan, kehendak bebas, dan martabat manusia. Tirani adalah sisi lain dari perang.[5]
  • The intensified oppression of women through the mandatory hijab, – a disgraceful government policy – will not force us to conform because we believe that the mandatory hijab imposed by the government is neither a religious obligation or a cultural tradition, but rather a means of maintaining authority and submission throughout society. The abolition of the mandatory hijab is equivalent to the abolition of all roots of religious tyranny and the breaking of the chains of authoritarian oppression.[5]
  • Penindasan yang semakin intensif terhadap perempuan melalui kewajiban berjilbab, – sebuah kebijakan pemerintah yang memalukan – tidak akan memaksa kami untuk patuh karena kami percaya bahwa kewajiban berjilbab yang diberlakukan oleh pemerintah bukanlah kewajiban agama maupun tradisi budaya, melainkan cara untuk mempertahankan otoritas dan ketundukan di seluruh masyarakat. Penghapusan kewajiban berjilbab setara dengan penghapusan semua akar tirani agama dan pemutusan rantai penindasan otoriter.[5]
  • Our history, cultural heritage, and civilization are not only our connections to the past, but also shape our future and provide a foundation for us to lean on together. [5]
  • Sejarah, warisan budaya, dan peradaban kita bukan hanya keterhubungan kita dengan masa lalu, tetapi juga membentuk masa depan kita dan menyediakan landasan bagi kita untuk bersandar bersama.[5]
  • We stand for democracy and human rights, which is perhaps not surprising for such resilient and hardworking people who have been pioneers in advocating for limiting government power, seeking freedom, and pursuing justice in the region.[5]
  • Kita membela demokrasi dan hak asasi manusia, yang mungkin tidak mengejutkan bagi masyarakat yang tangguh dan pekerja keras seperti ini yang telah menjadi perintis dalam mengadvokasi pembatasan kekuasaan pemerintah, mencari kebebasan, dan mengejar keadilan di wilayah tersebut.[5]
  • What the government may not understand is that the more of us they lock up, the stronger we become.[6]
  • Apa yang mungkin tidak dipahami oleh pemerintah adalah bahwa semakin banyak dari kami yang dipenjarakan, semakin kuat kami jadinya.[6]
  • Democracy is not a gift, nor a given; it is the hard-earned result of generations of struggle, sacrifice, and resistance. That is why I believe democratic ideals and institutions must be fiercely protected—everywhere, by all of us, at all times.[7]
  • Demokrasi bukanlah sebuah hadiah, bukan pula sesuatu yang diberikan begitu saja; ia adalah hasil yang diperoleh dengan susah payah dari perjuangan, pengorbanan, dan perlawanan lintas generasi. Itulah sebabnya saya yakin cita-cita dan institusi demokratis harus dilindungi dengan gigih—di mana pun, oleh kita semua, setiap saat.[7]
  • From the days when only men could vote and hold power, to the long fight that led to women gain equal rights; from the era when skin color justified slavery, to the moment when people of all races, genders, and backgrounds could lead a nation, democracy has been shaped through struggle. And that struggle never truly ends. It is what gives meaning to our shared humanity and carries the promise that tomorrow can be more just than today.[6]
  • Dari masa ketika hanya pria yang dapat memilih dan memegang kekuasaan, hingga perjuangan panjang yang menghasilkan hak-hak setara bagi perempuan; dari era ketika warna kulit membenarkan perbudakan, hingga saat ketika orang dari semua ras, gender, dan latar belakang dapat memimpin suatu negara, demokrasi telah dibentuk melalui perjuangan. Dan perjuangan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Inilah yang memberikan makna pada kemanusiaan kita bersama dan membawa janji bahwa hari esok bisa lebih adil daripada hari ini.[7]
  • Don’t believe the myth that history only moves forward. If you don’t act today—with clarity and urgency—you may wake up tomorrow in a world where the very idea of democracy has vanished, and realize too late that your silence helped erase it.[7]
  • Jangan percaya pada mitos bahwa sejarah hanya bergerak maju. Jika Anda tidak bertindak hari ini—dengan jelas dan mendesak—Anda mungkin bangun besok di dunia di mana gagasan demokrasi itu sendiri telah lenyap, dan terlambat menyadari bahwa keheningan Anda turut menghapusnya.[7]
  • Let’s step back and consider globalization. For years, we saw it as a triumph—the breaking down of barriers, the sharing of ideas, the merging of cultures. But what we’re witnessing now isn’t the reversal of globalization, it’s its backlash. When globalization was enforced from above, driven primarily by economic interests and market expansion, with little regard for social justice, shared values, or real dialogue, it created fractures. Yes, some visible walls fell—but invisible ones rose in their place. [7]
  • Mari kita mundur sejenak dan mempertimbangkan globalisasi. Selama bertahun-tahun, kita melihatnya sebagai sebuah kemenangan—runtuhnya hambatan, berbagi ide, menyatunya budaya. Namun, apa yang kita saksikan sekarang bukanlah pembalikan globalisasi, melainkan penolakan terhadapnya. Ketika globalisasi dipaksakan dari atas, didorong terutama oleh kepentingan ekonomi dan ekspansi pasar, dengan sedikit perhatian terhadap keadilan sosial, nilai-nilai bersama, atau dialog sejati, hal itulah yang menciptakan keretakan. Ya, beberapa tembok yang terlihat telah runtuh—tetapi tembok yang tak terlihat bangkit menggantikannya.[7]
  • Democracy, at its best, is self-correcting. It can learn from its mistakes, regenerate from the ground up, and grow stronger through inclusion. It offers the widest space for participation. And on this road, we walk guided by a shared compass: freedom (individual and collective), equality (of opportunity and dignity), and solidarity (especially with the vulnerable and the silenced).[7]
  • Demokrasi, pada dasarnya, adalah kemampuan untuk mengoreksi diri sendiri. Ia dapat belajar dari kesalahannya, meregenerasi dari bawah ke atas, dan tumbuh lebih kuat melalui inklusi. Ia menawarkan ruang terluas untuk partisipasi. Dan di jalan ini, kita berjalan dipandu oleh kompas bersama: kebebasan (individu dan kolektif), kesetaraan (kesempatan dan martabat), dan solidaritas (terutama bagi kelompok rentan dan yang dibungkam).[7]
  • Democracy is weakened when too much attention is placed on state power alone. In geopolitical games, every state seeks to win by taking more. But in the world of civil society, we win by giving more.[7]
  • Demokrasi dilemahkan ketika terlalu banyak perhatian ditempatkan pada kekuasaan negara saja. Dalam permainan geopolitik, setiap negara berusaha menang dengan mengambil lebih banyak. Namun, dalam dunia masyarakat sipil, kita menang dengan memberi lebih banyak.[7]
  • I want to see an end to the Islamic Republic - a repressive, theocratic, and authoritarian system that is misogynistic, unreformable, and fundamentally dysfunctional. But I am against war - because it drains the strength and capacity of the Iranian people, civil society, and pro-democracy activists.[8]
  • Saya ingin melihat berakhirnya Republik Islam – sebuah sistem yang represif, teokratis, dan otoriter yang misoginis, tidak dapat direformasi, dan secara mendasar disfungsional. Tetapi saya menentang perang – karena perang menguras kekuatan dan kapasitas rakyat Iran, masyarakat sipil, dan aktivis pro-demokrasi.[8]
  • The death penalty is violence. As violent as war on a smaller scale. In war, people are killed, people are also killed by the death penalty. In human battles, the violence of the death penalty is worse than the killings on the frontlines. I am sorry to say that Iran is one of the few countries where men and women are executed on multiple and sometimes false, and in my opinion unacceptable, charges. [9]
  • Hukuman mati adalah kekerasan, sebagaimana halnya dengan perang dalam lingkup lebih kecil. Dalam perang, orang-orang dibunuh, orang-orang juga dibunuh oleh hukuman mati. Dalam pertempuran antarmanusia, kekejaman hukuman mati lebih buruk daripada pembunuhan di garis depan. Saya menyesal harus mengatakan bahwa Iran adalah salah satu dari sedikit negara di mana pria dan wanita dieksekusi atas berbagai tuduhan dan kadang-kadang tuduhan palsu, dan menurut saya tidak dapat diterima.[9]
  • In my opinion, the system that brought her here by depriving her of the right to divorce is the guilty party. So this woman has been victimised once by not having the right to divorce and victimised again in practice, when she is unable to divorce. [9]
  • Menurut pendapat saya, sistem yang membawa perempuan ke dalam penjara dengan merampas haknya untuk bercerai adalah pihak yang bersalah. Jadi, perempuan ini telah menjadi korban sekali karena tidak memiliki hak untuk bercerai dan menjadi korban lagi dalam praktiknya, ketika dia tidak dapat bercerai.[9]
  • The image that the tyrannical government portrays of the Iranian people and society to the world does not match the lively, dynamic, tolerant and considerate culture of the Iranian people and society. The majority of Iranian society opposes compulsory hijab, yet the government kills, imprisons, and deprives women of employment and social rights for not conforming with that compulsion. A majority of Iranians never chant "Death to America," but the government falsely claims that they do.[10]
  • Citra yang digambarkan oleh pemerintah yang tiran tentang rakyat dan masyarakat Iran kepada dunia tidak sesuai dengan budaya yang hidup, dinamis, toleran, dan penuh pertimbangan dari rakyat dan masyarakat Iran. Mayoritas masyarakat Iran menentang kewajiban berjilbab, namun pemerintah membunuh, memenjarakan, dan merampas hak-hak sosial dan pekerjaan perempuan karena tidak mematuhi paksaan tersebut. Mayoritas rakyat Iran tidak pernah meneriakkan 'Matilah Amerika,' tetapi pemerintah secara keliru mengklaim bahwa mereka melakukannya.[10]
  • I am a feminist who believes that violence against women is one of the most prevalent, deeply rooted, and historical forms of oppression. [10]
  • Saya adalah seorang feminis yang percaya bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu bentuk penindasan yang paling umum, paling mengakar, dan paling historis.[10]
  • In my belief, democracy and human rights are impossible without the realization of women's rights, and it is the realization of women's rights that guarantees democracy.[10]
  • Saya yakin, demokrasi dan hak asasi manusia adalah kemustahilan tanpa mewujudkan hak-hak perempuan, dan terwujudnya hak-hak perempuanlah yang menjamin demokrasi.[10]
  • Dictatorship not only imprisons, tortures, and executes people, not only silences the voices of the opposition, not only threatens freedom of expression and belief, not only turns universities into barracks and security zones, and not only constrains writers or censors books and newspapers. Dictatorship destroys life itself. It imprisons love in the hearts of the youth, it tears apart the world of children and chains happiness and transforms dreams into regrets. Dictatorship and war are two sides of the same coin.[10]
  • Kediktatoran tidak hanya memenjarakan, menyiksa, dan mengeksekusi orang, tidak hanya membungkam suara oposisi, tidak hanya mengancam kebebasan berekspresi dan berkeyakinan, tidak hanya mengubah universitas menjadi barak dan zona keamanan, dan tidak hanya mengekang penulis atau menyensor buku dan surat kabar. Kediktatoran menghancurkan kehidupan itu sendiri. Ia memenjarakan cinta di hati para pemuda, merobek dunia anak-anak dan merantai kebahagiaan serta mengubah impian menjadi penyesalan. Kediktatoran dan perang adalah dua sisi dari mata uang yang sama.[10]
  • This text is not intended as an elegy for Iranian women. It is a testament to the fact that the tyranny and oppression of the government have inflicted incurable wounds on our lives, spirits, and minds. Women were the first, greatest, and most oppressed victims of religious despotism, but they were also the most steadfast, indomitable, and influential social force, and in recent protest and revolutionary movements, they have been at the forefront as the most advanced and radical forces.[11]
  • Teks ini tidak dimaksudkan sebagai ratapan (elegi) bagi perempuan Iran. Ini adalah kesaksian atas fakta bahwa tirani dan penindasan pemerintah telah menimbulkan luka yang tak tersembuhkan pada kehidupan, jiwa, dan pikiran kita. Perempuan adalah korban pertama, terbesar, dan paling tertindas dari despotisme agama, namun mereka juga merupakan kekuatan sosial yang paling teguh, tak terkalahkan, dan paling berpengaruh, dan dalam gerakan protes dan revolusioner baru-baru ini, mereka berada di garis depan sebagai kekuatan yang paling maju dan radikal.[11]
  • I cannot simply confine myself to condemning gross violations of human rights and women’s rights. I also intend to address the destructive falsehood and deceit of the government. A government that, with an ideological approach and misuse of spiritual and salvation elements among the people, attempts to control every aspect of individual and social life, under the pretext of family, security, and protection of the 'woman,' leaving no aspect of 'life' and 'feminine identity' outside its oppressive grasp.[11]
  • Saya tidak bisa hanya membatasi diri untuk mengutuk pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan hak-hak perempuan. Saya juga bermaksud untuk membahas kepalsuan dan tipu daya destruktif dari pemerintah. Sebuah pemerintah yang, dengan pendekatan ideologis dan penyalahgunaan elemen spiritual dan penyelamatan di kalangan masyarakat, berusaha mengendalikan setiap aspek kehidupan individu dan sosial, dengan dalih keluarga, keamanan, dan perlindungan 'perempuan,' tidak meninggalkan satu pun aspek 'kehidupan' dan 'identitas feminin' di luar cengkeraman penindasannya.[11]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Narges Mohammadi | Nobel Prize, Biography, & Husband | Britannica (dalam bahasa Inggris).
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 Amanpour, Christiane (2024-12-18). "Exclusive: Iranian Nobel laureate Narges Mohammadi says returning to prison won't stop her fight for equality". CNN (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
  3. 3,0 3,1 Mohamadi, Narges. ""Patriarchal domination is maintained over the heads of Iranian women from birth to death," denounces Nargès Mohammadi - Narges Mohammadi Foundation". narges.foundation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-02.
  4. 4,0 4,1 "Home - Narges Mohammadi Foundation". narges.foundation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-02.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 5,5 5,6 5,7 "Nobel Peace Prize 2023". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-02.
  6. 6,0 6,1 6,2 "Who is Nobel Peace Prize winner Narges Mohammadi?". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
  7. 7,00 7,01 7,02 7,03 7,04 7,05 7,06 7,07 7,08 7,09 7,10 Mohammadii, Narges. Narges Mohammadi: "What It Means to Lose Democracy" (dalam bahasa Inggris).
  8. 8,0 8,1 News, A. B. C. "Nobel laureate Narges Mohammadi warns Iran is increasingly repressing its own citizens". ABC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
  9. 9,0 9,1 9,2 9,3 "Narges Mohammadi: Violence of Death Penalty is Worse Than War". iranhr.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
  10. 10,0 10,1 10,2 10,3 10,4 10,5 10,6 10,7 Jolie, Angelina. Imprisoned Nobel Winner Narges Mohammadi Talks with Angelina Jolie (dalam bahasa Inggris).
  11. 11,0 11,1 11,2 11,3 "Nobel Prize: Writings of Narges Mohammadi | The Iran Primer". iranprimer.usip.org (dalam bahasa Inggris). 2023-10-06. Diakses tanggal 2025-12-02.