Musdah Mulia
Tampilan


Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA (lahir di Bone 3 Maret 1958) adalah intelektual Islam dan aktivis perempuan dari Indonesia yang dikenal karena kritiknya terhadap pandangan mayoritas yang tidak rasional dan humanis dalam isu agama. Sebagai ketua Indonesian Conference on Religions for Peace (ICRP), ia mempromosikan pluralisme, perdamaian, dan kesetaraan gender melalui dialog antaragama dan pendidikan masyarakat sipil.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Masalahnya, di masyarakat kita ada terlalu banyak orang yang menempatkan diri sebagai Tuhan.[2]
- Saya percaya bahwa sebagian besar dari kita tidak begitu paham dengan agama. Kebanyakan orang mendapat pengetahuian dari penjelasan verbal. Orang yang memahami agama dari hasil membaca sendiri masih jarang.[2]
- Pendidikan seharusnya mempertajam berpikir kritis. Saat kita belajar, bahkan tentang agama, kita harus beropini. Jika tidak, pembelajaran itu hanya jadi sia-sia. Kita akan menerima segalanya sebagai dogma, bukan sebagai hasil dari pemahaman kritis.[2]
- Pemerintah harus mendorong cara pandang agama yang demokratis, cinta damai dan menghargai keragaman. Pemahaman sempit yang menyebabkan konflik dan ketakutan bisa dihilangkan sedikit demi sedikit. [2]
- Hanya Tuhan yang berhak menentukan apakah seseorang itu salah atau tidak, beriman atau tidak.[2]
- Seksualitas perempuan adalah suatu hal yang independen dan menjadi hak perempuan sepenuhnya. Moralitas perempuan tidak dapat dinilai dari seksualitasnya dan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang laki-laki. [3]
- Ideologi patriarki memiliki peran yang menentukan dalam mengonstruksi citra publik tentang tubuh perempuan. Konstruksi patriarki tentang tubuh perempuan telah sedemikian merasuk ke dalam benak masyarakat. Tidak heran jika sudut pandang laki-laki lalu menjadi standar nilai dalam melihat tubuh perempuan. [3]
- Relasi gender masih didominasi oleh ideologi dan sistem patriarki. Sistem patriarki yang bersifat paternalistis masih membelenggu perempuan. Sistem patriarki membenarkan laki-laki menguasai, mengontrol kehidupan perempuan dalam seluruh aspeknya: sosial, hukum, politik, moral, dan agama. Sistem ini pada ujungnya melahirkan pembagian peran dan posisi yang sangat diskriminatif antara laki-laki dan perempuan.[3]
- Masyarakat kita senang dipuji sebagai masyarakat religius, tetapi religiusitas mereka sangat terkait dengan simbol-simbol agama, bukan dengan esensi agama itu sendiri. Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia, dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun agama, ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksualnya.[3]
- Masyarakat cenderung menilai kesalehan atau ketakwaan seseorang berdasarkan pada aspek-aspek susila ketimbang sosial. Tidak heran jika kalangan agama lebih peka pada persoalan lesbian, pornografi, prostitusi, homoseksualitas daripada problem sosial yang nyata, seperti kekerasan, kemiskinan, busung lapar, korupsi, kerusakan lingkungan, dan trafficking. [3]
- Mari kita mendidik anak-anak kita untuk bersikap toleran, bersikap terbuka dalam beragama dan lebih mementingkan aspek-aspek kemanusiaan. Karena kalau di dalam Islam, agama itu adalah rahmatan lil alamin, yang artinya agama harus membawa manfaat bukan saja untuk manusia tapi untuk seluruh alam semesta.[4]
- Ijab kabul sebenarnya adalah sebuah kontrak yang seharusnya diikuti dan disepakati oleh hanya kedua pihak yang akan mengikatkan diri pada satu sama lain yakni mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Sayangnya persoalan ini tak diatur dalam agama Islam. [5]
- Seharusnya kita mulai memisahkan antara agama dan tradisi dalam suatu prosesi pernikahan meskipun pada kenyataannya nilai-nilai tradisi masih lebih kuat ketimbang agama.[5]
- Dalam Islam, visi dan misi kita seharusnya sudah jelas. Ketidakadilan adalah hal yang harus dilawan. Inilah jihad. [5]
- Poligami tidak dibenarkan karena bisa berseberangan dengan esensi sakinah, mawaddah, wa rahmah. Perlu ada manajemen syahwat. Ayat tidak dibaca secara utuh. Sesungguhnya poligami satu tarikan napas dengan anak yatim.[6]
- Islam bukanlah sebuah ideologi yang muncul dari persimpangan kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Islam sebagai agama yang harus dipelajari dengan nalar kritis dan dipahami secara kontekstual.[6]
- Buku yang banyak beredar hanya mengantarkan pembaca membangun kesalehan individu tetapi sulit menuju kesalehan sosial yang ditandai dengan rasa empati terhadap penderitaan kelompok rentan tertindas.[6]
- Aktivitas penuh perempuan dalam gerakan keagamaan, terutama dalam program dialog agama menjadikan rumah ibadah yang biasanya sangat eksklusif menjadi rumah suci yang inklusif, ramah terhadap semua golongan dan fungsional bagi upaya-upaya kemanusiaan. Perempuan justru lebih mengedepankan tujuan hakiki semua agama, yaitu memanusiakan manusia.[6]
- Untuk menjadi orang yang terbaik untuk sesama manusia harus memerdekakan diri dari pikiran-pikiran yang picik, marah, ingin balas dendam termasuk pikiran yang radikal yang bersifat merusak.[7]
- Sebagai orang beragama kita harus selalu memiliki pikiran yang positif. Yang kemudian kita terjemahkan dengan pikiran pikiran yang konstruktif untuk membangun bangsa, positif yang memungkinkan kita untuk menjadi warga negara yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat luas dan lebih luas lagi untuk alam semesta.[7]
- A reform-minded Muslim woman is not one who is frozen in the symbols of Islam or its legal-formal aspects but rather one who through her struggle and work is engaged in a humanism that aids and blesses not only all mankind but every creature in God’s universe.[8]
- Seorang perempuan Muslim yang berhaluan reformis bukanlah mereka yang membeku pada simbol-simbol Islam atau aspek legal-formalnya, melainkan seseorang yang melalui perjuangan dan karyanya terlibat dalam kemanusiaan yang menolong dan memberkahi bukan hanya seluruh umat manusia, tetapi juga setiap makhluk di alam semesta ciptaan Tuhan.[8]
- Islam is essentially a set of guidelines provided by God for mankind to find peace. Peace within oneself and with one’s fellow human beings as well as with every living creature in the world, and with the environment.[8]
- Islam pada hakikatnya adalah seperangkat pedoman yang diberikan Tuhan kepada umat manusia untuk menemukan kedamaian di dalam diri sendiri, dengan sesama manusia, dengan setiap makhluk hidup di dunia, dan dengan lingkungannya.[8]
- God created a diversity of people, and each person is given the duty to do good in their own way.[9]
- Tuhan menciptakan keberagaman manusia, dan setiap orang diberi tugas untuk berbuat kebaikan dengan caranya sendiri.[9]
- LGBT people should be treated with compassion and that their human rights should be protected. [9]
- Orang-orang LGBT harus diperlakukan dengan penuh belas kasih, dan hak asasi mereka harus dilindungi.[9]
- The Quran was sent to mankind to make us more humane and to create a universal humanism and we must never lose sight of that essential purpose.[9]
- Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk membuat kita lebih manusiawi dan untuk membangun humanisme universal, dan kita tidak boleh melupakan tujuan mendasar itu.[9]
- “Kesalehan Individu tidak bermakna tanpa disertai dengan kesalehan sosial."[10]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "WOMENUNLIMITED - Narasumber Profile". womenunlimited.id. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 Diani, Hera (2017-12-08). "Saat Semua Orang Merasa Jadi Tuhan: Wawancara dengan Musdah Mulia". Magdalene Merch. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 "Siti Musdah Mulia: Allah Hanya Melihat Takwa, Bukan Orientasi Seksual Manusia". Jurnal Perempuan. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ antaranews.com (2020-08-19). "HUT RI, Prof Musdah Mulia: Galang persatuan kikis politik identitas". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 5,0 5,1 5,2 "Siti Musdah Mulia: Dalam Institusi Agama Perempuan Diabaikan". Jurnal Perempuan. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 6,0 6,1 6,2 6,3 Aurelia, Joan. "Musdah Mulia Rela Jadi Martir Demi Membendung Intoleransi". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 7,0 7,1 "Siti Musdah Mulia: Semua Agama mengajarkan Orang Baik Itu Adalah yang Paling Bermanfaat Bagi Sesama". Tribunnews.com. 2025-11-17. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 8,0 8,1 8,2 8,3 Alen (2021-10-07). "Musdah Mulia Indonesian Islamic woman scholar who debated radical cleric Abu Bakar Ba'asyir (Part II)". OBSERVER - the latest information about Indonesian news and social culture. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ 9,0 9,1 9,2 9,3 9,4 9,5 Alen (2021-10-21). "Musdah Mulia, Indonesia's foremost Islamic woman scholar and the influences on her thinking (Part III)". OBSERVER - the latest information about Indonesian news and social culture. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ↑ "A quote by Siti Musdah Mulia". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |
