Mimi Onuoha
Tampilan
Mimi Ọnụọha (lahir pada tahun 1989) adalah seniman visual dan akademisi Amerika keturunan Nigeria yang tinggal di Brooklyn, NY yang karyanya meneliti pengaruh pengumpulan data dan teknologi terhadap masyarakat. Dalam karya These networks in our skin, ia menciptakan visi spekulatif tentang bagaimana infrastruktur tekno-sosial ini dapat dibentuk kembali agar lebih mencerminkan dan melayani semua orang.[1][2]

Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "In much of my work I’m bringing forward different rituals, and ways of being that can feed into new stories, positionings, and understandings of technologies. More often than not these new stories aren’t entirely new. They might consist in part of my own ideas, but often I’m simply making space for older ways of being that have been discarded along the paths of modernity, coloniality, and globalisation." Artinya: "Dalam banyak karya saya, saya menghadirkan berbagai ritual dan cara hidup yang dapat melahirkan cerita, posisi, dan pemahaman baru tentang teknologi. Sering kali, cerita-cerita baru ini tidak sepenuhnya baru. Cerita-cerita ini mungkin sebagian berasal dari ide-ide saya sendiri, tetapi seringkali saya hanya memberi ruang bagi cara hidup lama yang telah terabaikan oleh modernitas, kolonialisme, dan globalisasi."[3]
- "I define data as the things that a group cares about and can measure. I like this definition, because it’s a reminder of the fact that data doesn’t just exist out in the world as some kind of unlimited resource it has to be constructed, it has to be collected." Artinya: "Saya mendefinisikan data sebagai hal-hal yang diperhatikan dan dapat diukur oleh suatu kelompok. Saya menyukai definisi ini karena mengingatkan kita bahwa data tidak hanya ada di dunia sebagai sumber daya tak terbatas, melainkan harus dikonstruksi, dikumpulkan."[3]
- To trust a person, or a thing—I feel it in my body. But like so many important things, this trust does not originate from me. It is forged in and through our relationships with others. Maybe the more salient question for me is do I need to trust imagination? What I have confidence in is the process of imagining, and the importance of this process as a practice of resilience and practical hopefulness. I trust in this process rather than in any predetermined outcomes. Artinya: "Mempercayai seseorang, atau sesuatu—saya merasakannya dalam tubuh saya. Namun, seperti banyak hal penting lainnya, kepercayaan ini tidak berasal dari diri saya sendiri. Kepercayaan ini ditempa dalam dan melalui hubungan kita dengan orang lain. Mungkin pertanyaan yang lebih penting bagi saya adalah perlukah saya memercayai imajinasi? Yang saya yakini adalah proses berimajinasi, dan pentingnya proses ini sebagai praktik ketahanan dan harapan praktis. Saya lebih percaya pada proses ini daripada pada hasil yang telah ditentukan sebelumnya."[3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Mimi Ọnụọha". Art21 (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-06.
- ↑ "ANALISIS PELAKSANAAN PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA PADA BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS SILAPING KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2020". doi.org. Diakses tanggal 2025-12-06.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 "Data Relations". datarelations.acca.melbourne. Diakses tanggal 2025-12-06.