Max Havelaar
Tampilan

Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten.
Kutipan tentang Max Havelaar
[sunting | sunting sumber]- Drama Lebak merupakan akhir kariernya sebagai pejabat dan permulaan karirnya sebagai pengarang. Bulan April 1857, Dekker berangkat ke Eropa. Anak istrinya ditinggalkannya pada keluarga. Ia hidup sebagai pengembara bohemien. Uangnya habis. Tahun 1858, ia tiba di Brussel, dimana ia tinggal di hotel kecil, menyewa kamar loteng. Ia berusaha keras untuk diangkat kembali dalam jabatan Gubernemen. Sia-sia. Tahun 1859, anak istrinya kembali ke negeri Belanda dan tinggal menumpang pada keluarga, karena keadaan keuangannya buruk sekali. Maka, ia pun memutuskan menyampaikan kejadian di Lebak kepada rakyat Belanda. Di kamar lotengnya, hidup dalam segala kemiskinan, ia menulis bulan September sampai Desember 1859, bukunya Max Havelaar, dengan memakai nama samaran Multatuli (berarti "aku telah banyak menderita"). Maksud utama Max Havelaar ada dua : haruslah diakhir pemerasan terhadap orang Jawa dan kehormatannya harus dipulihkan.[1]
- Ia tidak mempunyai uang. Oleh karena itu, ia menyerahkan penerbitan buku itu kepada pengarang Van Lennep. Tapi Van Lennep mengganti semua angka tahun dan nama tempat yang penting dengan titik-titik, untuk menghilangkan daya bukti buku itu. Seorang konservatif tulen seperti Van Lennep menganggap serangan sengit seperti itu terhadap politik kolonial Belanda sebagai sesuatu yang tidak pantas.[1]
- Rehabilitasi yang sangat diharapkannya itu tidak terjadi. Dekker harus mencoba mencari nafkah sendiri sebagai pengarang. Ia hidup sebagai petualang yang tidak berketentuan. Sering mengembara, selalu dalam kemiskinan. Ia menjadi orang asing bagi keluarganya. Tine (istrinya) mendapat bantuan keuangan dari kawan-kawan, berangkat ke Itali, dimana ia meninggal tahun 1874. Pada tahun-tahun terakhir dari hidup Multatuli, ia tinggal di Nieder-Ingelheim (Jerman), dimana pengagum-pengagumnya membelikannya sebuah rumah. Tanggal 19 Februari 1887, ia meninggal di sana. Ketika ia meninggal, Multatuli sudah menjadi pengarang yang masyhur.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 Eduard Douwes Dekker, Max Havelaar: atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda (PDF), diterjemahkan oleh Hans Bague Jassin, Penerbit Djambatan, hlm. XVII, Wikidata Q138297320
- ↑ Ibid. hal XVIII