Lompat ke isi

Masih Alinejad

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Masoumeh (Masih) Alinejad (lahir di Ghomi Kola, 11 September 1976[1]) adalah jurnalis dan aktivis hak-hak perempuan berkebangsaan Iran-Amerika yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menentang penindasan di Iran. Keberaniannya telah muncul sejak remaja ketika ia dipenjara karena menerbitkan surat kabar pelajar, hingga akhirnya ia meniti karier sebagai jurnalis parlemen di Teheran. Ia merupakan penggagas kampanye My Stealthy Freedom pada tahun 2014, sebuah gerakan pembangkangan sipil terbesar melawan kewajiban berhijab dalam sejarah Republik Islam Iran, yang membuatnya dijuluki oleh The New York Times sebagai "perempuan yang rambutnya ditakuti Iran." Selain menulis memoar terlaris "The Wind in My Hair", Alinejad juga menjabat sebagai Presiden World Liberty Congress dan dinobatkan sebagai salah satu Women of the Year 2023 oleh majalah TIME. Atas kegigihannya, ia telah menerima berbagai penghargaan internasional bergengsi, termasuk Oxi Courage Award 2022 yang ia terima bersama Presiden Volodymyr Zelenskyy serta Moral Courage Award dari Komite Yahudi Amerika.[2]

  • I believe in the power of storytelling. If every single woman takes her camera and talks about how it feels to be a second-class citizen in Afghanistan, how it feels to get kicked out of schools, how it feels to get lashes, to get beaten up in the streets in Iran for the crime of showing their hair – they can bring all women together.[3]
  • Aku percaya pada kekuatan sebuah cerita. Jika setiap perempuan menggunakan kameranya dan bicara tentang pahitnya menjadi warga kelas dua di Afganistan; tentang pedihnya diusir dari bangku sekolah, atau perihnya cambukan dan hantaman di jalanan Iran hanya karena memperlihatkan helai rambut mereka, maka suara-suara itu akan mampu menyatukan seluruh perempuan di muka bumi.[3]
  • It was such an insult to Iranian women who are getting killed for refusing the hijab. You know what an Iranian would do in this position? Say, ‘Fuck you, it’s none of your business’, but these western women go, ‘Sure I’ll cover myself, this is your culture’.[4]
  • Bagi perempuan Iran yang mati demi kebebasan, sikap itu adalah luka. Saat kami berani melawan dan berkata ‘Enyahlah!’ terhadap penindasan, dunia Barat justru mengangguk patuh atas nama budaya. Mereka menutup kepala, sementara kami kehilangan nyawa demi membukanya.[4]
  • Oppressing women is not part of our culture, compulsion is not part of our culture, a barbaric law is not part of our culture. When western female politicians say the compulsory hijab is the culture of Iranian women or the women of Afghanistan, this is an insult to our nations.[5]
  • Menindas perempuan bukanlah napas budaya kami, paksaan bukanlah warna tradisi kami, dan hukum yang biadab bukanlah jati diri kami. Ketika para politisi perempuan di Barat berdalih bahwa kewajiban berhijab adalah budaya perempuan Iran atau Afganistan, sesungguhnya mereka sedang meludahi wajah bangsa kami dengan penghinaan yang paling nista.[5]
  • The compulsory hijab is like the Berlin Wall: once it falls the whole Islamic Republic will be done. That’s why the mullahs are scared. Millions of girls and women in Iran are now standing shoulder to shoulder and saying no; we are ready to die, but we won’t live with this humiliation.[5]
  • Kewajiban berhijab adalah pilar yang menopang tirani, laksana Tembok Berlin yang menanti keruntuhannya. Begitu ia tumbang, runtuhlah seluruh sistem yang menindas ini. Di jalanan Iran, jutaan perempuan telah menyatukan barisan dan berseru: 'Biarlah raga kami mati, asalkan tidak hidup berselimut nista.' Inilah ketakutan terbesar bagi mereka yang berkuasa.[5]
  • For the Iranian people, the headscarf is the issue today. Because they have understood that we are not just fighting against a piece of fabric – but for our identity and our dignity. We are fighting against the most visible symbol of oppression. [6]
  • Ini bukan sekadar perkara selembar kain, tapi tentang hak untuk menjadi diri sendiri. Di balik kain itu, ada jati diri yang terpenjara dan martabat yang diinjak-injak. Kami bangkit melawan simbol tirani yang paling tajam; sebab ketika kain itu tak lagi dipaksakan, saat itulah kemerdekaan jiwa benar-benar bermula.[6]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Iranian Influential Women: Masih Alinejad (1976-Present)". iranwire.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.
  2. Trifork. "Masih Alinejad". copenhagendemocracysummit.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.
  3. 3,0 3,1 "Regimes and rebels: Interview with Iranian dissident Masih Alinejad". euronews (dalam bahasa Inggris). 2024-03-26. Diakses tanggal 2025-12-21.
  4. 4,0 4,1 Willsher, Kim (2022-11-12). Iranian activist Masih Alinejad: ‘It’s the start of the end for the Islamic Republic’ (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 Willsher, Kim (2022-11-12). Iranian activist Masih Alinejad: ‘It’s the start of the end for the Islamic Republic’ (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077.
  6. 6,0 6,1 "Iran: "Die Frauen haben genug!"". Emma (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 2025-12-21.