Lompat ke isi

Maria Ressa

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Maria Angelita Ressa (lahir 2 Oktober 1963) adalah jurnalis berkebangsaan Filipina-Amerika yang dikenal secara internasional sebagai simbol perjuangan kebebasan pers di tengah kondisi yang sulit, terutama melalui perannya sebagai salah satu pendiri dan CEO Rappler, perusahaan media digital berbasis di Manila yang fokus pada jurnalisme investigatif. Ia terkenal karena mengungkap korupsi pemerintah, pelanggaran hak asasi manusia, dan penggunaan media sosial sebagai senjata untuk menyebarkan disinformasi di Filipina, yang menyebabkan ia menghadapi berbagai tuntutan hukum dan pelecehan dari pemerintah Filipina. Bersama dengan jurnalis Rusia Dmitry Muratov, Maria Ressa dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2021 karena menggunakan kebebasan berekspresi untuk mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan kekerasan, dan otoritarianisme yang tumbuh di negaranya.[1]

  • Our greatest need today is to transform that hate and violence, the toxic sludge that’s coursing through our information ecosystem, prioritized by American internet companies that make more money by spreading that hate and triggering the worst in us… well, that just means we have to work much harder.[2]
  • Kebutuhan terbesar kita saat ini adalah mengubah kebencian dan kekerasan, lumpur beracun yang mengalir melalui ekosistem informasi kita, yang menjadi prioritas perusahaan-perusahaan internet Amerika yang menghasilkan lebih banyak uang dengan menyebarkan kebencian tersebut dan memicu hal terburuk dalam diri kita… nah, itu berarti kita harus bekerja jauh lebih keras.[2]
  • We are standing on the rubble of the world that was, and we must have the foresight and courage to imagine what might happen if we don’t act now, and instead, create the world as it should be – more compassionate, more equal, more sustainable.[2]
  • Kita berada di tengah puing-puing dunia lama, dan kita harus memiliki pandangan jauh ke depan serta keberanian untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi jika kita tidak bertindak sekarang, dan sebagai gantinya, membangun dunia yang seharusnya – lebih welas asih, lebih setara, lebih berkelanjutan.[2]
  • Truth and ethical honor intersected like an arrow into this moment where hate, lies, and divisiveness thrive. As only the 18th woman to receive this prize, I need to tell you how gendered disinformation is a new threat and is taking a significant toll on the mental health and physical safety of women, girls, trans, and LGBTQ+ people all over the world. Women journalists are at the epicenter of risk. This pandemic of misogyny and hatred needs to be tackled, now. Even there, we can find strength. After all, you don’t really know who you really are until you’re forced to fight for it.[2]
  • Kebenaran dan etika kehormatan beririsan seperti anak panah mengarah pada situasi di mana kebencian, kebohongan, dan perpecahan berkembang biak. Sebagai perempuan ke-18 yang menerima hadiah (Nobel) ini, saya perlu memberi tahu anda bagaimana disinformasi berbasis gender adalah ancaman baru dan berdampak signifikan pada kesehatan mental dan keamanan fisik perempuan, anak perempuan, transgender, dan komunitas LGBTQ+ di seluruh dunia. Jurnalis perempuan berada di pusat risiko. Pandemi misogini dan kebencian ini perlu ditangani, sekarang. Bahkan di lingkungan tersebut, kita dapat menemukan kekuatan. Bagaimanapun, anda tidak akan benar-benar tahu siapa diri anda yang sebenarnya sampai anda dipaksa untuk memperjuangkannya.[2]
  • Without facts, you can’t have truth. Without truth, you can’t have trust. Without trust, we have no shared reality, no democracy, and it becomes impossible to deal with our world’s existential problems: climate, coronavirus, the battle for truth.[2]
  • Tanpa fakta, anda tidak dapat menemukan kebenaran. Tanpa kebenaran, anda tidak akan mendapatkan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, kita tidak memiliki realita yang sama, tidak ada demokrasi, dan menjadi hal mustahil untuk menangani masalah-masalah eksistensial dunia kita: perubahan iklim, virus korona, perjuangan untuk kebenaran.[2]
  • We need information ecosystems that live and die by facts. We do this by shifting social priorities to rebuild journalism for the 21st century while regulating and outlawing the surveillance economics that profit from hate and lies.[2]
  • Kita membutuhkan ekosistem informasi yang hidup dan mati berdasarkan fakta. Kita melakukan ini dengan mengubah prioritas sosial untuk membangun kembali jurnalisme di abad ke-21, sembari mengatur dan melarang pengawasan ekonomi secara terus menerus yang mengambil keuntungan dari pengaruh kebencian dan kebohongan.[2]
  • Our public information ecosystem is corrupted. Its basic tenet is personalization because the people who designed it were trying to sell us things. And if there are twenty people in a room with twenty different personalized realities, that actually, in the Old World, would be called an insane asylum. This is the world we live in today. [3]
  • Telah terjadi kebobrokan ekosistem informasi publik kita. Karena terbentuknya personalisasi dimana orang-orang yang merancangnya berusaha menjual banyak hal kepada kita. Dan jika ada dua puluh orang di dalam ruangan dengan dua puluh realitas personalisasi yang berbeda, jika hal ini terwujud masa lalu, lingkungan tersebut akan dikenal sebagai rumah sakit jiwa. Inilah situasi dunia saat ini.[3]
  • In the age of social media and exponential lies, women journalists are the first to be attacked. And the line between information operations and information warfare is very thin. When you change the way people think – inject them with toxic sludge – it’s a tipping point in an epidemiological system.[3]
  • Di era media sosial dan kebohongan yang berlipat ganda, jurnalis perempuan yang pertama kali diserang. Dan garis antara pengelolaan informasi dan perang informasi sangat tipis. Ketika anda mengubah cara berpikir orang memasukkan racun informasi kepada mereka saat itulah adalah titik kritis dalam sistem epidemiologi.[3]
  • Don’t be cynical. Cynicism kills. I prefer pragmatism over cynicism. Pragmatism gives you room to move. Cynicism is exactly what happens on social media. You expect the worst of people, so you will get the worst of people. We create the world we want. If I treat you like I don’t trust you, how would you react? If you are the younger generation right now, the challenge for you in an attention economy, is the search for meaning. It’s always been the challenge for human beings. It’s our search for meaning. Where you spend your time will determine what gives your life meaning. Understand that these information ecosystems, these technology platforms, are sucking your spirit. You may feel like you have control and you can curate your life, but that’s a time suck. The more time you spend in this, the less time you have in the real world. Build a life! [4]
  • Jangan sinis. Sikap sinis membunuhmu. Saya lebih memilih pragmatisme daripada sinisme. Pragmatisme memberi anda ruang untuk bergerak. Sinisme adalah apa yang terjadi di media sosial. Anda mengharapkan yang terburuk dari orang lain, maka anda akan mendapatkan yang terburuk dari orang lain. Kita menciptakan dunia yang kita inginkan. Jika saya bertindak seolah saya tidak mempercayai anda, bagaimana reaksi anda? Jika anda adalah generasi muda saat ini, tantangan bagi anda dalam situasi dimana terjadi monetisasi perhatian, maka lakukanlah pencarian makna. Hal ini yang selalu menjadi tantangan bagi umat manusia. Yaitu menggali makna. Di mana anda menghabiskan waktu akan menentukan apa makna hidup anda. Pahami ekosistem informasi, mauppun platform teknologi, yang sedang menyerap semangat Anda. Anda mungkin merasa seperti seorang nahkoda dan dapat mengarahkan hidup anda, namun hal tersebut merupakan pengaturan waktu yang buruk. Semakin banyak waktu yang anda habiskan di dunia digital, semakin sedikit waktu yang anda miliki di dunia nyata. Bangunlah kehidupanmu![4]
  • I would say not just lifelong learning. I would say awareness of the place in time. The way you view the world is for most of us experiential. The more self-aware you can be, the more you realise that this is a continuum of an identity that you create. That this is the work of life. That your life, your thinking, is the work of art that you are creating. Then it’s easier to learn. Everything you learn then affects everything you have learned. The reason I said learn is because too many people get stuck. Too many people give up. [4]
  • Saya akan mengatakan tidak hanya berfokus pada pembelajaran seumur hidup. Daripada mengkhawatirkan masa lalu atau masa depan kita perlu menyadari situasi terkini. Sebagian besar orang memandang dunia berdasarkan pengalaman hidupnya. Semakin anda sadar diri, semakin besar kesadaranmu tentang kesinambungan dari identitas yang anda bangun. Inilah duniamu. Hidupmu, pemikiranmu, adalah karya seni yang sedang anda ciptakan. Sehingga anda lebih mudah untuk belajar. Setiap hal yang anda pelajari akan memengaruhi segala hal yang telah anda pelajari. Alasan saya mengatakan belajar adalah karena terlalu banyak orang yang terjebak. Terlalu banyak orang yang menyerah.[4]
  • The values I learned as a journalist really shaped who I am. You work for inclusive societies and you hold power to account, whether it’s the public or the private sector. It’s three words - transparency, accountability, and consistency. If you’re transparent, you can be accountable. If you’re accountable, you can be consistent. That’s the foundation of our democracy. [5]
  • Nilai-nilai yang saya pelajari sebagai jurnalis benar-benar membentuk siapa diri saya. Anda bekerja untuk masyarakat yang inklusif dan anda mempunyai pertanggungjawaban, kepada sektor publik maupun swasta. Nilai tersebut terangkum dalam tiga kata - transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi. Jika anda transparan, anda bisa bertanggung jawab. Jika anda bertanggung jawab, anda bisa konsisten. Itulah fondasi demokrasi kita. [5]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Maria Ressa | Biography, Journalist, Nobel Prize, Princeton, & Facts | Britannica (dalam bahasa Inggris).
  2. 2,00 2,01 2,02 2,03 2,04 2,05 2,06 2,07 2,08 2,09 "Nobel Peace Prize 2021". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 "Portraits of FoE Defenders: Interview with Maria Ressa – "It's an Information Armageddon"". Global Freedom of Expression (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 "Nobel Peace Prize 2021". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
  5. 5,0 5,1 ""We hold the line": An Interview with Journalist and Activist Maria Ressa". Yale Journal of International Affairs (dalam bahasa American English). 2020-06-30. Diakses tanggal 2025-12-03.