Lompat ke isi

Margaret Hamilton

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Margaret Hamilton yang sedang berdiri di sebelah daftar perangkat lunak yang dikembangkan oleh dia dan tim MIT-nya untuk program antariksa Apollo.

Margaret Elaine Hamilton (lahir Margaret Elaine Heafield) adalah seorang ilmuwan komputer asal Amerika Serikat yang lahir pada 17 Agustus 1936. Ia merupakan direktur Divisi Rekayasa Perangkat Lunak di Laboratorium Instrumentasi MIT, yang mengembangkan perangkat lunak penerbangan on-board untuk program Apollo milik NASA. Hamilton mencetuskan istilah "rekayasa perangkat lunak" (software engineering).[1]

  • "There were many more men than women in our profession, and this is still the case. Regarding my own experiences, women were always in the minority and men were always in the majority. Before and during Apollo, my colleagues, including those on the software engineering team, for which I was responsible, were mostly male."
    • "Dalam profesi kami ada lebih banyak laki-laki daripada perempuan, dan hingga kini kasusnya masih sama. Terkait pengalamanku sendiri, perempuan delalu menjadi minoritas dan laki-laki menjadi mayoritas. Sebelum maupun sesudah Apollo, kolega-kolegaku, termasuk mereka dalam tim rekayasa perangkat lunak yang aku bawahi, kebanyakan laki-laki."
  • "One should not be afraid to say ‘I don’t know’ or  ‘I don’t understand,’ or to ask ‘dumb’ questions, since no question is a dumb question. To continue even when things appear to be impossible, even when the so called experts say it is impossible; to stand alone or to be different; and not to be afraid to be wrong or to make and admit mistakes, for only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly."
    • "Seseorang seharusnya tidak takut untuk berkata 'aku tidak tahu' atau 'aku tidak mengerti', atau menanyakan pertanyaan yang 'bodoh', karena tidak ada pertanyaan yang bodoh. Untuk terus berjalan bahkan ketika segalanya tampak mustahil, bahkan ketika orang-orang yang menyebut dirinya sebagai ahli mengatakan itu mustahil; untuk berdiri sendiri atau tampil berbeda; dan tidak takut akan kekeliruan atau membuat dan mengakui kesalahan, karena hanya mereka yang berani untuk gagal besar yang dapat mencapai kesuksesan besar."
  • "The very first languages I programmed in were hexadecimal and binary."
    • "Bahasa pertama yang saya gunakan untuk memrogram adalah heksadesimal dan biner."
  • "SAGE was one of the first jumping off points where I became interested in the subject of software reliability. When the computer crashed during the execution of your program, there was no hiding. Lights would be flashing, bells would be ringing and everyone, the developers and computer operators, would come running to find out whose program was doing something bad to the system."
    • "SAGE merupakan salah satu titik awal yang membuat saya tertarik pada topik keandalan perangkat lunak. Ketika komputer mengalami crash saat menjalankan program Anda, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Lampu akan berkedip, bel akan berbunyi, dan semua orang—para pengembang dan operator komputer—akan berlarian untuk mencari tahu program siapa yang merusak sistem."
  • "The only information the computer provided to the developer for debugging his program was to light up a very large register on the console of the computer, showing the address where the program halted."
    • "Satu-satunya informasi yang diberikan komputer kepada pengembang untuk melakukan debugging adalah menyalakan sebuah register yang sangat besar di konsol komputer, yang menunjukkan alamat tempat program berhenti."
  • "We concentrated on our work much more than whether one was male or female. We were more likely to notice if someone was a first floor or second floor person, a hardware or software guy, or what area someone was specializing in, e.g., man-machine interface, operating system, error detection and recovery, or in an application specific area."
    • "Kami jauh lebih fokus pada pekerjaan daripada pada apakah seseorang laki-laki atau perempuan. Kami lebih mungkin memperhatikan apakah seseorang berasal dari lantai satu atau lantai dua, orang perangkat keras atau perangkat lunak, atau bidang spesialisasi apa yang mereka tekuni, misalnya antarmuka manusia-mesin, sistem operasi, deteksi dan pemulihan kesalahan, atau bidang aplikasi tertentu."
  • "There was no choice but to be pioneers."
    • "Tidak ada pilihan selain menjadi para perintis."
  • "There was no school to attend or field to learn what today is known as 'software engineering' or 'systems engineering.' When answers could not be found, we had to invent them; we were designing things that had to work the first time, and our systems had to be ‘man-rated.’"
    • "Tidak ada sekolah untuk dikunjungi atau bidang studi untuk mempelajari apa yang kini dikenal sebagai 'rekayasa perangkat lunak' atau 'rekayasa sistem.' Ketika jawaban tidak dapat ditemukan, kami harus menciptakannya sendiri; kami merancang hal-hal yang harus berhasil sejak percobaan pertama, dan sistem kami harus 'layak untuk manusia.'"
  • "The greater the challenge, the more fun we had. And, yet, dedication and commitment were a given. There was no time to be a beginner. Learning was by being and doing, and a dramatic event would often dictate change."
    • "Semakin besar tantangannya, semakin besar pula kesenangan yang kami rasakan. Namun demikian, dedikasi dan komitmen sudah menjadi hal yang pasti. Tidak ada waktu untuk menjadi pemula. Proses belajar terjadi melalui keterlibatan langsung dan praktik, dan peristiwa dramatis sering kali menentukan perubahan."
  • "In the beginning, those of us who were software developers lived in our own world. We had our own culture. Non-software types were often reminded, sometimes in subtle ways, of that fact by the software people. We lived by and made up our own rules, not only because we wanted to, but because we had to."
    • "Pada awalnya, kami para pengembang perangkat lunak hidup dalam dunia kami sendiri. Kami memiliki budaya kami sendiri. Orang-orang non-perangkat lunak sering kali diingatkan—kadang dengan cara halus—akan hal tersebut oleh para pengembang perangkat lunak. Kami hidup dengan aturan kami sendiri dan menciptakannya, bukan hanya karena kami mau, tetapi karena kami harus."
  • "From a streetwise perspective, the more jobs a kid has, and the more varied they are, during his or her youth, the better prepared one is for going out into the world. When considering the formal part of a kid’s education, learning subjects like English and other languages, history and STEM, including how to use computers…this is important in preparing for all parts of our modern society."
    • "Dari sudut pandang pengalaman hidup, semakin banyak pekerjaan yang dijalani seorang anak, dan semakin beragam selama masa mudanya, semakin siap ia menghadapi dunia. Jika melihat aspek pendidikan formal, mempelajari mata pelajaran seperti bahasa Inggris dan bahasa lain, sejarah, serta STEM, termasuk cara menggunakan komputer, merupakan hal penting untuk mempersiapkan diri menghadapi seluruh aspek masyarakat modern."
  • "Software engineering related courses are important for all aspects of STEM including that of helping one to become more creative, a better problem solver—including being a good detective and how to understand the world in terms of a system of systems—to learn how to be analytical and objective, about abstraction, and how to think outside of the box. How to learn from your mistakes and turn that into a positive result can also be learned from software engineering related courses."
    • "Mata kuliah yang berkaitan dengan rekayasa perangkat lunak penting bagi seluruh aspek STEM, termasuk membantu seseorang menjadi lebih kreatif, pemecah masalah yang lebih baik—termasuk menjadi ‘detektif’ yang baik dan memahami dunia sebagai sebuah sistem dari berbagai sistem—serta belajar berpikir analitis dan objektif, memahami abstraksi, dan berpikir di luar kebiasaan. Cara belajar dari kesalahan dan mengubahnya menjadi hasil positif juga dapat dipelajari melalui mata kuliah rekayasa perangkat lunak."
  • "I believe it is also important to learn things like music, art, philosophy, linguistics, and math including logic; any of which could help improve one’s being an excellent programmer, problem solver, thinker and to have a more global perspective on things. The ultimate goal would be that of teaching one how to think (design)."
    • "Saya juga percaya bahwa penting untuk mempelajari hal-hal seperti musik, seni, filsafat, linguistik, dan matematika termasuk logika; semuanya dapat membantu seseorang menjadi programmer, pemecah masalah, dan pemikir yang unggul serta memiliki perspektif yang lebih global. Tujuan akhirnya adalah mengajarkan seseorang cara berpikir (merancang)."
  • "I would add that what seems to work best for me when I want to learn about anything new or to do anything new is not to let fear get in the way."[2]
    • "Saya ingin menambahkan bahwa hal yang paling berhasil bagi saya ketika ingin mempelajari sesuatu yang baru atau melakukan hal baru adalah tidak membiarkan rasa takut menghalangi."

"I have learned to always ask myself why and to foresee the unexpected."[3]

  • "Saya belajar untuk selalu bertanya pada diri sendiri mengapa dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak terduga."
  • "Women cannot be expected to solve the gender imbalance problem alone — especially on an individual-by-individual basis. Too often it is the symptoms of the problem that are being addressed by well-meaning efforts today, when the real problem has been and still is our culture. Things are still being done (and accepted as such) out of ignorance."[4]
    • "Para perempuan tidak dapat diharapkan untuk menyelesaikan masalah ketidakseimbangan gender sendirian—terutama atas dasar individu per individu. Terlalu sering gejala dari masalah itulah yang ditangani yang berupaya dan bermaksud baik, padahal masalah sebenarnya dan masih tetap menjadi budaya kita. Berbagai hal masih dilakukan (dan diterima demikian) karena ketidaktahuan."
  • "Software eventually and necessarily gained the same respect as any other discipline."[5]
    • "Pada akhirnya, dan sudah sewajarnya, perangkat lunak memperoleh rasa hormat yang sama seperti disiplin ilmu lainnya."
  • "I hope that we continue with exploration."
    • "Saya berharap kita terus melanjutkan penjelajahan."
  • "Looking back, we were the luckiest people in the world."
    • "Jika melihat ke belakang, kami adalah orang-orang paling beruntung di dunia."
  • "We had been told many times that astronauts would not make any mistakes. They were trained to be perfect.”
    • "Kami telah berkali-kali diberi tahu bahwa para astronot tidak boleh melakukan kesalahan. Mereka dilatih untuk menjadi sempurna."
  • "Apollo 8 comes a close second, if not equal to Apollo 11 for the most exciting, memorable moments on the Apollo project."
    • "Apollo 8 menempati posisi kedua yang sangat dekat, jika tidak setara dengan Apollo 11 dalam hal momen paling mendebarkan dan berkesan dalam proyek Apollo."
  • "I worked on all of the Apollo manned missions and a couple of Apollo unmanned missions."
    • "Saya bekerja pada seluruh misi Apollo berawak serta beberapa misi Apollo tak berawak."
  • "It is always great when people take interest in your work."[6]
    • "Selalu menyenangkan ketika orang-orang menaruh minat pada pekerjaan Anda."
  • "Code is the poetry of logical inheritance."[7]
    • "Kode adalah puisi dari pewarisan logis."
  • "Computer science and software engineering were not yet disciplines; instead, programmers learned on the job."
    • "Ilmu komputer dan rekayasa perangkat lunak belum menjadi disiplin ilmu; para programmer justru belajar langsung di tempat kerja."
  • "I was fortunate to have a very modern husband. There were some men who understood equality."
    • "Saya beruntung memiliki suami yang sangat modern. Ada beberapa pria yang memahami kesetaraan."
  • "I was the first programmer to join and the first woman they hired. Male engineers were already working on the project, but they were hardware engineers and it wasn’t their thing. I had it as my background. I think [the lab] just figured that I could handle the unknown."
    • "Saya adalah programmer pertama yang bergabung dan perempuan pertama yang mereka rekrut. Para insinyur laki-laki sudah bekerja dalam proyek tersebut, tetapi mereka adalah insinyur perangkat keras dan itu bukan bidang mereka. Saya memiliki latar belakang di bidang itu. Saya rasa [laboratorium tersebut] menganggap bahwa saya mampu menangani hal-hal yang belum diketahui."
  • "Our task included developing the software to run on each and the systems software they shared. At the beginning, nobody thought software was that big a deal. But then they began to realise how much they were relying on it."
    • "Tugas kami mencakup pengembangan perangkat lunak yang dijalankan pada masing-masing sistem serta perangkat lunak sistem yang digunakan bersama. Pada awalnya, tidak ada yang menganggap perangkat lunak sebagai sesuatu yang sangat penting. Namun kemudian mereka mulai menyadari betapa besar ketergantungan mereka padanya."
  • "Programming was never considered to be women’s work, at least not in any of the many projects I have been involved with. Human computers who did calculations by hand, were mostly all women and there were women who used calculating machines – like the Marchant machines – but they weren’t programmers. They didn’t write software."
    • "Pemrograman tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan perempuan, setidaknya tidak dalam proyek-proyek yang pernah saya ikuti. Komputer manusia yang melakukan perhitungan secara manual, sebagian besar adalah perempuan, dan ada pula perempuan yang menggunakan mesin hitung seperti mesin Marchant tetapi mereka bukan programmer. Mereka tidak menulis perangkat lunak."
  • "The process of building software should also be considered an engineering discipline, just like with hardware."
    • "Proses pembuatan perangkat lunak juga seharusnya dipandang sebagai disiplin rekayasa, sama seperti perangkat keras."
  • "We’ve recently seen systems where a plane crashed and the pilot had no idea what was going on. It’s a good idea for the pilot to know what their options are! Also, what became apparent with Apollo – though it is not how it worked – is that it is better to define your system up front to minimise errors, rather than producing a bunch of code that then has to be corrected with patches on patches. It’s a message that seems to have gone unheeded – in this respect, software today is still built the way it was 50 years ago."[8]
    • "Belakangan ini kita melihat sistem di mana sebuah pesawat jatuh dan pilotnya sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Akan lebih baik jika pilot mengetahui pilihan-pilihan yang tersedia bagi mereka. Selain itu, yang menjadi jelas melalui Apollo—meskipun bukan demikian cara kerjanya—adalah bahwa lebih baik mendefinisikan sistem sejak awal untuk meminimalkan kesalahan, daripada menghasilkan tumpukan kode yang kemudian harus diperbaiki dengan tambalan demi tambalan. Pesan ini tampaknya tidak diindahkan; dalam hal ini, perangkat lunak masa kini masih dibangun dengan cara yang sama seperti lima puluh tahun lalu."
  • "One of the best things I ever did. I hadn’t really been near a computer before."
    • "Salah satu hal terbaik yang pernah saya lakukan. Sebelumnya saya benar-benar belum pernah dekat dengan komputer."
  • "The way we got smarter was to make a mistake and learn from it, acknowledge it, and say, 'That’s not gonna happen again.'"
    • "Cara kami menjadi lebih cerdas adalah dengan membuat kesalahan dan belajar darinya, mengakuinya, lalu berkata, 'Hal itu tidak akan terjadi lagi.'"
  • "If it didn’t work a person’s life was at stake, if not over. That was always uppermost in my mind and probably many others as well."[9]
    • "Jika tidak berhasil, nyawa seseorang dipertaruhkan, bahkan bisa berakhir. Hal itu selalu menjadi yang paling utama dalam pikiran saya, dan kemungkinan juga dalam pikiran banyak orang lainnya."

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Cameron, Lori (2018-10-05). "First Software Engineer". IEEE Computer Society (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  2. Creighton, Jolene (2016-07-20). "Margaret Hamilton: The Untold Story of the Woman Who Took Us to the Moon". Futurism (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-28.
  3. "Margaret Hamilton: "I have learned to always ask myself why and to foresee the unexpected"". UPC Universitat Politècnica de Catalunya (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-01.
  4. "Q&A: Margaret Hamilton, Who Landed the First Man (and Code) on the Moon". David W. Brown (dalam bahasa American English). 2017-08-15. Diakses tanggal 2025-12-01.
  5. Cameron, Lori (2018-10-05). "First Software Engineer". IEEE Computer Society (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  6. "Margaret H. Hamilton Quotes". BrainyQuote (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-28.
  7. Elizabeth (2025-12-22). "Quotes About Standing on the Shoulders of Giants". AI GIFT Alibaba (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-28.
  8. Corbyn, Zoë (2019-07-13). Margaret Hamilton: ‘They worried that the men might rebel. They didn’t’ (dalam bahasa Inggris (Britania)). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Cassel, David (2022-03-20). "Margaret Hamilton Recalls Her Life as a Programming Pioneer". The New Stack (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-28.