M.P. Lambut
Tampilan
Malkianus Paul Lambut (lahir 5 Desember 1931) adalah akademisi dan Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “Saya sejak kecil mengkonsumsi ikan sungai dan sayuran yang tumbuh di alam sekitar kami. Jadi kami tidak memelihara ikan, juga tidak menanam sayuran. Semua sudah ada berkat dari Alam, dari Bumi itu semua dari Tuhan.”
- “Nah saya sebagai pengajar ya pekerjaan saya mengajar saja. Itu tugas saya melayani!”[1]
Pertemuan dengan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalsel (14/6/2023)
[sunting | sunting sumber]- “Kalau misal saya tidak punya beras di rumah, saya tinggal jalan kaki, tidak lama pasti ada murid yang menegur, kalau saya katakan bahwa perlu beras, rasanya mereka pasti membatu”,[2]
- Banjar itu masyarakat sungai, bukan masyarakat darat.
- Karakter masyarakat sungai itu menerima apa dan siapapun yang datang. Tidak pernah menolak. Berbeda dengan orang darat yang bisa dan mudah menolak orang lain. Dada dan tangan masyarakat sungai selalu terbuka untuk semua orang yang datang.
- “Banjar tidak pernah menolak suku atau agama apapun yang datang. Semua suku dan agama ada, mulai Dayak Biaju hingga Arab, Tionghoa dan lain sebagainya. Tidak pernah ada konflik atas nama suku atau agama di sini,”
- Bagaimana mungkin kantor Gereja Dayak yang kemudian menjadi GKE, bisa berada di tengah kota? Hal itu terjadi, karena orang Banjar menganggap orang Dayak sebagai dingsanak. Sering dulu terungkap oleh orang Banjar, bahwa Karistin Biaju itu Dingsanak kami, karena itu saya tidak ada rasa khawatir, was-was atau merasa tidak aman berada di tengah-tengah orang Banjar.
- Biaju adalah orang pedalaman di hulu Kapuas yang tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan apapun, seorang yang bodoh lagi buta huruf dan itulah saya.
- “Kalau dulu saya tidak pergi ke sini untuk merantau dan sekolah, entah jadi apa saya di hulu Kapuas sana,”
- Bagaimana mungkin STT GKE, sekolah yang mencetak para pendeta, bisa berada di tengah kota, sedangkan IAIN di pinggir kota? Semua itu karena kecintaan dan rasa persaudaraan orang Banjar kepada orang Dayak.
- Ketika masa kanak-kanak, orang Belanda tahun 1946, di Teluk Dalam, membuat satu kawasan pemandian bagi Belanda. Pada kawasan tersebut ditulis “verboden voor honden en Dayaks”, anjing dan Dayak dilarang masuk.
- “Tahukah Anda, siapa Dayak itu? Dayak itu adalah saya. Tapi kemudian orang Banjar mengangkat kami dan sangat menghormati.”
- “Begitu juga ketika saya ingin beribadah ke salah satu gereja di tengah kota, karena saya Dayak, ternyata ditolak, tapi kemudian orang Banjar, bukan hanya mengijinkan, tapi juga turut andil mendirikan gereja dan kantor dari gereja tersebut,”
- Tidak akan ditemui di tempat lain, di mana kampung Karistin bersebelahan dengan kampung Arab, dan tidak pernah ada konflik sedikit pun. Justru yang terjadi kampung Arab berkelahi dengan kampung Bugis. Menggambarkan bahwa konflik agama tidak pernah terjadi, semua saling menghormati, hal itu disebabkan karena orang Banjar menganggap orang Kristen sebagai saudaranya.
- Jangan sampai cerita-cerita tersebut hilang karena tidak diketahui oleh generasi selanjutnya. Sebab cerita itu memberikan gambaran bahwa persaudaraan antara Dayak, Kristen, Banjar dan Islam, sangatlah kuat di daerah ini. Tidak mungkin diganggu atau diprovokasi oleh siapapun, sebab kita badingsanak,”[3]
Seminar Nasional Jejak Langkah Pengabdian Ir Pangeran Mohammad (PM)
[sunting | sunting sumber]- "Mengapa Kalteng seakan Kerajaan Malaysia? Karena perkebunan kelapa sawit di `Bumi Isen Mulang` itu dari orang-orang Malaysia,"
- "Semestinya, kehadiran perusahaan asing justru meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat, terlebih bagi penduduk asli,"[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Wulandari, Cornelia Endah (2019-04-24). Pranoto, Naning (ed.). "Prof. M.P. Lambut, Ems: Putra Kapuas Pembawa Pesan Damai". Warior. Diakses tanggal 2025-12-29.
- ↑ jejakrekam (2023-06-16). "Cerita Prof MP Lambut; Persaudaran Dayak Kristen dan Masyarakat Banjar Islam". jejakrekam.com. Diakses tanggal 2025-12-29.
- ↑ Majid, Noorhalis (2023-06-15). "MP LAMBUT BERKISAH TENTANG DAYAK, KRISTEN, BANJAR, DAN ISLAM". asyikasyik.com. Diakses tanggal 2025-12-29.
- ↑ Hasan, Syamsuddin (9 November 2015). Hanafi, Imam (ed.). "Prof Lambut: Kalteng Jadi "Kerajaan Malaysia"". ANTARA News Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 2025-12-29.
Pranala Luar
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |